Liputan6.com, Madrid - Suasana kesibukkan pagi hari mendadak berubah menjadi kekacauan di Spanyol, terdengar ledakan bom di pusat kota saat keramaian orang-orang memenuhi jalan.
Warga yang sedang berangkat kerja dan anak-anak menuju sekolah penuh kepanikan akibat bom mobil yang meledak di Jalan Corazon den Maria pada 6 November 2001.
Advertisement
Menurut laporan polisi, sekitar 100 orang terluka dari kejadian itu di pusat kota, dugaan pelaku bom juga mengarah pada kelompok separatis bersenjata Basque, dilansir dari CBC News, Kamis (6/11/2025).
Mobil dinas Juan Junquera, sekretaris jenderal departemen kebijakan ilmiah pemerintah, menjadi korban dalam ledakan dengan mengalami luka ringan. Tetapi polisi masih belum dapat memastikan pelaku dan targetnya.
Namun, Menteri Dalam Negeri, Mariano Rajoy, menyebut kemungkinan bahwa Junquera menjadi sasaran dalam ledakan yang telah terjadi.
Kerusakan yang disebabkan di sepanjang Jalan Corazon de Maria di pinggiran timur laut pusat kota, menghancurkan mobil-mobil yang terparkir, memecahkan jendela-jendela gedung, dan membuat puing berserakan di trotoar.
Akses jalan juga terganggu, di mana jalan tersebut sejajar dengan jalan tol yang menjadi rute utama menuju bandara internasional Madrid, dan dikenal sebagai salah satu area tersibuk di Madrid.
Korban Terluka
Terjadinya ledakan ini pada pukul 09.08 pagi waktu setempat saat ribuan orang sedang menuju tempat kerja dan sekolah, yang memicu kepanikan di kawasan padat tersebut.
Sebagian besar korban mengalami luka gores, memar, dan trauma ringan. Hanya empat orang yang masih dirawat di rumah sakit, termasuk perempuan serta anak-anak.
Saksi mata yang berada di lokasi ledakan segera menghubungi polisi setelah melihat tersangka melarikan diri dengan mobil lain.
Beberapa saat kemudian, tim penjinak bom langsung melakukan peledakan terkendali terhadap kendaraan tersebut, yang dicurigai masih berisi bahan peledak.
Identitas Pelaku
Pelaku dibalik serangan bom adalah seorang pria dan seorang perempuan. Keduanya ditemukan membawa bahan peledak, pistol, senjata yang kerap digunakan ETA atau sebuah kelompok separatis bersenjata Basque, dan rambut palsu (wig).
Kementerian Dalam Negeri mengungkap kedua pelaku, yaitu Aitor Garcia Aliaga yang seorang tersangka anggota ETA, dan Ana Belen Egues Gurruchaga, mantan anggota dewan kota Herri Batasuna, sebuah partai politik yang terhubung erat dengan ETA.
Mariano Rajoy, Menteri Dalam Negeri saat itu juga melaporkan kepada wartawan terkait insiden yang hampir menewaskan banyak orang.
"Jika situasinya berbeda, kita mungkin berduka atas kematian banyak orang yang tak berdosa, insiden ini sekali lagi menunjukkan kebrutalan, kebiadaban, dan kurangnya rasa hormat ETA terhadap nyawa orang," ujarnya.
Para politisi di Spanyol mendesak ETA untuk mengikuti Jejak Tentara Republik Irlandia di Irlandira Utara, yang mulai menyerahkan senjatanya bulan lalu sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Namun, ETA bersikeras tidak akan melepaskan tuntutannya atas hak penentuan nasib sendiri bagi Basque, yang memungkinkan pembentukan negara merdeka di Spanyol utara dan Prancis barat daya.
Penyerangan lainnya sering kali terjadi, pada 12 Oktober di sebuah garasi umum di bawah Plaza Colon, ETA mengaku bertanggung jawab atas ledakan bom mobil yang melukai 17 orang.
Bahkan kelompok tersebut mengklaim terhadap tindakan kejahatannya yang menewaskan sekitar 800 orang dalam berbagai serangan sejak 1968, termasuk gencatan senjata pada Desember 1999.
Sehingga insiden ini meninggalkan kepanikan dan kekhawatiran yang menyoroti ancaman terorisme, sekaligus mengingatkan kejahatan ETA serta dampaknya yang merugikan banyak hal.