Israel Lancarkan Serangan Udara Besar-besaran ke Lebanon Selatan, Satu Orang Tewas dan Sembilan Terluka

Jet-jet tempur Israel menyerang Kota Kfar Dounine, Tayr Debba, dan Zawtar al-Sharqiya, sekitar satu jam setelah mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 November 2025, 08:25 WIB
Salah satu serangan udara Israel menghantam kompleks pabrik semen di Desa Ansar, dekat Doueir, Lebanon selatan. (AP Photo/Mohammad Zaatari)

Liputan6.com, Beirut - Sedikitnya satu orang tewas dan sembilan lainnya terluka dalam serangkaian serangan udara Israel ke Lebanon selatan pada Kamis (6/11/2025). Pemerintah Lebanon dan kelompok Hizbullah menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang telah berlaku selama satu tahun.

Militer Israel menyatakan bahwa mereka menargetkan instalasi militer milik Hizbullah, dengan menuduh kelompok itu menolak untuk melucuti senjata sesuai perjanjian yang dicapai tahun lalu. Israel diketahui telah melakukan serangan hampir setiap hari meski gencatan senjata masih berlaku. Sementara itu, Hizbullah menegaskan tetap berkomitmen pada perjanjian tersebut, namun menolak melucuti senjata selama Israel terus menyerang wilayah Lebanon.

"Apa yang dilakukan Israel hari ini di Lebanon selatan merupakan kejahatan penuh di bawah hukum humaniter internasional, yang mengkriminalisasi penargetan, teror, dan pemindahan paksa warga sipil," ujar Presiden Lebanon Joseph Aoun seperti dilansir Al Jazeera.

"Hampir setahun telah berlalu sejak gencatan senjata diberlakukan dan selama itu Israel tidak pernah berhenti menunjukkan penolakannya terhadap setiap penyelesaian yang dinegosiasikan antara kedua negara."

Serangan besar-besaran pada Kamis terjadi tidak lama setelah serangan terpisah oleh Israel yang menargetkan Distrik Tyre di Lebanon selatan. 

Badan Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa seorang pria Lebanon tewas dan delapan lainnya terluka di Kota Toura, tempat jet tempur Israel menyerang area permukiman. Seorang pria lainnya terluka di Tayr Debba, yang juga berada di Distrik Tyre.

Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, mengatakan bahwa serangan-serangan Israel mengancam keselamatan warga sipil dan melemahkan upaya militer Lebanon untuk menegakkan kendali atas senjata dan infrastruktur yang tidak sah di Lebanon selatan, yang kemungkinan merujuk pada Hizbullah.

Amerika Serikat (AS) telah menekan Lebanon agar lebih giat melucuti Hizbullah, namun sejauh ini tidak banyak melakukan langkah untuk menahan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

"Setiap aksi militer, terutama dalam skala destruktif seperti ini, mengancam keselamatan warga sipil dan merusak kemajuan menuju solusi politik dan diplomatik," kata UNIFIL.

Serangan-serangan ini terjadi di saat Hizbullah mengeluarkan penolakan tegas terhadap setiap negosiasi politik dengan Israel, dengan menyebut bahwa pembicaraan semacam itu tidak akan melayani kepentingan nasional. 

"Kami menegaskan kembali hak sah kami untuk membela diri dari musuh yang memaksakan perang terhadap negara kami dan tidak berhenti melakukan serangan," kata Hizbullah, merujuk pada serangan udara Israel yang terus berlangsung meskipun telah ada gencatan senjata yang disepakati pada November 2024.

Lebanon dan Israel secara teknis masih dalam keadaan perang, dengan komunikasi terbatas pada mekanisme pemantauan yang dimediasi oleh PBB dan melibatkan Prancis serta AS. Kedua pihak bertemu secara terpisah di bawah naungan PBB, tanpa melakukan perundingan langsung.

Israel Ancam Lanjutkan Serangan ke Lebanon

Meskipun menyatakan kembali komitmennya pada gencatan senjata, Hizbullah menuduh Israel memanfaatkan perpecahan internal Lebanon dan terus melancarkan serangan dengan dalih operasi keamanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu memperingatkan bahwa Israel dapat meningkatkan operasi militernya di Lebanon. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menggemakan ancaman itu dengan mengatakan, "Operasi militer maksimal akan terus berlanjut dan bahkan meningkat — kami tidak akan membiarkan adanya ancaman terhadap penduduk di utara."

Israel telah menerapkan pola serupa di Gaza, di mana kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok bersenjata Palestina Hamas tidak menghentikan serangan harian yang telah menewaskan puluhan orang, meskipun intensitas dan frekuensinya menurun dibandingkan dengan periode sebelum gencatan senjata.

Sejak gencatan senjata, Israel masih mempertahankan pasukan di lima wilayah di Lebanon selatan dan terus melakukan serangan rutin yang diklaimnya menargetkan posisi Hizbullah.

Situasi tetap tegang hampir setahun setelah Israel membunuh pemimpin lama Hizbullah, Hassan Nasrallah, pada September 2024 — sebuah serangan yang juga menewaskan sebagian besar jajaran senior kelompok itu. 

Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, militer Lebanon bertugas melucuti senjata Hizbullah di wilayah selatan sebelum akhir tahun ini dan kemudian memperluas operasi tersebut secara nasional. Namun Hizbullah bersikeras bahwa Israel memanfaatkan proses ini untuk memperkuat cengkeramannya atas wilayah Lebanon dan menolak melucuti senjata selama Israel terus melakukan serangan serta menduduki wilayah negara itu.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya