Bagaimana Reaksi Andriy Shevchenko Dengar Kabar AC Milan Bakal Pindah dari San Siro?

Langkah besar akhirnya diambil dua raksasa Serie A, AC Milan dan Inter Milan. Setelah bertahun-tahun wacana dan perdebatan, kepindahan dari Stadion San Siro kini benar-benar akan menjadi kenyataan.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 07 November 2025, 13:35 WIB
Pemandangan umum (a general view) menunjukkan Stadion San Siro yang kosong menjelang pertandingan sepak bola Serie A Italia antara Inter Milan dan Empoli di Milan, pada 1 April 2024. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Langkah besar akhirnya diambil dua raksasa Serie A, AC Milan dan Inter Milan. Setelah bertahun-tahun wacana dan perdebatan, kepindahan dari Stadion San Siro kini benar-benar akan menjadi kenyataan. Sebuah keputusan yang bisa dibilang terlambat, namun tetap krusial demi masa depan sepak bola Milan dan Italia.

San Siro, yang dibangun hampir satu abad lalu, memang memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar sepak bola dunia. Atmosfer megah, sejarah panjang, dan kenangan dari deretan laga besar membuatnya menjadi ikon yang sulit tergantikan.

Namun, seiring berjalannya waktu, usia stadion legendaris itu mulai menampakkan batasnya. Infrastruktur yang menua dan fasilitas yang tak lagi memenuhi standar modern menjadi alasan utama mengapa langkah ini tak bisa ditunda lebih lama.


Bangun Stadion Baru

Pemandangan umum (a general view) stadion sebelum pertandingan matchday kedua Phase League Liga Champions antara Inter Milan dan Slavia Praha di Stadion San Siro, Milan, pada 30 September 2025. (Stefano RELLANDINI/AFP)

Puncak urgensi ini datang setelah UEFA mencabut hak Milano sebagai tuan rumah final Liga Champions 2027. Keputusan itu seolah menjadi sinyal kuat bahwa pembaruan tak lagi bisa ditawar.

Kini, setelah kesepakatan awal disetujui dan pembayaran pertama dilakukan, proyek stadion baru Milan dan Inter resmi bergerak ke tahap berikutnya.

Meski belum ada desain final, pembahasan awal sudah dimulai, dengan target penyelesaian pada 2032. Bagi banyak pihak, langkah ini bukan sekadar soal fasilitas baru, tapi juga tentang menjaga warisan sejarah yang begitu dalam.


Reaksi Shevchenko

Andriy Shevchenko. Dengan mencetak 24 gol pada musim 2003/2004 striker AC Milan ini menjadi top Skor Liga Italia mengungguli Alberto Gilardino (Parma) yang mencetak 23 gol. Ia juga membawa AC Milan menjuarai Liga Italia pada musim tersebut, mengungguli AS Roma dan Juventus. (AFP/Philippe Desmazes)

Legenda AC Milan, Andriy Shevchenko, yang pernah mengukir banyak kenangan di San Siro, turut memberikan pandangannya.

“Bermain di San Siro selalu penuh emosi dan tantangan," ujar Shevchenko kepada BBC, dikutip dari MilanNews.

"Saya pertama kali merasakannya saat berusia 14 tahun, ketika bermain di turnamen bersama Dynamo Kyiv. Sejak pertama kali melangkah ke dalamnya, saya tahu ini tempat yang spesial."


Dukungan Shevchenko

Andriy Shevchenko memenangkan penghargaan Ballon d'Or usai membawa AC Milan meraih gelar Liga Italia dan Super Coppa Italia pada musim 2003/2004. Ia juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di Serie A. Saat itu, nilai transfernya masih mencapai 25,2 juta euro. (AFP/Paco Serinelli)

Namun, sang legenda juga mendukung langkah pembaruan ini. “Saya mencintai San Siro, tapi ini adalah langkah penting untuk masa depan AC Milan dan sepak bola Italia,"

"Selama desainnya menghormati tradisi dan para legenda yang bermain di sana, saya yakin warisannya tak akan hilang. Tak ada yang abadi, dan kita bisa membuat sesuatu yang baru tanpa kehilangan makna.”

San Siro mungkin akan segera berpamitan, namun warisan dan magisnya akan terus hidup dalam sejarah, sementara Milan dan Inter bersiap membuka babak baru yang lebih modern dan ambisius.

Sumber: BBC


Klasemen Serie A 2025/2026

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya