Ketegasan Prabowo soal Nasib Whoosh: Mulai dari Utang 'Membengkak' hingga Kelanjutan Proyek

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan polemik kereta cepat Whoosh.

oleh Fatimah AzzahraDiterbitkan 05 November 2025, 07:04 WIB
Presiden Prabowo usai peresmian stasiun tanah abang, Selasa (4/11/2025).

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan polemik kereta cepat Whoosh. Prabowo menyatakan bakal pasang badan dan bertanggung jawab menanggung utang Whoosh yang membengkak hingga Rp 116 triliun.

Saat meresmikan Stasiun Tanah Abang pada Selasa (4/11) siang, Prabowo terang-terangan siap mencicil utang Whoosh Rp 1,2 triliun per tahun kepada China. Tak hanya itu, Prabowo juga mengungkapkan rencananya untuk melanjutkan kereta cepat Jakarta sampai ujung timur Jawa, Banyuwangi.

Berikut sikap Prabowo terkait masa depan Whoosh:

1. Prabowo: Tak Masalah Bayar Utang Whoosh

Prabowo menekankan, bahwa utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh tidak perlu terlalu dipersoalkan. Meskipun nilai utang yang harus dibayarkan mencapai lebih dari Rp 1 triliun per tahun.

Sang kepala negara menilai pengoperasian Whoosh punya manfaat jangka panjang, dari segi ekonomi hingga sosial. Dia mencontohkan, transportasi umum seperti Whoosh bisa membantu mengurangi macet dan polusi.

"Pokoknya enggak ada masalah. Kita mungkin harus bayar Rp 1,2 triliun per tahun. Tapi manfaatnya, mengurangi macet, mengurangi polusi, mempercepat perjalanan. Ini semua harus dihitung," ujar Prabowo

Selain itu, Indonesia juga bakal memanfaatkan transfer pengetahuan dan teknologi dari proyek Kereta Cepat Whoosh. Khususnya dari China, yang jadi operator awal dari sistem kereta cepat tersebut.

"Dan yang penting adalah, kita kuasai teknologi, we are at the edge of the best practice. Dan ingat ya, ini timbul kerjasama kita dengan Tiongkok," kata Prabowo.

2. Lanjutkan Whoosh Sampai Banyuwangi

Selain sanggup membayar utang Whoosh, Prabowo berencana melanjutkan proyek rute Whoosh dari Jakarta sampai Banyuwangi, Jawa Timur.

"Saya minta tidak hanya (sampai) Surabaya. Banyuwangi. Banyuwangi (Kereta Cepat sampai Banyuwangi) Ya. Banyuwangi. Surabaya itu zaman dulu. Sekarang Banyuwangi," kata Prabowo.

Prabowo berjanji akan memikul penuh tanggung jawab atas keberlangsungan proyek tersebut. Dia mengatakan, Indonesia memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengelolanya tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung.

“Sudahlah, saya sudah katakan, Presiden Republik Indonesia yang ambil alih tanggung jawab. Jadi, tidak usah ribut, kita mampu dan kita kuat,” katanya.

3. Gandeng Ignasius Jonan

Prabowo tampaknya serius untuk melanjutkan Whoosh. Hal itu ditandai dengan pertemuan selama 2 jam dengan mantan Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Pertemuan terbatas dan tertutup itu diakui membahas proyek Whoosh. Prabowo meminta saran kepada Jonan terkait tata Kelola Whoosh dan segala persiapan teknis proyek sampai Banyuwangi.

"Jadi, saya senang selalu ketemu dan tukar-menukar pandangan dalam banyak hal," ucap dia.

"Ya, kita bicara selalu (soal Whoosh)," sambung Prabowo.

Diketahui, Ignasius Jonan adalah sosok yang berperan besar dalam mentransformasi di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Selama menjadi Direktur Utama PT KAI, Jonan membuat gebrakan untuk mengubah wajah perkeretaapian Indonesia.

Gebrakan nyata yang dilakukan Jonan adalah memperbaiki kebersihan stasiun dan gerbong, menghilangkan pedagang liar, mengganti tiket manual dengan e-ticketing, serta mengintegrasikan sistem tiket dan nomor kursi.

Ketika menjadi Menteri Perhubungan, dia juga menerapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) untuk semua moda transportasi dan membangun sistem transportasi terpadu sebagai proyek percontohan.

Dan terbukti, Jonan berhasil mengubah sistem perkeretaapian di Indonesia dengan signifikan. Ignasius Jonan juga berhasil mengubah PT KAI yang semula rugi sebesar Rp 80 miliar di tahun 2008 silam, menjadi meraup untung sebesar hampir Rp 300 miliar di tahun 2012

4. Prabowo: Jangan Politisasi Whoosh

Selanjutnya, Presiden Prabowo Subianto meminta semua pihak untuk tidak mempolitisasi masalah utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, alias Whoosh. Prabowo mengingatkan, ada pihak-pihak yang ingin membuat masyarakat cemas. Salah satunya dengan isu utang Whoosh senilai Rp 116 Triliun.

"Jangan dipolitsasi, jangan kita menari di gendangnya orang. Mungkin ada pihak-pihak yang enggak tau dari mana yang ingin selalu menimbulkan kecemasan rakyat," kata Prabowo

Prabowo juga meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk tak khawatir dengan penyelesaian utang Whoosh. Semua menjadi tanggung jawab Kepala Negara.

"Indonesia bukan negara sembarangan, saya hitung enggak ada masalah PT KAI enggak usah khawatir, semuanya enggak usah khawatir.“

Mantan Menteri Pertahanan ini menegaskan, kehadiran Whoosh penting untuk pelayanan terhadap publik. “Kita layani rakyat kita, kita berjuang untuk rakyat kita. Teknologi semua sarana itu tanggung jawab bersama dan itu diujungnya tanggung jawab RI. Jadi saya sekarang tanggung jawab Whoosh," jelasnya.

Prabowo menekankan transportasi publik jangan dihitung untung dan rugi, namun manfaatnya untuk rakyat. Dia menyebut seluruh dunia menggunakan skema public service obligation (PSO) dalam pelayanan publik, termasuk transportasi umum.

"Tadi disampaikan Menhub, semua kereta api kita, pemerintah subsidi 60 persen, rakyat bayar 20 persen. Ya ini kehadiran negara, ini kehadiran negara. Dari mana uang itu? Dari uang rakyat, dari pajak, dari kekayaan negara," tutur Prabowo.

Prabowo menyampaikan pemerintah berkomitmen memberikan pelayanan publik terbaik. Salah satunya dengan mengoptimalkan transportasi umum.

Prabowo menuturkan pemerintahannya akan bekerja keras mencegah kebocoran anggaran, penyelewangan, dan korupsi. Sehingga bisa memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat.

"Uang rakyat enggak boleh dicuri, akan kita kembalikan pelayanan untuk rakyat," ucap Prabowo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya