Liputan6.com, Jakarta Ratusan siswa SMKN 3 Kota Sukabumi berkumpul di lapangan sekolah. Di bagian depan, terlihat seorang siswi membawa kardus bermotif bunga-bunga. Satu per satu siswi maju ke depan dan mendonasikan uang Rp 1.000 ke dalam kotak. Ini bagian dari program "Rereongan Sapoe Sarebu" atau Poe Ibu (Sumbangan Seribu Sehari) yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Lubna Salsabila, salah satu siswi Kelas XI menuturkan, pengumpulan donasi dilakukan perwakilan kelas maju ke depan usai upacara. Menurutnya. program ini sama sekali tidak memberatkan karena nominal Rp1.000 adalah bagian kecil dari uang jajannya.
Advertisement
"Enggak memberatkan, kok, cuma seribu. Uang bekal kita kan pasti lebih dari itu. Kalau aku sendiri rutin menyumbang seribu. Teman-teman juga ada yang ikut dan ada yang tidak, dan itu wajar. Kalau lagi enggak punya uang, ya enggak apa-apa," ungkapnya.
Program ini sudah berjalan selama dua minggu di SMKN 3 Kota Sukabumi. Guru Bimbingan Konseling (BK) SMKN 3 Kota Sukabumi, Asep Dede Kurnia, menjelaskan, instruksi pelaksanaan program ini datang dari Kantor Cabang Dinas (KCD) Jawa Barat Wilayah V.
"Imbauan dari Pak Gubernur disampaikan ke dinas pendidikan, lalu ke KCD wilayah, baru kemudian diteruskan ke sekolah-sekolah," jelas Asep dikonfirmasi Selasa (21/10/2025).
Asep menegaskan gerakan ini sepenuhnya bersifat sukarela. Ada siswa yang bersedia menyumbangkan Rp1.000. Bahkan banyak yang menyumbang lebih dari nominal tersebut.
Donasi ini dikumpulkan oleh tim kepanitiaan setiap hari Senin setelah upacara bendera. Tidak hanya siswa, para guru dan tenaga honorer juga turut berdonasi.
"Gerakan ini sangat positif karena menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan sekolah. Intinya, siswa yang secara ekonomi mampu dan memiliki uang lebih bisa membagi kepada teman-teman mereka yang kurang mampu," imbuhnya.
Donasi Digunakan untuk Bantu Ongkos hingga Seragam
Dengan total 1.200 siswa dan 70 guru/tenaga honorer, dana yang terkumpul digunakan untuk membantu kebutuhan siswa yang mengalami kesulitan ekonomi.
"Uang donasi ini dialokasikan untuk siswa yang kesulitan, misalnya masalah ongkos transportasi atau seragam sekolah. Kami mendata siswa yang membutuhkan, terutama berdasarkan informasi dari wali kelas, agar hambatan sekolah karena masalah ekonomi bisa teratasi. Setelah datanya valid, bantuan segera kami salurkan," jelas dia.
Transparansi menjadi kunci dalam program ini. Asep menjelaskan, uang yang terkumpul dikelola oleh panitia khusus dan dananya disimpan di rekening terpisah.
"Setiap Senin setelah upacara, kami adakan 'Sapoe Sarebu' secara ikhlas dan sukarela. Pengumuman total pemasukan dan pengeluaran disampaikan secara terbuka kepada siswa," tutupnya.