Liputan6.com, Jakarta - Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahi 10 tokoh yang dianggap berjasa bagi bangsa dan negara semasa hidupnya sebagai pahlawan nasional. Salah satunya adalah Sultan Muhammad Salahuddin.
Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai pemimpin bijak, sederhana, dan taat beragama. Ia merupakan Raja Kerajaan Bima ke-38 sekaligus Sultan Bima ke-14 yang memerintah sejak 1917 hingga 1951 Masehi.
Advertisement
Lahir di Bima pada 14 Juli 1888 dari pasangan Sultan Ibrahim dan Siti Fatimah, Sultan Salahuddin telah dipersiapkan sebagai penerus tahta sejak kecil. Pada usia 11 tahun, ia diangkat sebagai Putra Mahkota (Jena Teke) dan disetujui pemerintah Hindia Belanda melalui akta resmi tahun 1899.
Karier kepemimpinannya dimulai ketika diangkat menjadi Jeneli Donggo (Camat Donggo) tahun 1908, lalu menjadi Raja Muda Bima. Setelah ayahandanya wafat, ia dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar “Sultan Haworo Niru Ruma Sangaji Sadana Mbojo”, yang berarti sultan yang menjadi teladan rakyat Bima. Pengangkatannya dikukuhkan oleh Residen Timor pada 3 Juli 1917 dan disahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 11 Oktober 1917.
Ia dikenal sebagai tokoh Islam nasional yang rendah hati, jujur, dan terbuka terhadap kritik. Ia jarang mengenakan atribut kebesaran dan hidup sederhana di tengah rakyat dan Wafat di Jakarta pada 11 Juli 1951 dalam usia 63 tahun.
Sultan Pembaharu
Dilansir dari laman Antara, Sultan Muhammad Salahuddin tak hanya dikenal sebagai raja, tetapi juga pendidik dan pembaharu sosial yang pemikirannya jauh melampaui zamannya. Ia meyakini bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak diukur dari luas wilayah atau besarnya kekuasaan, melainkan dari kecerdasan dan kemandirian rakyatnya.
Pada masa kolonial, ketika pendidikan masih menjadi hak istimewa kaum bangsawan, Sultan Salahuddin membuka sekolah umum dan madrasah agama dengan biaya pribadinya. Ia bahkan memberikan beasiswa kepada anak-anak miskin agar dapat bersekolah. Langkah visioner itu menjadikan Bima sebagai salah satu wilayah dengan tingkat literasi tertinggi di Indonesia bagian timur kala itu.
Dalam bidang keagamaan, Sultan juga melakukan pembaruan pendidikan Islam dengan memperluas akses pengajaran kitab agar dapat dipelajari masyarakat umum, bukan hanya kalangan istana. Baginya, ilmu dan iman harus berjalan beriringan. Ia ingin rakyat Bima tidak hanya taat beragama, tetapi juga cerdas dan mandiri.
Sultan Salahuddin juga dikenal terbuka terhadap perubahan dan pergerakan nasional. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan serta menolak keras kembalinya Belanda melalui NICA setelah proklamasi kemerdekaan. Sikap tegas itu menarik perhatian nasional hingga Presiden Soekarno datang langsung ke Bima untuk menyampaikan rasa terima kasih atas keteguhan sang Sultan membela Republik Indonesia.
Dari perjuangan dan pemikirannya, tergambar sosok pemimpin daerah yang bukan hanya setia pada negara, tetapi juga memahami makna strategis kemerdekaan: bahwa Indonesia harus berdiri di atas kedaulatan dan kecerdasan rakyatnya sendiri.
Alasan Diberi Gelar Pahlawan
1. Tolak Kembali ke Pangkuan Belanda
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Sultan Muhammad Salahuddin menjadi salah satu penguasa daerah pertama di Indonesia Timur yang menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia.
Ia menolak bujukan Belanda yang berusaha membentuk kembali kekuasaan kolonial di Bima dan sekitarnya. Langkahnya ini sangat penting karena saat itu banyak wilayah di Indonesia Timur masih dikuasai atau dihasut oleh pihak Belanda untuk tidak bergabung dengan RI.
2. Mengintegrasikan Kesultanan Bima ke dalam NKRI
Pada masa pascakemerdekaan, Sultan Salahuddin secara sukarela meleburkan Kesultanan Bima ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyerahkan kekuasaan administratif dan politik kepada pemerintah Republik tanpa pertumpahan darah.
Tindakan ini menunjukkan jiwa nasionalisme dan keikhlasan untuk mengutamakan kepentingan bangsa daripada kekuasaan pribadi.
3. Membina Persatuan dan Perdamaian di Wilayah Timur
Sebagai pemimpin daerah yang disegani, Sultan Salahuddin berperan besar dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan perdamaian di Nusa Tenggara Barat, khususnya Bima, Dompu, dan sekitarnya.
Ia menggunakan pengaruhnya untuk meredam potensi konflik dan mempersatukan rakyat di masa sulit setelah kemerdekaan.
4. Dikenang sebagai Pemimpin yang Rendah Hati dan Berjiwa Rakyat
Dalam banyak kesaksian sejarah, Sultan Salahuddin digambarkan sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan rakyat.
Ia tidak memisahkan diri dari rakyat kecil dan menolak gaya hidup mewah. Kepemimpinannya mencerminkan semangat pengabdian dan kebangsaan, bukan kekuasaan.