Viral, Penyanyi Berbasis AI di AS Kantongi Kontrak Senilai Rp48 Miliar

Bagaimana AI dapat menjadi penyanyi hingga meraup keuntungan dari kontrak industri musik?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 10 November 2025, 08:05 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence. (Dok. tungnguyen0905/Pixabay)

Liputan6.com, Washington, D.C - Kehebatan teknologi pada zaman sekarang selalu menghasilkan ciptaan di luar dugaan. Kecanggihan AI di Amerika Serikat justru dapat menciptakan penyanyi digital yang menjadi artis AI pertama berhasil debut di Billboard.

Xania Monet, penyanyi AI ini diciptakan oleh penyair dan penulis lagu asal Mississippi, Telisha "Nikki" Jones, dengan lagu berirama R&B yang juga dibantu oleh sebuah platform populer penghasil musik berbasis AI yaitu Suno, dikutip dari laman Oddity Central, Senin (10/11/2025).

Lagu yang dibawa oleh Xania terinspirasi dari pengalaman hidup ke dunia. Romel Murphy, manajer Xania, mengatakan kepada CNN bahwa AI dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan seni mereka.

Lirik yang dihasilkan juga menyesuaikan dengan era saat ini, yaitu musik R&B, yang menyampaikan pesan atau makna kepada dunia dengan mudah.

Meski begitu, seni dan pesan dari lagu itu sepenuhnya tetap berasal dari manusia. Seperti lagu "How Was Supposed to Know" awalnya viral di Tiktok sebelum menyebar ke platform lain dan akhirnya masuk ke dalam bagian lagu R&B Billboard.

Selama empat bulan sejak debut perdananya, ia merilis 44 lagu di Spotify dan mendapatkan sekitar 1,2 juta pengikut di platform tersebut, serta hampir 800.000 pengikut lainnya di media sosial.

Ketenaran Xania semakin meroket hingga menarik perhatian perusahaan rekaman Hallwood Media. Eksekutif mereka menandatangani kontrak dengannya dan seniman manusia di balik avatar AI ini, senilai 3 juta dolar (sekitar Rp48 miliar).

 

Ketakutan untuk Industri Musik

ciri ciri musik kontemporer ©Ilustrasi dibuat AI

Dari viralnya ciptaan Jones, ia mengatakan bahwa kehadiran AI ini memberikan kesempatan untuk mengasah bakat dan menekuni industri musik yang merupakan salah satu profesinya.

"Saya hanya mengambil apa yang saya sukai dan memadukannya dengan teknologi. Saya merasa jika AI ini adalah era baru yang kita jalani, sebuah alat dan instrumen yang dapat saya manfaatkan," ucapnya.

Sayangnya, kegunaan AI yang dimaanfatkan untuk mendukung pekerjaan ini menuai berbagai pandangan kepadanya.

Beberapa seniman khawatir mereka akan digantikan oleh model kecerdasan buatan, karena dapat menghasilkan konten dengan kecepatan yang tak tertandingi.

Semakin lama menggunakan AI untuk industri musik, layanan streaming dan label rekaman akan mulai berfokus dan berinvestasi lebih banyak pada AI daripada bakat manusia.

Sehingga hal ini menimbulkan seruan untuk mendapatkan undang-undang yang melindungi hak-hak musisi sejati, yang masih menunggu keputusan.

Meski banyak kritik yang dihadapi Jones, ia mengaku bukan penyanyi dan mengandalkan Suno untuk menghidupkan puisinya secara musikal, yang membuatnya tidak terpengaruh terhadap kritik tersebut.

Tetapi, ia kembali mengingatkan bahwa AI bagi mereka hanya alat bantu dan dirinya adalah seniman sesungguhnya di balik proyek ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya