Liverpool di Bawah Arne Slot: Terlalu Terbuka, Terlalu Mudah Ditembus

Empat kekalahan beruntun menelanjangi masalah mendasar Liverpool di bawah Arne Slot: pertahanan rapuh, struktur tidak stabil, dan serangan tanpa keseimbangan.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 21 Oktober 2025, 10:31 WIB
Manajer Liverpool Arne Slot bereaksi dalam laga Liga Inggris antara Liverpool dan Manchester United di Anfield, 19 Oktober 2025. (AP Photo/Ian Hodgson)

Liputan6.com, Jakarta Untuk pertama kalinya sejak era Brendan Rodgers pada 2014, Liverpool kembali terperosok dalam rentetan empat kekalahan beruntun di semua kompetisi. Perbandingannya terasa ironis, dulu mereka gagal menggantikan Luis Suarez, kini mereka gagal membentuk harmoni di tengah limpahan pemain mahal.

Hampir sebelas tahun berselang, situasi di Merseyside memang tak seburuk masa kelam itu. Namun, tanda-tanda kemunduran sudah terlihat jelas. Di bawah Arne Slot, Liverpool terlihat seperti tim dengan talenta besar tapi tanpa arah yang pasti.

Kekalahan 1-2 dari Manchester United di Anfield yang juga menjadi kemenangan tandang pertama United sejak 2016, hanya menegaskan betapa rapuhnya tim ini. Slot menyalahkan kegagalan penyelesaian akhir, namun persoalan Liverpool jauh lebih dalam dari sekadar peluang yang terbuang.

“Dari delapan atau sembilan peluang terbuka, kami hanya bisa mencetak satu gol,” ujar Slot. “Kami menciptakan banyak kesempatan, tapi tidak cukup tajam untuk menang.” Namun dalam kenyataannya, Liverpool bukan hanya tidak efisien, mereka juga kehilangan kontrol.


Terlalu Mudah Ditembus, Terlalu Sulit Dipahami

Bek Manchester United asal Belanda #04, Matthijs de Ligt, berebut bola dengan bek Liverpool asal Hungaria #06 Milos Kerkez dalam pertandingan Premier League Inggris antara Liverpool dan Manchester United di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 19 Oktober 2025. (PETER POWELL/AFP)

Dengan 64 persen penguasaan bola dan 19 tembakan, Liverpool seolah tampil dominan. Tapi di balik angka itu, struktur permainan mereka berantakan. Slot membangun tim yang terlalu terbuka, terlalu mudah ditembus, dan kehilangan keseimbangan antara serangan dan pertahanan.

Opta mencatat bahwa United menciptakan jumlah peluang besar yang sama dengan Liverpool, meski bermain defensif. Artinya, ini bukan kekalahan karena ketidakberuntungan. Ini masalah sistemik.

Dalam 12 pertandingan di semua kompetisi, Liverpool sudah kebobolan dua gol atau lebih dalam tujuh laga. Musim lalu, mereka hanya kemasukan tiga gol dari delapan laga pertama Premier League; musim ini, jumlah itu melonjak menjadi 11.

Bahkan gol cepat Bryan Mbeumo pada menit kedua di Anfield menggambarkan semua masalah itu: komunikasi buruk, jarak antarbek yang terbuka, dan kiper Giorgi Mamardashvili yang salah antisipasi.

Liverpool tampak kehilangan koordinasi di setiap lini, dan rasa percaya diri mereka ikut menurun setiap kali bola berada di area berbahaya.


Salah, Isak, dan Krisis Efektivitas

Penyerang Liverpool asal Swedia #09, Alexander Isak (tengah), gelandang Liverpool asal Hongaria #08, Dominik Szoboszlai (kiri), dan penyerang Liverpool asal Mesir #11, Mohamed Salah, menunggu babak kedua dimulai dalam pertandingan Premier League antara Liverpool dan Manchester United di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 19 Oktober 2025. (PETER POWELL/AFP)

Masalah efisiensi yang disoroti Slot memang nyata. Cody Gakpo tiga kali mengenai tiang sebelum akhirnya mencetak gol penyama kedudukan, hanya untuk kemudian menyia-nyiakan peluang emas lima meter dari gawang.

Lanjut Baca:

Alexander Isak gagal menaklukkan Senne Lammens, sementara Mohamed Salah memperpanjang rekor buruknya menjadi tujuh laga Premier League tanpa gol non-penalti, rekor terpanjang dalam kariernya di Liverpool. Namun jika finishing adalah satu-satunya problem, Liverpool tak akan seburuk ini. Serangan mereka memang mengalir, tetapi kehilangan arah. Struktur pressing yang tak sinkron membuat mereka terlalu mudah diserang balik, dan begitu kehilangan bola, jarak antarlini terlalu lebar. Virgil van Dijk mengakui bahwa timnya bermain dengan panik. “Kami terlalu terburu-buru,” katanya. “Kami membuat keputusan yang salah, dan di saat itulah kami menjadi terbuka ketika kehilangan bola.” Pernyataannya menegaskan bahwa masalah Liverpool bukan hanya teknis, tapi juga psikologis: mereka kehilangan rasa tenang yang dulu menjadi ciri khas era Jurgen Klopp.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya