Jaga Harmoni: Xabi Alonso dan Vinicius Harus Berdamai demi Real Madrid

Pertengkaran kecil antara Xabi Alonso dan Vinicius Junior di laga El Clasico terbaru ternyata menyisakan jejak panjang.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 29 Oktober 2025, 13:04 WIB
Vinicius Junior dari Real Madrid ditahan oleh staf pelatih saat terjadi keributan setelah pertandingan La Liga melawan Barcelona di Madrid, Spanyol, Minggu, 26 Oktober 2025. (AP Photo/Bernat Armangue)   

Liputan6.com, Jakarta Pertengkaran kecil antara Xabi Alonso dan Vinicius Junior di laga El Clasico terbaru ternyata menyisakan jejak panjang. Momen ketika Vinicius terlihat marah saat namanya muncul di papan pergantian pemain bukan hanya mencerminkan emosi sesaat, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar soal hubungan antara sang pelatih dan bintang asal Brasil itu.

Vinicius jelas kecewa karena kembali ditarik keluar lebih awal. Ia mengekspresikan kekesalannya secara terbuka, bahkan meninggalkan lapangan menuju ruang ganti sebelum akhirnya kembali lagi. Pemandangan itu tentu tidak elok untuk klub sebesar Real Madrid.

Kini, sejumlah laporan mengatakan bahwa hubungan antara Alonso dan Vinicius sedang tidak baik-baik saja. Situasi ini berpotensi mengganggu keharmonisan tim yang sedang berjuang di papan atas La Liga dan Liga Champions.

Pada akhirnya, yang paling dirugikan dari ketegangan ini bukanlah Alonso atau Vinicius secara individu, melainkan Real Madrid itu sendiri. Jika keduanya tak segera berdamai, klub bisa kehilangan keseimbangan antara otoritas pelatih dan semangat para pemain bintangnya.


Alonso harus Pastikan Situasi Tidak Meruncing dan Berimbas ke Performa Tim

Hubungan pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, dan Vincius Junior dikabarkan semakin retak, terutama setelah duel Real Madrid versus Barcelona di Santiago Bernabeu, Minggu (26/10/2025) dini hari WIB. (AFP/Oscar DEL POZO)  

Xabi Alonso datang ke Real Madrid dengan filosofi jelas: tidak ada pemain istimewa. Ia bertekad membagi menit bermain berdasarkan performa, bukan reputasi. Dalam kerangka itu, Vinicius sebenarnya sudah banyak berkembang. Dari pemain yang sempat sering duduk di bangku cadangan, kini ia menjadi starter tetap.

Alonso tidak bisa disalahkan jika kadang memilih mengganti Vinicius, apalagi jika mempertimbangkan performa Kylian Mbappe yang sedang luar biasa. Dalam konteks manajemen tim, keputusan seperti itu adalah hal wajar.

Namun, mempertahankan kemarahan terhadap Vinicius atau bahkan menghukumnya bisa menjadi langkah yang keliru. Alonso harus berhati-hati agar situasi ini tidak semakin meruncing dan berimbas pada performa tim.

Vinicius adalah salah satu pemain terbaik dunia di posisinya dan mulai menemukan kembali bentuk permainan terbaiknya dalam beberapa pekan terakhir. Ia masih menjadi bagian penting dari proyek jangka panjang Alonso di Madrid. Oleh karena itu, pelatih asal Spanyol tersebut perlu mengelola konflik ini dengan bijak sebelum menjadi luka yang sulit disembuhkan.

Lanjut Baca:

Vinicius dikenal sebagai sosok yang spontan dan sering berbicara tanpa filter. Karakter itu kadang membuatnya terjebak dalam kontroversi, seperti yang terjadi kali ini. Kekecewaannya karena diganti bisa dimaklumi, tetapi sebagai pemain yang kini berusia 25 tahun dan sudah menyandang status sebagai salah satu kapten tim, ia seharusnya lebih mampu menahan diri. Sebagai salah satu pemimpin di ruang ganti, Vinicius kini memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh. Aksi marah-marah di pinggir lapangan justru bisa memberi sinyal buruk bagi rekan setimnya yang lebih muda. Jika Vinicius benar-benar ingin menapaki jalan menuju Ballon d'Or, maka trofi dan statistik saja tidak cukup. Profesionalitas dan sikap positif di lapangan maupun di luar lapangan menjadi kunci penting dalam membangun warisan kariernya. Saatnya ia menunjukkan kematangan, bukan hanya dalam dribel dan gol, tetapi juga dalam sikap dan ketenangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya