Liputan6.com, Jakarta - CEO United Airlines, Scott Kirby, mengingatkan potensi dampak serius dari berlarutnya shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) terhadap industri penerbangan. Ia menilai, kebuntuan politik di Kongres dapat menekan permintaan tiket pesawat jika tidak segera diselesaikan.
Shutdown pemerintahan AS dimulai pada 1 Oktober setelah parlemen gagal menyetujui rancangan undang-undang pendanaan. Walau belum berdampak langsung terhadap bisnis United Airlines, Kirby menilai risiko kerugian bisa meningkat seiring bertambahnya waktu.
Advertisement
“Pada dua minggu pertama, banyak orang mengira kondisi ini akan cepat teratasi, jadi aktivitas masih normal,” ujarnya dikutip CNBC, Jumat (17/10/2025).
“Namun semakin lama masyarakat membaca berita bahwa situasi ini belum juga berakhir, kepercayaan terhadap pemerintah mulai turun. Itu bisa memengaruhi keputusan mereka untuk memesan penerbangan," tambah dia.
Kirby juga menambahkan, belum ada kepastian kapan dampaknya terasa. Namun, jika situasi berlarut-larut, tekanan terhadap ekonomi AS dapat semakin besar.
Kekhawatiran Baru
Peringatan Kirby sejalan dengan pandangan CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, yang sebelumnya juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menilai, shutdown berkepanjangan bisa mengganggu stabilitas sektor penerbangan secara keseluruhan, meskipun operasional Delta masih berjalan normal sejauh ini.
Penutupan sebagian layanan pemerintahan membuat sejumlah pegawai federal vital seperti petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) dan pengatur lalu lintas udara (air traffic controller) harus tetap bekerja tanpa gaji. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru di tengah keterbatasan jumlah tenaga penerbangan.
Badan Penerbangan Federal (FAA) juga melaporkan adanya kekurangan staf di beberapa fasilitas penting, yang sempat menyebabkan gangguan jadwal di bandara Nashville, Tennessee, serta Burbank, California.
Krisis 2018
Situasi semakin memanas setelah para petugas penerbangan menggelar aksi di sejumlah bandara besar seperti LaGuardia, Washington D.C., dan Chicago pada Selasa (15/10/2025). Mereka membagikan selebaran kepada penumpang, menyerukan agar pemerintah segera membuka kembali layanan pemerintahan.
Shutdown kali ini memunculkan kekhawatiran akan terulangnya krisis serupa pada 2018, ketika penutupan pemerintahan berlangsung lebih dari sebulan. Kala itu, kekurangan petugas penerbangan menyebabkan kekacauan jadwal di wilayah New York dan sekitarnya.
Kirby menegaskan, jika kebuntuan di Kongres tidak segera diakhiri, bukan hanya industri penerbangan yang akan terdampak, tetapi juga perekonomian nasional secara luas.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan keberuntungan. Ketidakpastian ini menciptakan efek domino bagi seluruh sektor,” pungkasnya.