Liputan6.com, Jakarta Token platform Bittime, Palapa ($PLPA) mencatatkan pertumbuhan hingga 543,05% dalam 7 hari terakhir. Hal ini menjadikannya salah satu aset kripto lokal dengan performa yang baik di tahun ini..
PR & Marketing Communication Manager Bittime Efma Pasangka mengatakan, dengan lonjakan tersebut, $PLPA sukses menempati posisi Top Gainer di pasar aset kripto Indonesia pada platform Bittime dan Indodax.
Advertisement
"Hal ini menunjukkan tingginya minat dan antusiasme investor terhadap aset digital lokal yang menawarkan potensi pertumbuhan menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi global," kata dia, Jumat (24/10/2025).
Apalagi, pelemahan mata uang dan tingginya inflasi, aset digital seperti $PLPA menawarkan akses global, fleksibilitas, serta peluang pertumbuhan nilai yang tidak terikat. Sehingga dapat menjadi strategi alternatif bagi para investor yang ingin melindungi sekaligus mengembangkan nilai aset nya.
Pertumbuhan masif Bittime pun berpotensi mendorong peningkatan nilai dan utilitas token $PLPA. Beberapa analis komunitas yakin bahwa momentum pertumbuhan $PLPA ini didukung oleh pengembangan ekosistem Bittime yang berkelanjutan.
Selain itu, $PLPA memberikan fungsi eksklusif bagi para pemegang token melalui akses ke program Launchpool nya di Bittime. Program ini memberikan peluang airdrop dan reward menarik bagi para investor nya, sekaligus menciptakan insentif finansial jangka panjang.
Lebih lanjut, dalam ekosistemnya $PLPA juga menerapkan mekanisme token deflasi melalui program buyback dan burn berkala, di mana sebagian keuntungan Bittime digunakan untuk membeli kembali dan membakar token dari pasar. Langkah ini mengurangi suplai sirkulasi dan berpotensi meningkatkan nilai $PLPA seiring waktu.
Dengan kombinasi antara ekspansi pertumbuhan Bittime, utilitas token, dan strategi berkelanjutan, $PLPA yakin menjadi aset kripto dengan prospek pertumbuhan yang kuat di pasar Indonesia.
Kenaikan Harga Bitcoin Belum Aman: Inflasi hingga Perang Dagang Membayangi
Sebelumnya, harga Bitcoin (BTC) sempat turun ke kisaran USD 106.000 atau sekitar Rp 1,76 miliar (kurs dolar AS Rp 16.634) pada Kamis, 23 Oktober 2025 sebelum kembali menguat ke atas USD 108.000 atau Rp 1,79 miliar.
Hal ini setelah aksi jual oleh investor mereda dan arus masuk ETF spot meningkat. Namun, volatilitas tinggi membuat pelaku pasar berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Berdasarkan data Coinmarketcap.com, harga bitcoin naik 1,01% dalam 24 jam terakhir. Namun, harga bitcoin merosot 2,32% selama sepekan terakhir. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 109.072,50.
Data internal Tokocrypto menunjukkan, BTC sempat menguji area support di USD 106.100 setelah gagal menembus level resistance atas. Kondisi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS (DXY) dan pelemahan harga emas yang terancam kehilangan level psikologis USD 4.000 per ounce.
“Pergerakan harga Bitcoin kali ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika likuiditas jangka pendek dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS,” kata Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (23/10/2025).
"Arus masuk ETF memang memicu rebound teknikal, namun tekanan makroekonomi masih membatasi potensi kenaikan yang lebih agresif,” ia menambahkan.
Likuiditas Ketat dan Ekspektasi the Fed
Sementara itu, analis memperkirakan minggu ini akan menjadi periode penting bagi pasar aset berisiko, dengan data CPI September menjadi satu-satunya indikator yang bisa mempengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS).
Fyqieh menuturkan, CPI yang lebih lemah mendekati 0,2% akan memperkuat prospek penurunan suku bunga dan memperbaiki sentimen terhadap aset kripto, termasuk Bitcoin.