Gara-gara Nonton Film Horor di Sekolah, Siswi China Alami Gangguan Mental

Pihak sekolah diminta pertanggungjawaban atas masalah mental yang dialami oleh siswa ini.

oleh Indra Cahya VanleonDiterbitkan 21 Oktober 2025, 20:30 WIB
Ilustrasi gangguan mental/copyright freepik.com/freepik

Liputan6.com, Beijing - Seorang siswi di China viral usai mengalami gangguan mental mendadak setelah menonton film horor saat jam self-study (belajar mandiri) di sekolahnya.

Kasus ini berujung ke pengadilan, dan pihak asuransi sekolah kini diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 9.182 yuan atau sekitar Rp21 juta,dilansir dari SCMP, Selasa (21/10/2025).

Insiden ini terjadi pada Oktober 2023 di sebuah sekolah di Hengzhou, daerah otonom Guangxi Zhuang, China bagian selatan.

Saat itu, guru pengawas sedang cuti sementara, sehingga siswa diizinkan melakukan belajar mandiri di kelas.

Saat itu, para murid mengusul menonton film. Dengan persetujuan guru wali kelas dan seluruh siswa, mereka pun memilih film horor yang judulnya masih dirahasiakan.

Namun malam harinya, siswi berinisial Zihan mulai menunjukkan perilaku aneh.

Saat berbicara dengan ibunya secara daring, ucapannya tak lagi jelas dan tampak kebingungan.

Orang tuanya yang panik langsung membawanya ke rumah sakit.

Hasil Pemeriksaan

Dari hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosis Zihan mengalami gangguan psikotik akut dan sementara, yakni kondisi kehilangan kontak dengan realitas akibat tekanan psikologis.

Keluarga Zihan meyakini bahwa kondisi itu disebabkan oleh tontonan film horor di sekolah.

Mereka menilai pihak sekolah lalai dalam mengawasi kegiatan belajar siswa dan menuntut ganti rugi sebesar 30.000 yuan atau sekitar Rp69 juta.

 

Berujung ke Pengadilan

Ilustrasi pengadilan (Pexels/Katrin Bolovtsova)

Dalam sidang, pengadilan menegaskan bahwa Zihan tidak memiliki riwayat gangguan mental, baik pribadi maupun keluarga.

Pihak sekolah membantah tuduhan lalai, dengan alasan bahwa insiden tersebut lebih disebabkan oleh kondisi fisik khusus atau penyakit bawaan dari siswa.

Mereka juga menegaskan telah memiliki sistem pendidikan kesehatan mental yang memadai dan hanya bersedia menanggung 10 persen tanggung jawab.

Sekolah mengaku telah memiliki asuransi tanggung jawab untuk lebih dari 5.000 siswa, termasuk Zihan, dengan batas perlindungan individu mencapai 500.000 yuan atau sekitar Rp1,1 miliar.

Putusan Hakim

Namun, Pengadilan Hengzhou memutuskan bahwa sekolah tetap bertanggung jawab 30 persen atas kejadian tersebut dan memerintahkan perusahaan asuransi untuk membayar kompensasi sebesar Rp21 juta kepada keluarga Zihan.

Dalam putusannya, pengadilan menyebut bahwa kegiatan menonton film dilakukan dengan seizin sekolah, sehingga menunjukkan adanya kelalaian pengawasan.

Namun, karena Zihan ikut menonton secara sukarela, kondisi fisiknya juga dianggap turut memengaruhi kejadian tersebut.

Kasus ini memicu perdebatan di media sosial China.

"Sekolahnya sial. Sekarang mungkin mereka tidak akan berani memutar film apa pun lagi," tulis seorang warganet.

Namun pengguna lain menilai, sekolah tetap bersalah.

Seharusnya mereka tidak menayangkan film horor. Banyak film bagus lainnya yang bisa dipilih, apalagi film itu juga disetujui guru. Sekolah jelas punya tanggung jawab," tulisnya.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya