4 November 2008: Barack Obama Jadi Presiden AS Kulit Hitam Pertama

Setelah terpilihnya Presiden Barack Obama sebagai Amerika Serikat, banyak harapan bermunculan untuk masa depan yang lebih baik.

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 04 November 2025, 06:00 WIB
Mantan Presiden AS Barack Obama memberikan sambutan tentang Undang-Undang Perawatan Terjangkau dan Medicaid di East Room Gedung Putih, 5 April 2022. Ini adalah kali pertama Obama kembali ke Gedung Putih sejak meninggalkan kantor itu pada 2017. (MANDEL NGAN / AFP)

Liputan6.com, Washington, D.C - Perbudakan dan diskriminasi rasial menjadi masa lalu yang kelam dalam perjalanan demokrasi Amerika Serikat yang selalu mengalami banyak tantangan.

Namun, sebuah kebebasan rakyatnya untuk hidup dengan damai kembali dimulai melalui Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama yang menandai kesetaraan, sekaligus kemenangan pada 4 November 2008.

Dalam pemilihan presiden tersebut, ia memperoleh margin suara lebih besar dibandingkan John McCain.

Tercatat setidaknya 134 juta warga AS berpatisipasi dalam pemilihan suara dan Obama mendapatkan sekitar 60 persen dari total yang memenuhi syarat, dilansir dari The Guardian, Selasa (4/11/2025).

Saat itu, ia didampingi oleh istrinya, Michelle, dan kedua putrinya, memberikan pidato dari kemenangannya yang juga disambut hangat oleh para pemimpin dunia.

Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, menyebutnya sebagai "sahabat sejati Inggris," sementara Kanselir Jerman, Angela Merkel, berharap hubungan AS-Eropa semakin erat di bawah kepemimpinannya.

Bahkan pemimpin oposisi, David Cameron, memuji Obama sebagai "yang pertama dari generasi pemimpin baru."

Sehingga pemilihan presiden baru bagi Amerika Serikat yang telah memilih Obama malam itu, membuktikan bahwa pemilik kulit putih tidak menilai berdasarkan warna kulit.

Hal ini akhirnya membuka babak baru di bawah kepemimpinannya yang memberikan semangat perubahan, serta harapan untuk mengalahkan diskriminasi rasial dari berbagai politik.

Harapan dan Kebebasan

Kemenangannya yang terpilih sebagai presiden Amerika Serikat membuka peluang kepada mereka untuk mendapatkan hak-haknya secara adil.

Dalam pidato kemenangan di Chicago, Obama meyakini bahwa Amerika adalah tempat di mana segala sesuatu mungkin terjadi.

Sebuah tempat yang memiliki kebebasan berpendapat yang tidak memandang warna kulit atau usal usul, sehingga mereka dapat meraih mimpi dengan nyaman dan aman.

Perubahan ini perlahan membangun masa depan yang lebih terbuka dan penuh harapan, dengan menyatukan perbedaan dan menumbuhkan setiap keyakinan untuk berani dalam berekspresi di negeri tersebut.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya