Hilirisasi Batu Bara Pengganti LPG, Bahlil Pikir-Pikir Pilih China, Korsel hingga Eropa

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan, teknologi untuk hilirisasi batu bara menjadi DME makin efisien.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 28 Oktober 2025, 21:15 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia masih memfinalisasi mitra teknologi hilirisasi batu bara jadi Dimethyl Ether (DME) pengganti LPG. Ada tiga negara yang berpotensi masuk, yakni China, Eropa, hingga Korea Selatan.

Bahlil menuturkan, saat ini pemerintah masih melakukan uji coba feasibility study (FS) termasuk menilik teknologi yang tepat. Sudah ada pertimbangan melibatkan China dan gabungan Eropa dan Korea Selatan dalam daftarnya.

"DME, kita belum finalkan. Sekarang kita lagi uji FS-nya dengan teknologinya. Tetapi ancang-ancangnya sudah ada dua. Satu dari China, satu gabungan antara Korea dan Eropa. Nanti kita lihat, finalnya nanti kita lihat ya," jelas Bahlil usai Sarasehan 100 Ekonom, di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Dia memastikan tak ada masalah pada aspek infrastruktur penunjang hilirisasi DME tersebut. Termasuk juga dengan kebutuhan pasokan batu bara untuk diproses jadi DME.

"Enggak ada masalah. Karena DME itu pakai batu bara low kalori, dan batubara kita cadangan kita banyak sebenarnya, dan teknologinya sekarang sudah jauh lebih efisien," ujarnya.

"Memang kesini-kesini teknologinya semakin berinovasi ya. Jadi akan jauh lebih baik," Bahlil Lahadalia menambahkan.

Ditentukan Danantara

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dilakukan mulai 2026. Hanya ada dua telnologi yang akan masuk kriteria yaitu China dan Eropa.

Bahlil menjelaskan, proyek hilirisasi DME ini telah melewati masa pra-feasibility study (FS), sejalan dengan 18 proyek hilirisasi. Adapun, finalisasinya saat ini digodok Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

"Sekarang, dari pra FS itu dipelajari oleh konsultan untuk finalisasi di Danantara. Dari sekian banyak, 18 project itu salah satunya adalah DME," ungkap Bahlil usai acara Anugerah Subroto, di Hotel Kempinski, Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Dia mengatakan, proyek ini akan dimulai pada 2026. Penentuan mitranya sendiri dilimpahkan ke Danantara. Dia meyakini hilirisasi DME bisa menjadi substitusi impor LPG nasional.

 

Kurangi Impor LPG

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Mengingat lagi saat ini konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksinya baru 1,3 juta ton. Sehingga, masih ada 6,5 sampai 7 juta ton LPG yang diimpor ke RI.

"Tahun depan (mulai). Ini mitranya nanti dengan Danantara, teknologinya kan macam-macam ya, teknologi dari China, itu, bisa juga dari Eropa," kata Bahlil.

Saat ini dia bilang, belum diputuskan teknologi mana yang akan digunakan. Hanya saja, China dan Eropa dipastikan menjadi opsinya. "Belum, tapi dua aja kalau enggak Eropa, China, yang efisien," ujar dia.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya