Pertama Kalinya, Nyamuk Ditemukan Hidup di Alam Liar Islandia

Bagaimana kisah bersejarah penemuan nyamuk di alam liar Islandia? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Oktober 2025, 11:12 WIB
Ilustrasi nyamuk. (Dok. Unsplash.com/Thomas Kinto)

Liputan6.com, Reykjavik - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, nyamuk berhasil ditemukan di Islandia — negeri yang dikenal sebagai salah satu tempat terakhir di dunia yang bebas dari serangga penghisap darah ini. Penemuan tersebut terungkap pada Senin (20 Oktober), ketika Matthias Alfredsson, seorang ahli entomologi dari Institut Ilmu Alam Islandia, mengonfirmasi kabar mengejutkan itu kepada AFP.

Tiga ekor nyamuk dari spesies Culiseta Annulata ditemukan sekitar 30 kilometer di utara ibu kota Reykjavik. Dua di antaranya betina, satu jantan. Menariknya, mereka tidak ditemukan di rawa atau genangan air seperti lazimnya, melainkan dalam perangkap tali beraroma anggur manis — potongan kain yang direndam dalam campuran anggur berpemanis yang dipanaskan untuk menarik ngengat.

Selama ini, Islandia dikenal sejajar dengan Antarktika sebagai wilayah yang tidak pernah dihuni nyamuk. Dingin yang menusuk dan musim dingin yang panjang selalu menjadi benteng alami bagi negeri ini. Dengan demikian, pengumuman Alfredsson menjadi babak baru dalam sejarah alam Islandia.

"Ini adalah catatan pertama keberadaan nyamuk di lingkungan alami di Islandia," tulis Alfredsson dalam surelnya.

Ia juga mengingat satu kisah lama, yaitu bertahun-tahun lalu pernah ditemukan seekor nyamuk Aedes Nigripes di sebuah pesawat di bandara Keflavik. Namun, spesimen tunggal itu kini telah hilang, seolah menjadi legenda kecil sebelum kisah nyata dimulai.

Alfredsson menduga, nyamuk-nyamuk yang baru ditemukan ini datang melalui kapal atau kontainer yang singgah di pelabuhan Islandia. Namun, ia menegaskan, masih diperlukan pemantauan di musim semi mendatang untuk memastikan apakah spesies ini bisa bertahan hidup dan berkembang biak di alam liar Islandia.

Mampu Beradaptasi

Ilustrasi Islandia. (Dok. Joshua Sortino/Unsplash)

Perubahan iklim perlahan mengubah wajah dunia bagian utara. Suhu rata-rata naik sedikit demi sedikit, musim panas bertahan lebih lama, dan musim dingin tidak lagi sekeras dulu. Dalam kondisi baru ini, banyak spesies yang dulunya tidak mungkin bertahan mulai menemukan celah untuk hidup — termasuk nyamuk.

Namun, Alfredsson tidak serta-merta mengaitkan penemuan nyamuk di Islandia dengan cuaca yang menghangat. Menurutnya, spesies Culiseta annulata memang sudah terbiasa dengan udara dingin.

"Spesies ini tampak mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim dingin," ujarnya. 

Ketahanan itu memungkinkan nyamuk ini bertahan melewati musim dingin yang panjang dan keras, ketika suhu turun jauh di bawah titik beku.

Ia menambahkan, keragaman tempat berkembang biak serangga ini juga membantu mereka bertahan di lingkungan ekstrem Islandia. Dengan kata lain, makhluk kecil ini bukan sekadar tamu yang terbawa angin, melainkan pendatang yang tahu cara hidup di negeri es.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya