Liputan6.com, Jakarta Pagi baru saja dimulai di MIN 1 Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Senyum Tisya (11) sudah merekah cerah. Matanya tertuju pada ompreng logam berwarna silver yang tersaji rapi di atas meja sekolah.
Isinya menggugah selera. Ada sepotong ayam goreng, tahu bacem berwarna cokelat keemasan, sayur wortel dan labu jepang, serta beberapa butir anggur merah segar. Itu adalah makanan yang disajikan bagian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Advertisement
Begitu guru memberi aba-aba, Tisya langsung menyambar sendoknya. Dia menyantap makanan itu dengan lahap, satu per satu suapan masuk ke mulut kecilnya. Tak sampai lima menit, isi omprengnya ludes tak bersisa.
“Rasanya enak,” ucapnya singkat sambil tersenyum.
Sudah sebulan terakhir, menyantap makanan MBG menjadi bagian dari rutinitas pagi di sekolah ini. Bagi Tisya yang kini duduk di bangku kelas VI, makanan ini bukan sekadar mengenyangkan perut, tapi juga menghemat uang jajan.
“Sekarang saya jarang jajan,” kata Tisya.
Bukan hanya Tisya. Sang adik, Attaya (8), yang duduk di kelas III di sekolah yang sama, juga turut merasakan manfaat makanan MBG.
"Uang jajan hemat, malah dibawa pulang," ucap Attaya.
Anak Kenyang, Uang Jajan Aman
Sang ibu, Dila kini tak lagi tergesa-gesa menyiapkan bekal untuk kedua anaknya, Tisya dan Attaya. Sejak sekolah mereka mendapat jatah makanan MBG dari pemerintah, rutinitas pagi di rumah jadi lebih tenang.
Tak hanya meringankan pekerjaan, Dila juga merasa lega anak-anaknya kini mendapatkan asupan gizi yang layak tanpa perlu jajan sembarangan di luar.
“Mereka bilang sudah kenyang makan MBG di sekolah, jadi tidak jajan sembarangan lagi,” tutur Dila.
Dampaknya pun terasa di kantong. Biasanya, uang jajan Tisya sebesar Rp 8.000 dan Attaya Rp 7.000 habis tak bersisa. Tapi kini, setelah menikmati MBG di sekolah, keduanya masih bisa membawa pulang uang sisa Rp 5.000.
Namun lebih dari soal penghematan, Dila juga merasa tenang karena menu MBG yang diberikan sekolah selalu berganti dan lengkap gizinya. Setiap hari, Tisya dan Attaya mendapatkan makanan yang mengandung protein, karbohidrat, dan lemak dalam porsi seimbang.
"Kandungan gizi semua terpenuhi, mulai dari protein, energi, karbohidrat dan lemaknya sangat cukup," ujarnya.
MBG Sudah Sasar 35,4 Juta Orang
Presiden Prabowo Subianto menyebut, MBG sudah menyentuh 35,4 juta orang. Data ini merupakan akumulasi penerima MBG sejak 6 Januari hingga 15 Oktober 2025.
Data tersebut diungkapkan Prabowo saat bertemu 400 lebih CEO global di acara Forbes Global CEO Conference 2025 di Hotel St Regis, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025) malam.
"Kami hari ini telah memberi makan 35,4 juta orang,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, jumlah penerima MBG di Indonesia hampir tujuh kali populasi penduduk di Singapura. Saat ini, penduduk di Singapura tercatat sebanyak 6,11 juta orang.
Pemerintah menargetkan, MBG bisa menyasar 82,9 juta orang pada kuartal keempat 2025. Untuk mendukung target tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) direncanakan mencapai 32.000 unit.
Namun hingga 1 Oktober, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat baru 10.012 SPPG yang terbentuk.
8 Manfaat MBG
Pakar Kesehatan Masyarakat, Ngabila Salama mengatakan, manfaat MBG sangat luas dan menyentuh banyak aspek penting dalam tumbuh kembang anak.
Dia menyebutkan, setidaknya ada delapan manfaat utama dari program ini, yang berdampak langsung pada kesehatan fisik, mental, hingga kondisi ekonomi keluarga siswa.
Pertama, mencegah stunting dan anemia, dua masalah gizi yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Dengan rutin mengonsumsi makanan bergizi dari MBG, anak-anak mendapatkan cukup zat besi, vitamin A, dan protein hewani.
Itu merupakan komponen penting untuk mencegah kekurangan gizi kronis yang dapat berdampak jangka panjang. "Makan bergizi gratis akan menyiapkan fisik dan mental calon orang tua untuk cegah stunting pada anaknya kelak," kata dr Ngabila.
Kedua, MBG menunjang pertumbuhan fisik anak secara optimal. Menu yang kaya akan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak.
Di masa pertumbuhan, asupan ini sangat penting agar anak mencapai tinggi dan berat badan ideal, serta berkembang dengan sehat.
Ketiga, asupan gizi seimbang dari MBG membantu anak-anak lebih fokus dan aktif saat belajar di kelas. Perut yang kenyang membuat mereka tidak lagi terganggu oleh rasa lapar saat jam pelajaran berlangsung. Nutrisi yang cukup juga memberikan energi yang dibutuhkan untuk berpikir dan menyerap materi pelajaran.
Keempat, MBG secara perlahan membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Anak-anak mulai terbiasa dengan makanan rumahan yang seimbang, dan tidak lagi bergantung pada jajanan yang rendah gizi. Ini menjadi modal penting dalam membentuk gaya hidup sehat yang akan terbawa hingga dewasa.
"Anak-anak SD akan mereplikasi menu sehat MBG sesuai konsep isi piringku ke rumah masing-masing, mereka terbiasa sampai menjadi ortu nantinya," jelasnya.
Kelima, MBG bisa mengurangi beban ekonomi keluarga, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Orang tua tidak lagi harus menyiapkan bekal setiap hari atau memberi uang jajan dalam jumlah besar.
Bahkan banyak anak kini justru membawa pulang sebagian uang jajannya karena merasa sudah kenyang. Bagi keluarga dengan lebih dari satu anak sekolah, ini tentu menjadi bantuan nyata yang meringankan pengeluaran harian.
Manfaat keenam adalah meningkatkan imunitas tubuh anak. Nutrisi yang lengkap memperkuat daya tahan tubuh, sehingga anak tidak mudah terserang penyakit. Imun yang kuat juga berarti kehadiran sekolah yang lebih konsisten dan prestasi belajar yang lebih stabil.
Ketujuh, program ini juga membantu membangun keseimbangan emosional anak. Anak yang tidak lapar lebih tenang, tidak mudah marah atau rewel, dan lebih mudah diajak berinteraksi. Ini berpengaruh besar terhadap suasana belajar di kelas dan hubungan sosial antarsiswa.
Terakhir, MBG meningkatkan partisipasi sekolah. Banyak anak yang tadinya enggan sekolah karena lapar atau tidak punya bekal, kini bersemangat karena merasa diperhatikan. Mereka tahu bahwa di sekolah, mereka tidak hanya belajar, tapi juga mendapat perhatian terhadap kebutuhan dasarnya. "Jadi untuk kelompok ekonomi menengah ke bawah sangat banyak manfaat MBG," kata dr Ngabila.