Liputan6.com, Jakarta Kisah menakjubkan datang dari dunia hewan melata. Seekor ular piton bola (ball python) berusia 62 tahun di kebun binatang Saint Louis, Missouri, Amerika pada tahun 2020 membuat para ilmuwan tercengang.
Setelah lebih dari 15 tahun tanpa berinteraksi dengan pejantan, ular tertua di dunia itu justru bertelur dan menghasilkan keturunan yang hidup. Kondisi ini secara otomatis memunculkan pertanyaan besar mengenai mekanisme reproduksi yang terjadi.
Advertisement
Dilansir Liputan6.com dari Times of India, Sabtu (18/10/2025), manajer herpetologi kebun binatang, Mark Wanner, bahkan menyatakan bahwa ular ini kemungkinan besar adalah ular tertua yang pernah diketahui dalam sejarah yang berhasil menghasilkan telur.
Ular Tertua di Dunia Bertelur Setelah 15 Tahun Tanpa Jantan
Ular bola (ball pythons), yang berasal dari Afrika Tengah dan Barat, biasanya hidup hingga 30 tahun dalam penangkaran, menjadikan umur dan kesuburan ular ini sebagai suatu anomali yang luar biasa. Dari telur-telur yang ia bertelur, dua menetas dengan sukses, dan satu anak ular bertahan hidup, semakin memperdalam misteri proses reproduksinya.
Sementara rata-rata umur di alam liar lebih pendek, sekitar 10 hingga 15 tahun, beberapa individu telah jauh melampaui angka tersebut.
Reproduksi Aseksual
Menurut IFLScience, fenomena langka ini diduga sebagai bentuk parthenogenesis, atau reproduksi aseksual, di mana embrio berkembang tanpa pembuahan. Istilah parthenogenesis berasal dari bahasa Yunani yang berarti "penciptaan perawan."
Dalam proses ini, sel telur menyatu dengan sel pendamping (polar body) yang terbentuk selama pembentukan telur, menghasilkan keturunan yang secara genetik hampir identik dengan induknya.
Parthenogenesis, Fenomena Langka Tapi Nyata
Parthenogenesis bukan hanya terjadi pada ular, tapi juga telah terdokumentasi pada beberapa hewan lain seperti hiu, kadal, burung, lebah, dan bahkan tardigrade (hewan mikroskopis tahan ekstrem).
Beberapa spesies juga memiliki kemampuan menyimpan sperma atau sel telur untuk waktu lama, menunggu kondisi lingkungan yang paling ideal sebelum berkembang biak.
Kini, para peneliti dari Saint Louis Zoo dan beberapa universitas masih meneliti kasus ini untuk memastikan apakah reproduksi aseksual benar-benar terjadi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang biologi evolusi dan cara reproduksi reptil di masa depan.
Warisan Abadi Ular Tertua di Dunia
Warisan ular piton bola berusia 62 tahun ini bukan hanya soal usianya yang luar biasa, tetapi juga karena peristiwa reproduksi uniknya yang memicu perhatian dunia sains.
Meskipun ia telah mati pada tahun 2021, kisahnya tetap hidup sebagai bukti keajaiban adaptasi alam dan kemampuan luar biasa makhluk hidup, bahkan di usia tua.
Saint Louis Zoo bersama para peneliti kini terus menyelidiki genetika anak ular yang selamat serta mengeksplorasi kemungkinan parthenogenesis terjadi pada reptil dan hewan lainnya, membuka jalan baru dalam studi biologi reproduksi.
FAQ
Apakah ular bisa bertelur tanpa jantan?
Ya, bisa. Fenomena ini disebut parthenogenesis, yaitu reproduksi aseksual di mana embrio berkembang tanpa pembuahan oleh jantan.
Mengapa kasus ular piton 62 tahun ini dianggap langka?
Karena usia ular yang sangat tua dan fakta bahwa ia bertelur setelah 15 tahun tanpa jantan, sesuatu yang jarang sekali terjadi pada reptil.
Apakah anak ular dari parthenogenesis bisa bertahan hidup?
Biasanya sulit, tapi dalam kasus ini satu anak ular berhasil bertahan hidup, menunjukkan kemungkinan reproduksi aseksual yang sukses.
Apa manfaat ilmiah dari temuan ini?
Kasus ini membantu ilmuwan memahami lebih dalam tentang reproduksi dan evolusi reptil, serta menunjukkan strategi bertahan hidup alami ketika pejantan tidak tersedia.