5 Fakta Terkait Cuaca Panas Menyengat di Indonesia, BMKG Keluarkan Imbauan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, kondisi cuaca panas menyengat Indonesia bukanlah gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di negara subtropis.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 17 Oktober 2025, 16:16 WIB
Kondisi El Nino Moderate dan Dipole Mode Positif menunjukkan potensi curah hujan rendah untuk wilayah Indonesia. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai wilayah di Indonesia tengah dilanda cuaca panas yang signifikan belakangan ini hingga memicu perhatian publik dan pertanyaan mengenai penyebabnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun angkat bicara. BMKG menegaskan, kondisi cuaca panas Indonesia tersebut bukanlah gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di negara subtropis. Meskipun suhu terasa sangat tidak nyaman, kondisi ini masih berada dalam batas wajar untuk wilayah beriklim tropis.

Kondisi cuaca panas ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025, tergantung pada waktu masuknya musim hujan di masing-masing daerah.

Suhu maksimum yang tercatat di beberapa daerah menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 12 Oktober 2025, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat) mencatat suhu tertinggi 36,8°C. Sehari kemudian, 13 Oktober 2025, Sabu Barat (NTT) mencatat 36,6°C.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan agar tidak dehidrasi. Lalu, masyarakt diminta tidak berlama-lama di luar ruangan saat siang hari.

"BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh terutama dengan menjaga kebutuhan cairan dan menghindari paparan langsung sinar matahari terlalu lama," kata BMKG dalam keterangan, Rabu 15 Oktober 2025.

Terkait cuaca yang panas akhir-akhir ini BMKG mengungkapkan hal tersebut terjadi paling tidak karena dua faktor seperti disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

"Penyebab utama suhu panas ini adalah posisi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober berada di selatan ekuator," ucap Guswanto.

BMKG juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan sinar ultraviolet (sinar UV) pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di tengah kondisi cuaca panas musim pancaroba ini.

Berikut sederet fakta terkait cuaca panas yang melanda Indonesia belakangan ini dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. BMKG Sebut Bukan Gelombang Panas

Dan intensitas maksimum radiasi matahari pada kondisi cuaca cerah dan kurangnya tutupan awan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berbagai wilayah di Indonesia tengah dilanda cuaca panas yang signifikan, memicu perhatian publik dan pertanyaan mengenai penyebabnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan penjelasan komprehensif terkait fenomena ini, menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di negara subtropis.

Kondisi cuaca panas ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025, tergantung pada waktu masuknya musim hujan di masing-masing daerah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti imbauan kesehatan dari BMKG.

BMKG secara tegas menyatakan, cuaca panas yang dirasakan di Indonesia saat ini berbeda dengan gelombang panas atau heatwave. Meskipun suhu terasa sangat tidak nyaman, kondisi ini masih berada dalam batas wajar untuk wilayah beriklim tropis.

 

2. Suhu Maksimum Panas di Indonesia

Warga menggunakan payung saat berjalan di tengah cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (24/4/2023). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan dinamika atmosfer yang tidak biasa menjadi salah satu penyebab Indonesia mengalami suhu panas dalam bebrapa hari terakhir. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Suhu maksimum yang tercatat di beberapa daerah menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 12 Oktober 2025, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat) mencatat suhu tertinggi 36,8°C. Sehari kemudian, 13 Oktober 2025, Sabu Barat (NTT) mencatat 36,6°C.

Puncak suhu terjadi pada 14 Oktober 2025, di mana Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua) mencapai 37,6°C. Wilayah lain seperti Kalimantan, Papua, Jawa, NTB, dan NTT juga mengalami suhu maksimum antara 35–37°C, dengan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) mencapai 37,6°C di Jatiwangi.

BMKG memperkirakan bahwa kondisi cuaca panas ini akan terus berlangsung. Durasi fenomena ini bervariasi di setiap daerah, dengan perkiraan berakhir pada akhir Oktober atau awal November 2025, seiring dengan dimulainya musim hujan.

 

3. Faktor-Faktor Penyebab Cuaca Panas Menurut BMKG

Deputi BMKG Guswanto mengatakan peningkatan suhu yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya karena kondisi dinamika atmosfer. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

BMKG menjelaskan bahwa cuaca panas yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor utama. Salah satunya adalah gerak semu matahari yang optimum, di mana pada bulan Oktober, posisi matahari berada di selatan ekuator.

Posisi ini mengakibatkan wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang jauh lebih intens. Akibatnya, radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal, meningkatkan suhu udara secara drastis.

Faktor lain adalah pengaruh Monsun Australia atau angin timuran yang membawa massa udara kering dan hangat. Kondisi udara kering ini secara signifikan menghambat pembentukan awan, sehingga langit cenderung cerah dan sinar matahari dapat langsung memancar ke permukaan bumi tanpa penghalang.

Minimnya tutupan awan menjadi penyebab langsung dari terasanya panas menyengat, karena tidak ada penghalang alami yang dapat mengurangi intensitas radiasi matahari.

Selain itu, masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba juga berkontribusi pada peningkatan suhu udara, di mana potensi hujan dan pembentukan awan cenderung berkurang.

Fenomena El Niño yang masih berlangsung di Samudra Pasifik turut memperkuat kondisi panas ekstrem ini. El Niño menyebabkan curah hujan menurun dan suhu permukaan laut menjadi lebih hangat di Indonesia bagian timur, menciptakan udara yang lebih kering dan panas.

Data historis menunjukkan bahwa suhu udara di wilayah Ciayumajakuning pernah mencapai 40°C pada 12 Oktober 2002 saat terjadi fenomena El Niño.

 

4. BMKG Ingatkan untuk Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Cuaca panas di Sirkuit Mandalika jelang sprint race MotoGP Indonesia 2023

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan agar tidak dehidrasi. Lalu, masyarakt diminta tidak berlama-lama di luar ruangan saat siang hari.

Hal ini BMKG sampaikan lantaran di beberapa wilayah masyarakat merasakan cuaca lebih panas beberapa hari terakhir.

"BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh terutama dengan menjaga kebutuhan cairan dan menghindari paparan langsung sinar matahari terlalu lama," kata BMKG dalam keterangan merespons Health Liputan6.com pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Selain itu, masyarakat diminta waspada bila terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba. Dimana saat siang hari panas tapi mendadak hujan disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari.

BMKG mengungkapkan bahwa cuaca terasa panas akhir-akhir ini karena beberapa faktor. Pertama, gerak semu matahari yang pada bulan Oktober sudah berada sedikit di selatan ekuator.

"Kondisi itu membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari yang lebih intens," tulis BMKG.

Faktor lain yang membuat suhu terasa lebih panas adalah udara kering dari benua Australia.

"Penguatan angin timuran yang membawa massa udara kering dari Benua Australia (Australian Monsoon) turut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia," kata BMKG.

Berdasarkan pengamatan BMKG melalui pengukuran suhu pada tanggal 14 Oktober diprediksi suhu maksimum di Indonesia masih bervariasi. Kisaran 34 hingga 37°C.

Namun, di beberapa wilayah seperti Kalimatan, Jawa, Nusa Tenggara suhu maksimum lebih tinggi sedikit yakni mencapai 35–37°C.

Kondisi suhu panas ini diprediksi masih terus terjadi di Indonesia bagian tengah dan selatan. Lantaran dalam beberapa hari ke depan potensi hujan turun rendah.

"Potensi cuaca kedepan di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan umumnya berawan potensi hujan masih cukup minim," kata BMKG.

 

5. BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Paparan Sinar UV Tinggi

Pancaran ultraviolet yang berasal matahari akan terasa lebih panas dari biasanya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan sinar ultraviolet (sinar UV) pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di tengah kondisi cuaca panas musim pancaroba ini.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan indeks sinar ultraviolet di sejumlah wilayah Indonesia berada pada level yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila masyarakat terpapar langsung dalam waktu lama.

"Paparan sinar matahari langsung pada indeks UV tinggi dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata dalam hitungan menit. Karena itu, masyarakat perlu melindungi diri saat beraktivitas di luar ruangan," ujar Andri melansir Antara, Jumat (17/10/2025).

Ia menyarankan masyarakat untuk menghindari paparan langsung sinar matahari terutama pada pagi menjelang siang hari, serta menggunakan pelindung diri seperti topi, jaket, payung, kacamata hitam, dan tabir surya ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, lanjut Andri, BMKG mengingatkan agar masyarakat memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi, serta menghindari aktivitas fisik berat dibawah terik matahari yang dapat meningkatkan risiko heatstroke atau kelelahan akibat panas.

"Berdasarkan hasil pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir, potensi cuaca cerah dan terik umumnya terjadi pada pagi siang hari, suhu maksimum udara tercatat mencapai hingga 38°C di beberapa lokasi," papar dia.

Antara lain, lanjut Andri, Karanganyar, Jawa Tengah (38.2°C), Majalengka, Jawa Barat (37.6°C), Boven Digoel, Papua (37.3°C), dan Surabaya, Jawa Timur (37.0°C).

"Sementara di wilaya Jabodetabek pada dua hari belakangan, suhu maksimum di wilayah Jabodetabek mencapai 35°C dengan rincian Banten: 35.2 °C, Kemayoran: 33.4 – 35.2 °C, Halim: 34.0 – 34.9 °C, Curug: 33.5 – 34.6 °C, Tanjung Priok: 32.8 – 34.4 °C dan Jawa Barat (sekitar Jabodetabek): 33.6 – 34.0 °C," terang dia.

Andri menambahkan, situasi panas ekstrem ini juga bertepatan dengan masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, yang ditandai oleh suhu udara tinggi pada siang hari dan potensi hujan disertai petir serta angin kencang pada sore hingga malam hari.

"Cuaca yang terjadi pada beberapa hari terakhir terasa panas dan terik, hal ini diakibatkan beberapa faktor diantaranya gerak semu matahari yang pada bulan Oktober sudah berada sedikit di selatan ekuator, sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari yang lebih intens," terang dia.

"Selain itu, penguatan angin timuran yang membawa massa udara kering dari Benua Australia atau Australian Monsoon turut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia," jelas Andri.

Infografis Cuaca Ekstrem, Jakarta Siaga Banjir Besar? (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya