Liputan6.com, Jakarta Harapan baru itu muncul dalam sanubari Zahwati Nuridayana. Remaja 16 tahun asal Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, itu merasa kehadiran Sekolah Rakyat bagaikan oase di tengah gurun pasir yang gersang. Terlahir dari orangtua yang cuma buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, membuat Zahwati sempat putus asa saat dirinya tidak bisa melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara karena terbentur biaya yang mahal.
"Saat itu saya bermimpi ingin sekolah di Taruna Nusantara,” katanya.
Advertisement
Namun tangan lemahnya tidak mampu menjebol tembok kokoh penghalang dirinya untuk bisa melanjutkan pendidikan di sekolah taruna. Zahwati sadar betul, perlu banyak biaya untuk bisa melanjutkan sekolah, belum lagi soal biaya transportasi dan uang jajan.
Hadirnya Sekolah Rakyat membuka kembali harapan itu. Model sekolah gratis berbasis asrama ini dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya transportasi serta kebutuhan uang saku.
Bahkan Zahwa bersaksi, fasilitas Sekolah Rakyat lebih unggul dari sekolah reguler. Mulai dari asramanya, fasilitas, hingga tenaga pengajar.
"Karena di sini tempat tinggalnya nyaman, makanannya enak, teman-temannya seru, suasananya menyenangkan, banyak guru-guru yang sayang, tidak pilih kasih," ungkapnya.
Berani Punya Mimpi
Mimpi Annisa Nur Khofifa meraih cita-cita menjadi seorang pilot hampir terkubur. Besar di keluarga yang serba kekurangan, membuat pendidikan menjadi sesuatu yang mewah baginya. Dia pun sempat pasrah saat harus berhenti sekolah di kelas 2 SMA karena tidak punya biaya, di saat yang bersamaan Annisa juga harus merawat ayahnya yang sakit-sakitan.
Menelisik ke belakang, Annisa ternyata punya masa lalu yang kelam. Dirinya pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan dia bercerita sempat merasa tertekan dan ingin kabur dari rumah. Ibu dan kakak yang harusnya menjadi support system utama, malah pergi meninggalkannya bersama sang ayah yang sakit-sakitan. Kala itu dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Secercah harapan baru datang saat Prabowo-Gibran meluncurkan program Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial. Annisa pun bersemangat dan ingin sekali melanjutkan pendidikannya. Kini mimpi menjadi seorang pilot bukan hal yang mustahil.
“Pas diajak lihat sekolahnya, aku langsung mau, karena boarding school. Jadi aku bisa lepas dari rumah dan punya banyak teman juga,” katanya, saat ditemui beberapa waktu lalu di SRMA 13 Bekasi, Jawa Barat.
Annisa menceritakan, awalnya sang ayah sempat menolak dirinya melanjutkan sekolah. Beruntung bantuan dari pihak pendamping program keluarga harapan (PKH) Kemensos menjadi penyelamat Annisa untuk bisa melanjutkan sekolahnya, dan di saat yang bersamaan sang ayah tidak terlantar.
“Aku sering diremehkan, dibilang enggak akan bisa sekolah karena bapak enggak kerja. Aku mau buktikan kalau aku bisa,” katanya.
Pertama kali masuk ke Sekolah Rakyat, Annisa dibuat kagum dengan berbagai fasilitas pendidikan yang lengkap, yang bahkan tidak ditemuinya di sekolah reguler.
“Aku kaget karena belajar pakai tab sama laptop,” katanya.
Dari situ, Annisa merasa Sekolah Rakyat menjadi kesempatan dan harapan baru bagi dirinya untuk meraih cita-cita yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagi Annisa, Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar, berkonsep boarding school, sekolah ini juga menjadi tempatnya bertumbuh, menemukan ‘keluarga’ baru, sambil menata kembali mimpinya yang hampir terkubur dan melupakan kenangan pahit di masa lalu.
“Aku pengen nunjukin ke ayah kalau aku bisa jadi pilot, bahkan bawa ayah naik pesawat,” ucap Annisa dengan mata berlinang.
Memutus Kemiskinan Melalui Pendidikan
Sekolah Rakyat merupakan perwujudan janji kampanye Prabowo-Gibran, yang ingin menghadirkan pendidikan gratis bermutu khususnya bagi anak-anak dari kalangan yang kurang beruntung. Janji itu tertuang dalam program Asta Cita (delapan misi utama), yang secara khusus merupakan realisasi dari misi keempat, yakni berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang merata dan terjangkau.
Dalam janji kampanye tersebut, Prabowo berencana untuk membangun 100 sekolah berasrama setiap tahunnya, yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Program ini didasari oleh keyakinan bahwa pendidikan berkualitas adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan.
Ide Sekolah Rakyat juga selaras dengan janji Prabowo untuk memperbaiki fasilitas sekolah sebanyak-banyaknya dalam waktu secepat-cepatnya. Dengan begitu, program ini tidak hanya menyediakan akses pendidikan gratis, tetapi juga memastikan sarana dan prasarana yang memadai bagi para siswa.
Konsep Sekolah Rakyat merupakan pengejawantahan dari gagasan Prabowo yang punya keinginan memuliakan keluarga miskin dan memfasilitasi kebangkitan wong cilik, yang selama ini terlupakan. Sekolah Rakyat punya visi mencetak agen perubahan pada setiap keluarga miskin melalui pendidikan berkualitas guna memutus transmisi kemiskinan.
Kurikulum Sekolah Rakyat terdiri dari tiga poin utama, yakni Program Persiapan, antara lain Talent Mapping berupa Kesiapan Fisik, Kesiapan Mental, dan Kesiapan Akademik. Kemudian Program Akademik, yakni mengikuti kurikulum standar nasional, termasuk intrakulikuler, kokurikuler, dan ekstrakulikuler. Lalu Program Asrama (Boarding), yakni penguatan karakter, penguatan spiritualitas, penguatan cinta tanah air, dan penguatan bahasa.
Dari data terbaru yang berhasil dihimpun Liputan6.com, Sekolah Rakyat sudah mulai beroperasi di seluruh provinsi di Indonesia pada 2025, antara lain di Pulau Sumatera ada 35 sekolah, di Pulau Jawa ada 68 sekolah, Pulau Kalimantan ada 13 sekolah, Pulau Sulawesi ada 28 sekolah, Pulau Bali dan Nusa Tenggara ada 7 sekolah, dan di Pulau Maluku dan Papua ada 14 sekolah. Dari data tersebut, total ada 165 Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut akan terus bertambah, khususnya untuk wilayah-wilayah terpencil di Indonesia.
Meski pelaksanaannya belum 100 persen sempurna, namun langkah fundamental ini mendapat apresiasi. Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Harris Arthur Hedar menilai Sekolah Rakyat benar-benar dirancang dengan pendekatan holistik untuk mengatasi masalah kemiskinan ekstrem dan tingginya angka putus sekolah. Dampaknya, kata dia, bukan hanya menyentuh siswa, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.
"Pendekatan yang holistik itu memiliki tujuan inti, yaitu memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan. Karena keluarga miskin dengan anak putus sekolah sangat mungkin akan menghasilkan generasi miskin berikutnya. Di sinilah nilai strategis dari program ini," katanya.
Akademisi yang juga Ketua Dewan Pembina Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) itu juga menilai, pendidikan dengan model asrama bagi anak-anak miskin dan putus sekolah bukan hanya menjamin akses pendidikan yang setara, tetapi juga peningkatan taraf hidup anak-anak melalui penyediaan fasilitas akomodasi dan nutrisi yang layak.
"Tentu terjadi peningkatan kualitas hidup, karena selain pendidikan akademik, sekolah dengan model asrama menjamin akomodasi dan nutrisi, juga membina karakter. Sehingga outputnya adalah individu yang lebih sehat, terampil, dan berdaya saing," ungkap Harris.
Harris Arthur Hedar lalu menekankan agar bangsa Indonesia memandang dengan jernih dan obyektif kebijakan ini. Menurutnya seluruh program Presiden Prabowo, mulai dari sekolah rakyat hingga makan bergizi gratis bagi siswa dan ibu hamil, bermuara pada satu tujuan besar, yakni membangun ketahanan nasional.
"Salah satu aspek ketahanan nasional adalah kualitas sumber daya manusia. Itu yang dicapai melalui pendirian sekolah rakyat dan program makan bergizi gratis," ucap dia.
Harris optimistis bila program ini konsisten dijalankan hingga menjangkau daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), maka peta jalan Indonesia Maju akan semakin nyata.