Menulis Tangan Dongkrak Literasi Dasar Siswa SD hingga 81 Persen

Dari hasil observasi, menulis tangan terbukti merangsang bagian otak yang berperan dalam pemrosesan informasi dan memori jangka panjang.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 31 Oktober 2025, 13:09 WIB
Menulis surat dengan bolpoin (Pexels)

Liputan6.com, Jakarta Hasil penelitian kolaboratif antara Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, SiDU (Sinar Dunia), dan Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) menunjukkan, 81 persen siswa mengalami peningkatan kemampuan literasi signifikan setelah mengikuti kegiatan menulis tangan menggunakan modul Ayo Menulis bersama SiDU.

“Kalau menulis itu termasuk deep encoding, sementara mengetik hanyalah shallow encoding. Anak-anak sekarang kesulitan karena datanya terlalu banyak tapi refleksinya sedikit. Saat menulis, titik-titik di otak yang bekerja lebih banyak, antara kata, rasa, dan motorik menyatu,” ujar Yuda Turana, Rektor Unika Atma Jaya, di Gedung Unika Atma Jaya, Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Aktivitas menulis tangan di atas kertas terbukti mampu meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa sekolah dasar. Penelitian bertajuk “Pengaruh Aktivitas Menulis di Atas Kertas terhadap Kemampuan Literasi Peserta Didik Sekolah Dasar” ini melibatkan 2.293 siswa kelas 4 dan 5 SD di Jakarta dan sekitarnya.

Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis setelah siswa secara rutin menulis tangan di atas kertas.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Murniati Agustian, M.Pd., menjelaskan pentingnya kegiatan menulis tangan dalam pembelajaran dasar.

“Kami mendorong para guru, orang tua, serta pembuat kebijakan untuk memberikan ruang yang memadai bagi kegiatan menulis tangan di atas kertas di sekolah. Di tengah pembelajaran yang semakin berorientasi pada teknologi digital, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bersama agar kemajuan digital tidak menghapus keterampilan dasar yang membentuk daya pikir, konsentrasi, dan kreativitas anak.”

Dia menegaskan, penelitian ini menilai enam aspek penting, mulai dari struktur tulisan, elaborasi ide, tata bahasa, hingga kerapian tulisan.

“81% itu cukup tinggi, karena anak-anak. Nanti kita akan melihat apa yang dirasakan oleh anak-anak, apa dampaknya pada anak-anak ketika mereka menulis,” beber dosen Fakultas Pendidikan dan Sastra Unika Atma Jaya tersebut.

Anak Lebih Reflektif dan Imajinatif

Rektor Unika Atma Jaya (Foto: Rio Ferdinan/Liputan6.com)

Penelitian ini juga melibatkan wawancara dengan guru dan orang tua. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak menjadi lebih reflektif, imajinatif, dan percaya diri.

“Nah, guru dan orang tua melihat ada peningkatan, jadi guru dan orang tua sendiri juga melihat, dan menumbuhkan sikap reflektif, imajinatif, dan ekspresif,” kata Murniati.

Tak hanya itu, menurutnya siswa merasa kegiatan menulis tangan lebih menyenangkan dibandingkan menulis di buku pelajaran biasa.

“Nah, kenapa berbedanya? Tentu mereka melihat, mereka menulis itu berimajinasi,” ujarnya.

Namun, Murniati juga mencatat bahwa sekitar 19 persen siswa belum menunjukkan peningkatan berarti.

“Kita lihat ada 19 yang tidak signifikan, ini apa penyebabnya? Jadi, siswa itu masih kesulitan menulis puisi, menulis teks yang panjang, merasa lelah, bosan,” ungkapnya.

Aktivitas Menulis Bantu Anak Lebih Kreatif

Dari hasil observasi, menulis tangan terbukti merangsang bagian otak yang berperan dalam pemrosesan informasi dan memori jangka panjang.

“Ini murid-murid ini seru, menyenangkan, bisa mengekspresikan perasaan, lalu mereka menjadi kreatif. Lalu mereka menanggapkan berbeda apabila dibandingkan kegiatan menulis di pelajaran lain,” terang Murniati.

Ia menegaskan, kebiasaan menulis tangan tak bisa sepenuhnya digantikan oleh aktivitas mengetik.

“Jadi, konsistensi menulis tangan itu penting, karena memberikan kerja pikiran, emosi, dan gerak,” tegasnya.

Pemerintah Dukung Program Literasi Menulis Tangan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, keterampilan menulis tangan tetap menjadi fondasi utama dalam proses belajar, karena tidak hanya melatih koordinasi motorik halus, tetapi juga memperkuat daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir kritis anak.

Dukungan terhadap hasil riset ini juga datang dari pemerintah. Muhammad Noor Ginanjar Jaelani, S.Pd., Ketua Sub Tim Kerja Pembelajaran, Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen, mengatakan pihaknya menyambut baik riset kolaboratif ini.

“Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen menyambut baik inisiatif riset kolaboratif yang menyoroti pentingnya menulis tangan di atas kertas bagi peserta didik usia dini," ujar Ginanjar

"Kami mendukung penuh upaya seperti yang dilakukan oleh Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Buku Tulis SiDU, dan Majalah Cahaya Inspirasi Anak, yang sejalan dengan kebijakan untuk mengembalikan esensi belajar yang bermakna dan berakar pada pengalaman langsung anak di kelas,” sambungnya.

 

Peran Dunia Industri dan Media dalam Literasi Anak

Dari sisi industri, Head of Marketing Domestic Business Unit Stationery APP Group, Arif Darmawan, percaya bahwa menulis tangan bukan hanya membentuk keterampilan motorik, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penguasaan bahasa. Namun, dia menyayangkan belum banyak penelitian di Indonesia yang secara khusus meninjau dampak menulis di atas kertas terhadap kemampuan literasi dasar siswa.

"Kami berharap hasil penelitian ini menjadi komitmen bersama sekolah dan pemangku kebijakan untuk terus mengembalikan kegiatan menulis dengan tangan.” katanya.

Selain itu, Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) turut berperan dalam menyebarkan pesan literasi dengan cara yang ramah anak melalui konten edukatif yang inspiratif. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara akademisi, industri, media, dan pemerintah dalam memperkuat budaya literasi nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya