Pertamina Siapkan Strategi Pertumbuhan Ganda di Penjualan BBM dan LPG

Pertamina memiliki strategi dual growth strategy yang sejalan dengan strategi double track milik Petrobras.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 25 Oktober 2025, 18:30 WIB
Gedung PT Pertamina di Jakarta. Foto: Pertamina

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus mengakselerasi transisi energi melalui berbagai inovasi di bidang biofuel dan energi terbarukan. Menavigasi dinamika global, Pertamina menjalankan Strategi Pertumbuhan Ganda (Dual Growth Strategy).

Strategi Pertumbuhan Ganda ini terdiri dari bisnis eksisting Pertamina di industri fosil. Mencakup sektor hulu, pengolahan kilang, distribusi, hingga penjualan BBM, LPG, serta energi lainnya. 

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menuturkan, Pertamina memiliki strategi Dual Growth Strategy yang juga sejalan dengan strategi Double Track milik Petrobras, perusahaan migas nasional Brazil.

"Kedua strategi ini menekankan bahwa pengembangan bisnis low carbon harus berjalan beriringan dengan penguatan bisnis legacy atau bisnis inti yang sudah ada," ujarnya dalam siaran pers resmi Pertamina, Sabtu (25/10/2025).

Strategi lain yakni optimalisasi energi hijau sebagai energi rendah karbon. Dilakukan melalui pengembangan energi terbarukan, termasuk bahan bakar nabati (BBN) biofuel, bioetanol, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

"Biofuel merupakan salah satu program transisi energi terbesar di dunia. Melalui dukungan pemerintah, Pertamina telah mengembangkan biodiesel mulai dari program B2 (2 persen kandungan BBN), B5 (5 persen kandungan BBN), hingga kini mencapai B40 (40 persen kandungan BBN)," bebernya. 

"Program ini berhasil menghemat devisa lebih dari USD 40 miliar sejak tahun 2020, sekaligus membuka banyak lapangan kerja dan memberikan manfaat besar bagi lingkungan," kata Agung.

 

Target E10 untuk Dongkrak Konsumsi Bioetanol

Pertamax Green 95 sudah terpampang di SPBU Pertamina Jalan MT Haryono, Jakarta. Ini merupakan produk BBM campur bioetanol dengan tingkat RON 95. Foto: Liputan6.com/ Arief R

Selain biodiesel untuk solar, Pertamina juga memproduksi Pertamax Green 95, produk bensin yang mengandung 5 persen etanol (E5) dan telah tersedia di 163 SPBU di seluruh Indonesia. 

"Ke depan, kami menargetkan pengembangan E10, sehingga konsumsi bioetanol nasional akan meningkat," Agung menambahkan.

Agung menyebutkan, Pertamina belajar dari keberhasilan Brazil dalam memanfaatkan tebu (sugarcane) sebagai bahan baku bioetanol. 

"Brazil adalah contoh nyata bagaimana bioetanol dapat berhasil secara ekonomi, teknis, dan ekologis, bahkan membantu menjaga kelestarian hutan Amazon," ungkapnya.

Avtur dari Minyak Jelantah

Pertamina Patra Niaga memastikan stok Avtur dan sarfas dalam kondisi aman untuk mendukung kelancaran penerbangan Haji 2025 di 13 bandara embarkasi Haji seluruh Indonesia. Dok PPN

Selain bioetanol, Pertamina juga tengah mengembangkan bahan bakar penerbangan (avtur) berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari minyak jelantah (used cooking oil) sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan bisnis. 

Di kilang Pertamina di Cilacap, SAF telah diproduksi melalui proses co-processing minyak jelantah sebesar 2,5 persen. Produk ini telah diuji coba oleh maskapai Pelita Air dalam penerbangan dari Jakarta ke Denpasar.

"Program ini juga menjadi bagian dari ekonomi sirkular. Masyarakat dapat menjual minyak jelantah di lebih dari 30 titik pengumpulan di SPBU. Minyak ini kemudian diolah kembali menjadi bahan bakar ramah lingkungan untuk sektor penerbangan," tuturnya.

   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya