Hari Pahlawan 2025: Jejak Sejarah di Balik Penetapannya

Setiap 10 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional. Peringatan ini untuk menghormati para pejuang yang gugur membela kemerdekaan.

oleh SupriatinDiterbitkan 06 November 2025, 10:07 WIB
Anggota Komunitas Roode Brug Soerabaia dan Reenactor Indonesia berpartisipasi dalam reka ulang Pertempuran Surabaya, pada Minggu 2 November 2025. Anggota komunitas sejarah Roode Brug Soerabaia dan Reenactor Indonesia menggelar reka ulang peristiwa Pertempuran Surabaya, di sekitar kawasan Tugu Pahlawan hingga Balai Pemuda, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu 2 November 2025. (Juni KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta- Setiap 10 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional. Peringatan ini untuk menghormati para pejuang yang gugur membela kemerdekaan.

Peringatan Hari Pahlawan diisi dengan upacara bendera, ziarah ke makam pahlawan, doa bersama, serta berbagai kegiatan bertema kepahlawanan seperti lomba dan seminar sejarah.

Salah satu tokoh penting dalam peristiwa 10 November 1945 adalah Bung Tomo, yang melalui siaran radio membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajah.

Presiden Prabowo Subianto mengajak generasi muda Indonesia untuk meneladani semangat para pahlawan dan menumbuhkan cinta yang tulus pada Tanah Air. Dia menekankan pentingnya menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pesan tersebut disampaikan melalui Menteri Sosial Syaefullah Yusuf (Gus Ipul) pada peringatan Hari Pahlawan, Minggu (10/11/2024).

“Kerelaannya untuk mengutamakan kepentingan bersama, menekan kepentingan pribadi dan golongan,” ujar Gus Ipul menyampaikan pesan Prabowo.

Sejarah Pahlawan Nasional

Penetapan Hari Pahlawan Nasional tidak lepas dari peristiwa paling heroik dalam sejarah perjuangan Indonesia, yakni Pertempuran Surabaya pada tahun 1945. Pertempuran itu terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Kala itu, pasukan sekutu, terdiri dari tentara Inggris dan Belanda (NICA), ke Kota Surabaya pada 25 Oktober 1945. Kedatangan sekutu awalnya bertujuan untuk mengamankan para tawanan perang dan melucuti senjata tentara Jepang. Pada 27 Oktober 1945, NICA yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby memasuki wilayah Surabaya dan langsung mendirikan pos pertahanan. Pasukan Sekutu yang didominasi tentara Inggris menyerbu penjara dan membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh pihak Indonesia.

Mereka juga memerintahkan masyarakat Indonesia untuk menyerahkan senjata. Namun, perintah tersebut ditolak tegas oleh rakyat Indonesia. Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia yang dipimpin Bung Tomo melancarkan serangan ke pos-pos pertahanan Sekutu, dan berhasil merebut sejumlah bagian titik penting Surabaya.

Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada 29 Oktober, bentrokan bersenjata tetap terjadi antara warga Surabaya dan pasukan Inggris. Puncak pertempuran ini ditandai dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945, yang memicu kemarahan pihak Inggris.

Pada pagi 10 November, tentara Inggris melancarkan serangan besar. Pasukan dan milisi Indonesia memberikan perlawanan sengit, sehingga Inggris merespons dengan mengeluarkan ultimatum. Ultimatum tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, yang menggantikan posisi Mallaby.

Jenderal Eric Carden menuntut Indonesia untuk menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan terhadap pasukan Inggris. Jika tuntutan tersebut tidak dipatuhi, tentara AFNEI dan administrasi NICA mengancam akan menggempur Kota Surabaya dari darat, laut, dan udara.

Ultimatum tersebut tidak digubris oleh para pemimpin perjuangan, arek-arek Surabaya, dan seluruh rakyat, sehingga Inggris melancarkan serangan besar-besaran ke Kota Surabaya dari berbagai arah. Mereka menggunakan kekuatan darat, laut, dan udara, yang memicu pecahnya pertempuran terbesar di Surabaya pada 10 November 1945.

Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran ini adalah Bung Tomo. Dia menginspirasi melalui siaran Radio Pemberontakan milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI).

Selain Bung Tomo, terdapat juga tokoh-tokoh berpengaruh lainnya yang turut menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa di antaranya berasal dari kalangan agama, seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah, dan kyai-kyai pesantren lainnya. Mereka juga mengerahkan santri-santri dan masyarakat sipil untuk bergabung dalam milisi perlawanan.

Banyak pejuang yang gugur dan banyak pula warga yang menjadi korban dalam pertempuran tersebut. Kondisi ini menyebabkan Kota Surabaya dikenang sebagai Kota Pahlawan, sebagai penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan besar yang terjadi di sana.

Untuk mengenang keberanian dan pengorbanan para pejuang dalam pertempuran tersebut, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 316 Tahun 1959, menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Tujuan diperingati Hari Pahlawan 10 November

Peringatan peristiwa 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan setiap tahun menjadi momen untuk memperkuat ingatan kolektif bangsa. Pahlawan menjadi teladan di berbagai tingkatan dan aktivitas masyarakat, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.

Semangat pembangunan bangsa dan negara tercermin dalam upaya mewujudkan Asta Cita, dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan untuk menjaga dan memajukan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sembari menghadapi tantangan perkembangan global. Langkah tersebut terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, budaya, dan politik, baik di tingkat nasional maupun komunitas.

Semangat pahlawan dalam membangun bangsa dan negara akan mewujudkan masyarakat adil dan makmur, baik secara material maupun spiritual, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Demikian dilansir Antara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya