Liputan6.com, Jakarta - Honda Accord menjadi salah satu sedan menengah favorit di Amerika Serikat. Meskipun, penjualannya memang tidak pernah mengalahkan Toyota Camry, dalam beberapa tahun terakhir, dan hanya mampu mengekor model andalan dari pabrikan berlambang tiga oval tersebut.
Bahkan untuk saat ini, penjualan terbaru Honda Accord sudah semakin terjun bebas, setidaknya pada 2025 dibandingkan 2024. Sebuah tanda, jika memang minat konsumen di Negeri Paman Sam terhadap sedan dari jenama berlambang 'H' ini sudah mulai hilang.
Advertisement
Disitat dari Autoblog, pada September 2025, penjualan mobil penumpang Honda di Amerika Serikat mencapai 30 ribu unit, dengan Accord mendominasi.
Namun secara keseluruhan, penjualan Accord sendiri, turun lebih dari lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari bulan ke bulan, Honda Accord masih terlihat stabil, tapi tidak lagi sepopuler dulu di jajaran Honda. Lebih parahnya lagi, Civic juga mengalami kondisi yang setali tiga uang, dengan angka penjualan tahun ini yang menunjukan tren penurunan.
Sebaliknya, Acura TLX, kembaran Accord yang lebih mewah, justru mengalami peningkatan penjualan yang tak terduga tahun ini.
Acura TLX hampir mencapai akhir masa produksinya, tanpa ada rencana pengganti, sehingga para pembeli tampaknya bersemangat untuk mengamankan salah satu unit terakhir sebelum model ini benar-benar menghilang dari peredaran.
Nasib Honda sendiri mulai bergeser ke sektor lain dalam portofolionya. Prologue yang serba baru, sebuah SUV listrik, dengan cepat menjadi salah satu produk unggulan.
Pelanggan tertarik dengan perpaduan kepraktisan dan daya tarik mobil listrik modernnya, yang membantu Honda mendapatkan penjualan di segmen yang kompetitif.
Sedangkan Acura ZDX juga berkinerja baik. Lucunya, kedua model tersebut bukanlah Honda asli karena keduanya menggunakan platform Ultium yang dipasok oleh General Motors (GM).
Penjualan Mobil Listrik Honda Hancur Lebur, Modelnya Dianggap Kurang Canggih
Honda tengah menghadapi tantangan besar di pasar otomotif Tiongkok. Dua model mobil listrik khusus pasar Negeri Tirai Bambu, yakni S7 dan P7 yang diluncurkan melalui sub-merek Ye, ternyata tidak mampu menarik perhatian konsumen seperti yang diharapkan.
Bahkan, hanya beberapa minggu setelah peluncuran, harga S7 sudah dipangkas sekitar US$8.400 atau sekitar Rp137 juta karena permintaan yang lesu.
Disitat dari Carscoops, data penjualan pun mencerminkan situasi sulit yang dialami Honda tersebut. Pada April hingga Juni 2025, jenama yang tergolong lamban beralih ke mobil listrik ini mencatat penurunan penjualan sebesar 2 persen di Negeri Tirai Bambu, dengan total hanya 2.900 unit yang terjual.
Pencapaian tersebut, sudah termasuk performa dari S7 dan P7 yang justru diharapkan menjadi motor penggerak penjualan Honda di era elektrifikasi.
Salah satu hambatan utama ada di fitur teknologi. Meskipun kedua model sudah dibekali sistem bantuan pengemudi Honda Sensing 360+, keduanya tidak menghadirkan