Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Microsoft untuk berinvestasi di OpenAI kini terbukti menjadi langkah besar yang mengubah arah industri teknologi. Namun, di balik kesuksesan tersebut, CEO Microsoft Satya Nadella mengungkapkan Bill Gates sempat menilai hal itu sebagai langkah yang berisiko tinggi.
Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (31/10/2025), Microsoft pertama kali menanamkan investasi sebesar USD 1 miliar atau Rp 16,63 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.638) di OpenAI pada 2019. Kurang dari empat tahun setelah perusahaan AI itu didirikan.
Advertisement
Seiring waktu, Microsoft terus menambah jumlah investasi dan kini telah menggelontorkan lebih dari USD 13 miliar atau Rp 216,30 triliun untuk mendukung pembuat ChatGPT.
Dalam wawancaranya dengan acara YouTube teknologi “TPBN”, Nadella mengungkapkan membawa rencana investasi itu hingga akhirnya disetujui tidaklah semudah yang dibayangkan. Keputusan besar tersebut tetap membutuhkan persetujuan dewan direksi dan sempat menimbulkan perdebatan internal di Microsoft.
“Bahkan di Microsoft, kamu tetap harus mendapatkan persetujuan dewan untuk mengeluarkan uang sebesar itu,” kata Nadella. “Namun saya harus bilang, tidak terlalu sulit meyakinkan siapa pun bahwa ini adalah bidang penting, meski berisiko.”
"Kalau dipikir-pikir sekarang, siapa yang menyangka? Saya tidak menginvestasikan USD 1 miliar dengan harapan ini akan jadi keuntungan yang seratus kali lipat," ia menambahkan.
Dilansir dari Yahoo Finance, Nadella juga mengungkapkan Bill Gates sempat ragu saat dirinya ingin berinvestasi di OpenAI pada tahun 2019.
“Ingat, waktu itu OpenAI masih organisasi nirlaba, dan saya pikir Bill bahkan berkata, ‘Ya, kamu akan membakar uang USD 1 miliar itu,’” ujar Nadella. “Kami memang punya toleransi risiko yang tinggi, dan kami memutuskan untuk mencobanya,” tambahnya.
Baik perwakilan Nadella maupun Gates di Microsoft tidak menanggapi permintaan komentar dari Business Insider terkait hal ini.
Perjalanan OpenAI
Sejak investasi pertama Microsoft, OpenAI telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Startup AI itu mulai dikenal luas setelah merilis demo awal ChatGPT pada November 2022. Chatbot tersebut viral di media sosial dan berhasil menarik satu juta pengguna hanya dalam lima hari.
CEO OpenAI, Sam Altman, dalam konferensi tahunan DevDay pada 6 Oktober lalu mengungkapan bahwa lebih dari 800 juta orang menggunakan ChatGPT setiap minggu.
Pada hari Selasa, OpenAI juga mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan restrukturisasi organisasinya. Lengan nirlaba perusahaan, OpenAI Foundation, kini mengawasi entitas baru OpenAI Group PBC, sebuah perusahaan manfaat publik.
Dengan perubahan tersebut, Microsoft kini memegang 27% saham di bisnis for-profit OpenAI, yang nilainya berada di kisaran USD 135 miliar. Sementara itu, saham Microsoft tercatat naik hampir 29% sepanjang tahun ini.
OpenAI Gandeng Paypal, Dukung Fitur Belanja di ChatGPT
Sebelumnya, raksasa pembayaran digital Paypal resmi menandatangi kesepakatan dengan OpenAI untuk menampilkan dompet digital nya langsung ke dalam platfrom ChatGPT. Langkah ini menjadikan Paypal sebagai dompet pembayaran pertama yang tertanam di alat kecerdasan buatan paling populer tersebut.
Dikutip dari CNBC, Rabu (29/10/2025), kesepakatan yang ditandatangani akhir pekan lalu itu memungkinkan pengguna ChatGPT untuk membeli berbagai barang langsung melalui percakapan AI, sekaligus membuka peluang bagi para pedagang untuk menjual produk mereka di dalam platfrom tersebut.
CEO Paypal Alex Chriss menjelaskan, kolaborasi ini sebagai tonggak penting dalam dunia e-commerce berbasis kecerdasan buatan.
"Kami memiliki ratusan juta pengguna setia yang kini dapat mengklik tombol beli dengan paypal di Chat GPT dan menikmati pengalaman pembayaran yang aman dan terjamin," ujar chriss dalam wawancara ekslusif.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari upaya Open AI untuk memperluas kemampuan ChatGPT sebagai asisten belanja digital.
Dengan lebih dari 700 juta pengguna aktif setiap minggu, OpenAI berharap ChatGPT dapat menjadi 'personal shopper' berbasis AI yang membantu pengguna menemukan dan membeli barang di berbagai platfrom, seperti shopify, Etsy, hingga walmart yang lebih dulu bermitra dengan OpenAI.
"ini adalah model baru dalam berbelanja," tambah Chriss.