Said Aqil: Santri Tidak Boleh Ketinggalan Teknologi

Kiai Said pun mengajak, kepada para kaum santri untuk belajar dari Korea, yang mampu menggunakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligent).

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 24 Oktober 2025, 19:00 WIB
Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Prof KH Said Aqil Siroj (kiri) saat menerima investor dari Korea Selatan di kediamannya di Pesanten Al Tsaqofah, Jagakarsa, Jakarta, Jumat (24/10/2025) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Prof KH Said Aqil Siroj mengatakan, digitalisasi dan inovasi teknologi yang ada saat ini membuat semua orang di dunia saling terhubung. Mereka bisa saling berkomunikasi kapanpun dimanapun. Menurut dia, dunia pesantren harus cepat meresponsnya, teruma bagi kaum santri agar tak tertinggal.

"Santri tidak boleh ketinggalan teknologi, santri harus mampu memenangkan Digital War (Perang Digital), Kaum santri harus memiliki Ciber Army (Pasukan Siber) yang solid, agar bisa menguasai dunia dengan sempurna, baik secara online maupun offline," kata Said saat kedatangan puluhan investor dari Negeri Ginseng ke kediamannya di Pesanten Al Tsaqofah, Jagakarsa, Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Kiai Said mencontohkan, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang telah terbukti mampu memanfaatkan Kekuatan Digital, untuk mengolah Sosial Capital (modal sosial), dan Cultural Capital (Modal Budaya). Karena itu, saat ini negara tersebut mampu merebut pasar dunia dan menguasai tren serta gaya hidup warga dunia.

"Lihat Kpop, lagu dan artis Korea, membanjiri kehidupan sehari-hari anak muda di seluruh dunia. Bahkan saat ini, semua produk kosmetik, mode dan tren kecantikan di seluruh dunia berkiblat pada Korea," tutur dia.

Kiai Said pun mengajak, kepada para kaum santri untuk belajar dari Korea, yang mampu menggunakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligent) dengan menjadi alat bantu pemasaran Kreatif dan inovatif. Tujuannya, agar generasi santri ke depannya mampu bersaing secara Global dan menjadi pengendali global (Global Driver).

"Segera perbanyak kader kader Developer, Kader Data Scientist dan Kader Kader Hecker Putih (With Hecker) yang mampu menggerakkan perubahan dunia dari lingkungan pesantren," pesan mantan Ketua Umum PBNU itu.

 

Santri dan Pesantren Gerbang Utama

Menanggapi pesan itu, Sang Kook Kim, salah seorang investor dari Korea Selatan yang hadir dalam momentum silaturahmi tersebut mengatakan santri dan pesantren adalah gerbang utama dari kerjasama Indonesia-Korea. Khususnya, terkait dunia digital.

"Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memiliki jearing yang luas dan pengikut yang fanatik serta memiliki potensi ekonomi dan budaya yang bagus untuk dikembangkan," kata pria yang menjabat sebagai Chairman M Sharia itu.

Sementara itu, Shofia Koswara, Pimpinan Adi Kencana Group yang ikut mendamping para investor asal Korea Selatan bertemu Kyai Said berharap, dunia pesantren dapat dikembangkan dalam upaya pemasaran berbasis digital, khususnya produk kosmetik halal.

Menyambut harapan itu, Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang Prof. Dr. Ir. Helmi Purwanto, ST, MT, memastikan kerja sama kampusnya dengan kelompok investor dari Korea Selatan dapat menjadi garda depan pengembangan link adn match perguruan tinggi dengan dunia kerja berskala global.

"Kami mendorong peluang terbukanya kesempatan pertumbuhan kreatif dan lapangan kerja bagi mahasiswa juga masyarakat secara luas," tutup Prof Helmi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya