Liputan6.com, Jakarta - Setelah cukup lama menjauh dari hiruk pikuk politik praktis, mantan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva kembali ke panggung utama. Pada Sabtu (18/10/2025), ia terpilih kembali sebagai ketua Partai Demokrat—partai politik tertua di negeri itu—dalam rapat umum luar biasa di Bangkok. Ia menang telak tanpa lawan. Posisi ketua partai telah kosong sejak Chalermchai Sri-on mengundurkan diri bulan lalu dengan alasan kesehatan.
Kembalinya Abhisit ke kursi kepemimpinan ini, menurut analis politik Stithorn Thananithichot dari Universitas Chulalongkorn seperti dikutip dari Bangkok Post, merupakan langkah penting bagi Partai Demokrat dalam mempersiapkan diri menghadapi pemilu yang diperkirakan digelar pada 29 Maret 2026. Partai Demokrat saat ini menduduki 25 kursi dari total 500 di Majelis Rendah.
Advertisement
Abhisit sendiri bukan sosok baru: ia pertama kali menjadi anggota parlemen pada 1992 dan memimpin pemerintahan Thailand sebagai perdana menteri ke-27 antara Desember 2008 hingga Agustus 2011—periode yang diwarnai gejolak politik besar, termasuk demonstrasi "kaus merah" yang berujung bentrokan mematikan pada 2010. Ia mundur dari jabatan ketua partai setelah kekalahan besar pada pemilu 2019 dan sejak itu lebih banyak menjauh dari dunia politik. Kini, dengan kepercayaan diri baru, Abhisit menawarkan "alternatif" bagi rakyat Thailand.
"Motivasi saya sederhana," ujarnya secara eksklusif kepada Liputan6.com usai memberikan kuliah umum di ERIA School of Government, Jakarta, Rabu (22/10). "Saya ingin menawarkan sebuah pilihan lain. Terlalu sedikit politikus yang berbicara soal gambaran besar—tentang perubahan geopolitik, tantangan perubahan iklim, dan kebutuhan Thailand untuk menemukan mesin pertumbuhan baru. Saya hanya ingin memberikan alternatif itu. Rakyat berhak punya pilihan."
Menjelang pemilu yang diharapkan berlangsung pada Maret 2026, Abhisit mengakui bahwa partainya memulai dari posisi yang tidak menguntungkan.
"Kami baru saja memiliki komite eksekutif baru, jadi kami sadar sedang berada dalam ketertinggalan," tutur Abhisit. "Namun, kami punya gagasan yang ingin kami tunjukkan kepada rakyat—bahwa kami bisa membantu menyelesaikan masalah mereka. Kami mungkin tidak bersaing dengan partai lain dalam hal menarik anggota parlemen yang sudah ada, tapi memulai dari awal juga bukan hal buruk. Kami berharap bisa mendapatkan cukup dukungan untuk menjadi suara yang kuat."
Isu Utama di Thailand hingga Rivalitas Kekuatan Besar di ASEAN
Dalam pandangannya, masalah utama yang kini dihadapi rakyat Thailand adalah ekonomi yang lesu.
"Kita tumbuh di bawah potensi," kata dia. "Pertumbuhan kita lebih lambat dari negara tetangga, jauh lebih lambat dibanding masa lalu. Padahal, dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, kita bisa menyelesaikan banyak masalah lain dengan lebih mudah. Tentu ada isu lain yang harus ditangani, tapi salah satu hal utama yang diharapkan rakyat sekarang adalah ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan."
Abhisit juga menanggapi ketegangan terbaru di perbatasan Thailand–Kamboja, yang belum lama ini menelan korban jiwa. Ia menekankan pentingnya penyelesaian damai.
"Kita sudah punya perjanjian dan mekanisme bilateral untuk menyelesaikan persoalan seperti ini," tegas Abhisit. "Thailand harus mendorong Kamboja untuk menghormati dan menggunakan mekanisme itu agar persoalan dapat diselesaikan dengan damai."
Sebagai mantan perdana menteri yang tentunya memahami dinamika kawasan, Liputan6.com turut menanyakan pandangannya mengenai meningkatnya persaingan pengaruh antara kekuatan besar di ASEAN.
"ASEAN seharusnya memainkan peran yang lebih menonjol," beber Abhisit. "Dunia akan diuntungkan dari berkurangnya ketegangan dan terciptanya stabilitas. Semakin banyak koneksi—baik ekonomi maupun lainnya—akan semakin bermanfaat bagi rakyat. Saya berharap, entah negara kecil atau kekuatan besar, semuanya bisa percaya pada prinsip itu."
Dengan kembalinya Abhisit ke pucuk pimpinan, banyak pihak berharap Partai Demokrat—yang hampir berusia 80 tahun—dapat kembali menemukan relevansinya di tengah lanskap politik yang kian terfragmentasi. Harapan serupa juga diungkapkan Chuan Leekpai, mantan pemimpin partai sekaligus mantan perdana menteri.
"Abhisit adalah politikus berpengalaman, bukan pebisnis yang masuk politik demi keuntungan pribadi. Ia membawa integritas dan legitimasi—dua hal yang selalu membuat Partai Demokrat bertahan selama ini," ujar Chuan seperti dikutip Bangkok Post.