Bukan Cuma Atlet, Pekerja Kantoran hingga Ibu Rumah Tangga Juga Bisa Cedera

Bila mendengar kata cedera, biasanya identik dengan atlet. Padahal, cedera bisa terjadi pada siapa saja.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 19 Oktober 2025, 10:00 WIB
Ilustrasi Posisi duduk yang salah pada pekerja kantoran juga bisa memicu cedera (Photo by Damir Kopezhanov on Unsplash)  

Liputan6.com, Jakarta Bila mendengar kata cedera, biasanya identik dengan atlet. Padahal, cedera bisa terjadi pada siapa saja. Pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga bisa mengalami masalah pada saraf akibat posisi tubuh yang salah atau kebiasaan berulang.

Pada pekerja kantoran misalnya, duduk berjam-jam dengan postur yang salah bisa memengaruhi postur dan saraf tertekan.

“Duduk delapan jam di depan laptop tanpa jeda bisa memengaruhi keseimbangan postur dan membuat saraf tertekan. Lama-lama, muncul nyeri punggung, bahu, atau kesemutan di tangan,” kata dokter spesialis saraf atau neurologi Irca Ahyar. 

Maka dari itu, Irca menganjurkan pemeriksaan saraf secara berkala, terutama bagi mereka yang aktif bergerak.

“Pemeriksaan saraf bukan hanya untuk orang yang sakit. Ini bagian dari pencegahan. Kita bisa tahu sejak dini apakah ada ketidakseimbangan yang bisa memicu cedera,” katanya.

Hasil pemeriksaan ini juga menjadi dasar untuk menentukan terapi personal.

“Kadang pasien bilang lututnya sakit, tapi setelah kami periksa, ternyata masalahnya di saraf pinggul. Jadi sumber nyerinya bukan di tempat yang terasa sakit,” tambahnya saat acara DRI CONNECT: Media & Community Day yang digelar DRI Clinic di Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (16/10/2025).

Kenali Asal Nyeri untuk Cegah Cedera Berulang

Dokter spesialis neurologi Irca Ahyar mengatakan pasien yang kerap keluhkan rasa nyeri di tempat yang sama padahal sudah fisioterapi, stethcing, dan istirahat cukup bisa jadia ada masalah di saraf.

Sebagian besar terapi konvensional masih berfokus pada perbaikan gejala di permukaan. Kalau penanganan hanya fokus pada otot tanpa menelusuri jalur sarafnya, hasilnya seperti menambal ban tanpa mencari paku penyebabnya, alias cepat bocor lagi.

“Setiap tubuh itu unik. Karena itu, kami tidak memberikan terapi yang seragam. Kami menilai bagaimana otak, saraf, dan otot berkomunikasi. Kalau salah satu tidak seimbang, hasil pemulihan tidak akan optimal,” terang Irca.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi pasien dalam proses pemulihan. “Kami ingin pasien tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Kalau pasien mengerti asal nyerinya, mereka bisa lebih cepat pulih dan lebih sadar untuk mencegah cedera berulang,” katanya

Regenerasi Saraf Butuh Waktu

Banyak pasien ingin segera kembali beraktivitas begitu rasa sakit atau nyeri akibat cedera mereda. Namun, Irca  mengatakan regenerasi saraf berjalan jauh lebih lambat dibandingkan otot.

“Kalau dipaksakan terlalu cepat, cedera bisa kambuh. Pemulihan itu bukan sprint, tapi maraton. Yang penting bukan cepat sembuh, tapi pulih dengan benar,” ujarnya dalam keterangan tertulis. 

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya