Lippo Karawaci (LPKR) Catat Laba Rp 368 Miliar, Penjualan Rumah Tapak Dongkrak Kinerja

Lippo Karawaci (LPKR) mencatat laba bersih Rp 368 miliar hingga Kuartal III 2025, didorong penjualan hunian tapak dan proyek premium.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 November 2025, 14:50 WIB
PT Lippo Karawaci Tbk kenalkan produk perumahan baru yang terjangkau di Kawasan Park Serpong dan Lippo Cikarang Cosmopolis. (Dok (LPKR)

Liputan6.com, Jakarta - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatat kinerja solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 368 miliar, dengan total pendapatan mencapai Rp 6,51 triliun dan EBITDA sebesar Rp 997 miliar.

LPKR juga menjaga posisi kas yang kuat sebesar Rp 2,2 triliun, mencerminkan manajemen keuangan yang sehat dan disiplin.

CEO Grup Lippo Indonesia John Riady menjelaskan, hingga akhir Kuartal III 2025, segmen real estat membukukan pra penjualan (marketing sales) senilai Rp 4,02 triliun, atau sekitar 64 persen dari target tahun penuh.

Penjualan ini didorong oleh tingginya minat terhadap hunian tapak, baik segmen terjangkau maupun premium, yang berkontribusi hingga 70 persen dari total pra penjualan," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (3/11/2025).

Dua proyek unggulan, yakni Park Serpong tahap 4 & 5 serta Metropolis Marq Estate di Kota Tangerang, menjadi pendorong utama kinerja tersebut.

Secara finansial, pendapatan segmen real estat meningkat tajam 74 persen (year-on-year) menjadi Rp5,5 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh serah terima unit yang tepat waktu dan penerapan efisiensi biaya di berbagai lini proyek. Dari sisi profitabilitas, EBITDA real estat mencapai Rp843 miliar, mencerminkan keberhasilan LPKR dalam menjaga margin operasional.

 

Bisnis Gaya Hidup

RUPST PT Lippo Karawaci Tbk pada Jumat, 13 Juni 2025 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta memutuskan pergantian pengurus. (Dok LPKR)

Selain sektor properti, bisnis gaya hidup (lifestyle) LPKR juga menunjukkan pemulihan stabil. Sepanjang periode berjalan, segmen ini membukukan pendapatan Rp 994 miliar, dengan laba kotor naik 8 persen menjadi Rp 758 miliar. EBITDA-nya bahkan tumbuh 21 persen menjadi Rp 335 miliar.

Peningkatan tersebut ditopang oleh membaiknya tingkat okupansi tenant di pusat perbelanjaan, efisiensi biaya, serta pemulihan bisnis perhotelan.

Rata-rata tarif kamar hotel LPKR naik 2 persen menjadi Rp 635 ribu per malam, sementara jumlah pengunjung mal stabil di atas 11 juta orang per bulan. Capaian ini menandakan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap destinasi ritel milik LPKR.

“Kami bangga atas kinerja sembilan bulan pertama yang solid, didukung oleh serah terima produk tepat waktu dan strategi bisnis yang disiplin,” ujar John Riady.

 

Fundamental Keuangan Kuat

Ia menegaskan, strategi pengembangan hunian terjangkau yang dikombinasikan dengan proyek premium terbukti efektif dalam mendorong pertumbuhan penjualan.

“Langkah ini juga memperkuat struktur permodalan perusahaan melalui pengurangan utang yang berkelanjutan,” tambahnya.

Dengan hasil tersebut, LPKR optimistis menatap akhir tahun dengan fundamental keuangan yang lebih kuat dan prospek bisnis properti yang terus meningkat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya