Perintahkan Cabut Laporan, Bahlil Maafkan Penyebar Meme di Medsos: Asal Tidak Rasis, Saya Biasa Dihina Sejak SD

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaafkan orang yang menghina dan menjadikannya meme di sosial media. Bahlil menyebut sudah biasa dihina sejak masih kecil. Dia menceritakan asal usulnya sebagai orang kampung dan bukan berasal dari keluarga pejabat.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 24 Oktober 2025, 15:58 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaafkan sejumlah akun sosial media (sosmed) yang diduga menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian terhadapnya melalui konten meme. Bahlil mengaku tak mempersoalkan kritikan terkait kebijakannya. Asalkan tidak menjurus ke rasisme.

"Dan saya pikir ya, kalau ada yang meme-meme, sudah lah saya maafkan. Tidak apa-apa. Sebenarnya kalau kritisi kebijakan itu tidak apa-apa. Tapi kalau sudah pribadi, sudah mengarah ke rasis, itu menurut saya tidak bagus," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (24/10/2025). 

Bahlil menyebut sudah biasa dihina sejak masih kecil. Dia menceritakan asal usulnya sebagai orang kampung dan bukan berasal dari keluarga pejabat.

"Saya memang sudah biasa dihina sejak masih kecil. Karena saya kan bukan anak pejabat, saya anak orang dari kampung. Ibu saya hanya buruh cuci di rumah orang, ayah saya buruh bangunan," ujarnya.

"Jadi hinaan ini terjadi sejak saya SD, masih kecil. Jadi menurut saya itu tidak apa-apa," sambung Bahlil.

Meski begitu, Bahlil menyayangkan ada pihak-pihak yang berupaya menjadikan konten meme yang menghinanya untuk mengintervensi kebijakan pemerintah. Bahlil menegaskan tak akan mundur dalam menjalankan program kerja dan arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Saya tidak mau ada pihak-pihak yang mencoba untuk mendorong keinginannya mengintervensi kebijakan negara. Ini saya tidak mau. Apa pun kita akan pertaruhkan tentang kedaulatan negara. Karena bagi saya, menteri itu adalah pejabat negara pembantu presiden," tutur Bahlil.

Bahlil Instruksikan Cabut Laporan

Ketua Umum Partai Golkar itu akan meminta kadernya untuk mencabut laporan akun media sosial yang membuat meme tentangnya. Dia ingin laporan ke Polisi tak dilanjutkan dan saling memaafkan.

"Jadi insya Allah saya akan memanggil adik-adik saya itu, sayap organisasi, untuk sudah. Kalian yang sudah minta maaf, sudah maafkan. Jangan kita memperpanjang. Tapi jangan lagi, ya, kita memberikan didikan yang baiklah untuk rakyat, bangsa, dan negara," tutup Bahlil. 

Diberitakan sebelumnya, Sejumlah kader dari Dewan Pimpinan Pusat Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPP AMPI) menyambangi Bareskrim Polri, pada Senin (20/10/2025). 

Mereka datang untuk mengadukan puluhan akun media sosial yang diduga menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian terhadap Ketum Golkar Bahlil Lahadalia.

Wakil Ketua Umum DPP AMPI, Steven Izaac Risakotta turut membawa bukti-bukti berupa tangkapan layar dari postingan yang dianggap menghina saat menghadap penyidik Direktorat Siber Bareskrim. 

"Kami ke sini tujuannya itu untuk melaporkan ada beberapa media yang mana di situ mensertakan nama ketua umum kami, dalam hal ini Menteri ESDM, Bapak Bahlil Lahadalia, Kebetulan beliau juga selaku pembina di DPP AMPI," kata dia di Bareskrim Polri, Senin malam.

Steven lalu menyodorkan salah satu postingan. Terlihat, menampilkan foto Bahlil yang disandingkan dengan sesosok anak kecil. Tak hanya itu, dalam postingan yang sama juga tertera tulisan "Pak Prabowo kapan si jelek ini di reshuffle," 

Konten itu diunggah oleh akun @kementerianbakuhantam. Dia menganggap pemilik akun telah menyebarkan ujaran kebencian terhadap sosok Bahlil.

"Ada seperti ini satu, salah satunya. Dan ada bakal puluhan yang harus kita, tadi sudah kita fotokopikan dan kami sudah sertakan," ucap dia. 

Menurut Steven, langkah ini bukan perintah langsung dari Bahlil, melainkan bentuk spontanitas kader yang merasa terpanggil. Mereka menilai, konten yang diunggah sudah melampaui batas.

“Biar efek jera lah kepada akun-akun tersebut yang mana tidak bisalah dibenarkan, menyampaikan sesuatu hal di media itu harus secara yang lebih objektif dan bijak," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya