Inggris Siapkan 'Rencana Tahan Panas' untuk Rebut Piala Dunia 2026

Timnas Inggris menyiapkan strategi tahan panas menghadapi cuaca ekstrem di Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko, demi misi menambah bintang kedua.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 10 November 2025, 16:15 WIB
Gelandang Timnas Inggris, Declan Rice, enggan merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Republik Irlandia dalam laga Grup 2 Liga B UEFA Nations League 2024/2025 di Aviva Stadium, Dublin, Minggu (8/9/2024) dini hari WIB. (PAUL FAITH / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Timnas Inggris mulai merancang strategi khusus menghadapi Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Cuaca panas dan kelembapan tinggi menjadi perhatian utama tim pelatih yang kini dipimpin Thomas Tuchel bersama asisten utamanya, Anthony Barry. Keduanya tengah mengembangkan model permainan tahan panas agar Inggris tetap kompetitif di kondisi ekstrem musim panas Amerika Utara.

Barry menilai Piala Dunia mendatang tidak akan menjadi turnamen dengan permainan indah, melainkan momen penting, di mana koneksi antarpemain dan mentalitas menghadapi tantangan akan menjadi faktor penentu.

“Dalam kondisi cuaca panas seperti itu, yang akan menang adalah tim yang mampu bertahan dan bekerja bersama,” ujarnya.

Dengan dua laga kualifikasi tersisa melawan Serbia dan Albania, Inggris telah memastikan tiket ke putaran final. Fokus kini bergeser pada persiapan jangka panjang, termasuk mengadaptasi pelajaran dari pengalaman Chelsea saat menjuarai Club World Cup di Amerika Serikat.


Membangun Model Permainan Tahan Panas

Selebrasi striker Timnas Inggris, Harry Kane (kiri) bersama rekannya, Jude Bellingham setelah mencetak gol kedua timnya ke gawang Timnas Slovakia pada laga babak 16 besar Euro 2024 di Arena AufSchalke, Gelsenkirchen, Jerman, Minggu (30/6/2024). (AP Photo/Thanassis Stavrakis)

Tuchel dan Barry memandang pengalaman di ajang tersebut sebagai acuan penting. “Suhu di sana sangat tinggi, dan kondisi latihan sangat tidak bersahabat,” ungkap Tuchel sebelumnya.

Dari situ, staf kepelatihan Inggris mulai mempelajari pola permainan yang efektif di iklim ekstrem, dengan bantuan tim analis yang mengamati performa klub-klub Eropa di kompetisi serupa.

Selain cuaca, tantangan terbesar Inggris adalah jarak perjalanan antarnegara. Tidak seperti di Qatar 2022 yang seluruh pertandingan berlangsung di sekitar Doha, Inggris tahun depan akan menempuh penerbangan lintas benua.

Barry menyebut, perjalanan panjang dan jadwal padat akan menguji ketahanan fisik dan mental tim. “Delapan pertandingan di panas ekstrem akan menuntut kesiapan kolektif,” katanya.

Barry menekankan pentingnya mental berani menghadapi segala situasi dalam menyambut rintangan, dari cuaca, perjalanan, hingga perubahan waktu. “Tim yang siap menderita bersama akan menjadi juara dunia,” ujarnya menegaskan.


Koneksi, Identitas, dan Filosofi Tuchel

Manajer Timnas Inggris Thomas Tuchel (paling kiri) pada laga kontra Serbia di mana Tiga Singa menang 5-0. (OLIVER BUNIC / AFP)

Tuchel dan Barry kini menekankan pembangunan koneksi dan identitas tim sebagai fondasi utama. Menurut Barry, faktor terpenting dalam kesuksesan tim nasional adalah rasa keterikatan antar pemain, bukan sekadar sistem permainan.

Lanjut Baca:

“Koneksi adalah bahan bakar utama. Di level internasional, itu lebih penting daripada taktik klub mana pun,” tuturnya. Dalam beberapa pemusatan latihan terakhir, fokus Inggris adalah membentuk atmosfer positif dan karakter kolektif yang kuat. Tema yang diusung selama kamp latihan September hingga November adalah memperlihatkan identitas “Team England” kepada publik. Pelatih juga menyoroti perubahan tren sepak bola modern yang semakin cepat dan intens. Inggris ingin memanfaatkan 50 hari waktu efektif latihan menuju turnamen untuk mengasah taktik kompleks namun mudah dipahami pemain. “Tugas kami adalah membuat yang rumit menjadi jelas. Dari ide, menjadi pengetahuan, hingga eksekusi,” jelas Barry.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya