Arsenal Butuh Napas: Jeda Internasional Datang di Waktu yang Tepat untuk Arteta dan Skuad

Setelah hasil imbang 2-2 di markas Sunderland, Arsenal mendapat jeda dua pekan yang ideal untuk memulihkan kondisi skuad dan menyiapkan diri menghadapi Tottenham.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 09 November 2025, 16:55 WIB
Pemain Arsenal, Bukayo Saka (tengah), berebut bola dengan pemain Sunderland, Granit Xhaka (kiri), dan Lutsharel Geertruida dalam pertandingan Liga Inggris di Stadium of Light, Inggris, Minggu (9/11/2025). (Owen Humphreys/PA via AP)

Liputan6.com, Jakarta Arsenal menutup pekan Premier League dengan hasil imbang 2-2 di markas Sunderland, laga yang seharusnya bisa mereka menangkan.

Namun, di balik hasil tersebut, ada sisi positif yang tak bisa diabaikan, jeda internasional dua pekan ke depan datang di saat yang paling dibutuhkan Mikel Arteta dan timnya.

The Gunners sebenarnya tampil dominan dan menunjukkan karakter tim calon juara. Mereka bangkit dari ketertinggalan melalui gol Bukayo Saka dan Leandro Trossard, namun dua kesalahan bertahan membuat kemenangan di depan mata sirna.

Brian Brobbey mencetak gol penyeimbang di masa tambahan waktu, menutup laga dengan hasil yang terasa pahit.

Namun, alih-alih terjebak dalam frustrasi, Arteta memilih untuk menatap ke depan. Bagi Arsenal, jeda ini bukan jeda evaluasi besar, melainkan kesempatan langka untuk bernapas setelah melewati jadwal yang padat dan penuh tekanan sejak awal musim.


Skuad yang Tergerus Cedera, Tapi Tetap Kompetitif

Pemain Arsenal, Mikel Merino (tengah), berebut bola dengan pemain Sunderland, Enzo Le Fee (kiri) dan Noah Sadiki, dalam pertandingan Liga Inggris di Stadium of Light, Inggris, Minggu (9/11/2025). (Richard Sellers/PA via AP)

Salah satu alasan utama mengapa jeda ini sangat berarti adalah daftar cedera panjang yang menimpa Arsenal.

Di Sunderland, Arteta tidak bisa menurunkan tujuh pemain utama, enam di antaranya adalah pemain lini depan: Kai Havertz, Martin Odegaard, Noni Madueke, Gabriel Martinelli, Viktor Gyokeres, dan Gabriel Jesus.

“Pilihan kami sangat terbatas, terutama di lini depan,” ujar Arteta usai laga. “Namun musim memang berjalan seperti ini. Para pemain itu sudah absen hampir dua bulan dan kami tetap tampil baik, jadi saya bangga dengan tim ini.”

Fakta bahwa Arsenal masih berada di puncak klasemen Premier League meski tanpa sejumlah bintangnya menunjukkan ketahanan luar biasa. Di klub lain, daftar cedera seperti ini mungkin menjadi bencana.

Meski begitu, Arsenal tetap tangguh, bahkan hanya menelan satu kekalahan dari 17 laga di semua kompetisi musim ini.


Performa Konsisten, Tapi Stamina Mulai Tergerus

Pertandingan ketat antara Arsenal kontra Sunderland di ajang Liga Inggris. (Oli SCARFF / AFP)

Sejak jeda internasional Oktober lalu, Arsenal mencatat enam kemenangan dan satu hasil imbang dari tujuh laga di semua ajang.

Mereka juga mencetak rekor klub dengan delapan clean sheet beruntun, sesuatu yang terakhir kali terjadi 122 tahun silam. Gol Sunderland dari Dan Ballard menjadi kebobolan pertama mereka setelah 812 menit.

Lanjut Baca:

Namun, intensitas tinggi itu mulai terlihat berdampak. Di Stadium of Light, Arteta hanya melakukan satu pergantian pemain sepanjang 100 menit pertandingan, Eberechi Eze digantikan Cristhian Mosquera di menit ke-88. Banyak yang bertanya, mengapa pelatih tak menurunkan tenaga segar seperti Ben White, Piero Hincapie, atau Ethan Nwaneri? Jawabannya sederhana, bahwa Arteta tahu timnya sudah mencapai batas fisik, dan ia memilih bertahan dengan komposisi yang sudah kompak. Keputusan itu akhirnya berbuah kehilangan dua poin, tapi juga memperlihatkan keterbatasan skuad di fase kritis ini. Arsenal seperti tim yang kehabisan tenaga di lima menit terakhir, namun masih berjuang sampai peluit panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya