Krisan Valerie Kobarkan Semangat Memanusiakan Manusia Lewat Platform Baku Bantu Sulut

Krisan Valerie Sangari bersama sejumlah anak muda lainnya menggagas platform Baku Bantu Sulut yang sukses mengubah cara berdonasi menjadi lebih efektif dan penuh empati.

oleh IskandarDiterbitkan 17 Oktober 2025, 19:00 WIB
Lead Coordinator Baku Bantu Sulut, Krisan Valerie Sangari. Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pesatnya laju teknologi, muncul sebuah inisiatif sederhana namun mendalam dari Sulawesi Utara (Sulut), yang berhasil membuktikan bahwa konektivitas sejati adalah konektivitas yang memanusiakan manusia.

Adalah Baku Bantu Sulut, sebuah platform yang digagas oleh para pemuda setempat, dipimpin oleh Krisan Valerie Sangari selaku Lead Coordinator, yang sukses mengubah cara berdonasi menjadi lebih efektif dan penuh empati.

Dengan penuh rasa syukur, Krisan berbagi kisah di balik inisiatif Baku Bantu Sulut saat menerima penghargaan 'Anugerah Perempuan Hebat Liputan6' kategori Teknologi, Kamis (16/10/2025) di SCTV Tower Jakarta.

Berangkat dari kesadaran bahwa niat baik membantu sering kali kurang tepat sasaran, Krisan Valerie bersama timnya menggunakan pendekatan teknologi yang jauh dari kata 'canggih' namun sangat berdaya guna: survei data dan mendengarkan secara aktif.

"Teknologi yang kami gunakan bukan programming yang advance. Kami menggunakan survei data, kami pergi ke panti-panti di Tomohon, Minahasa, dan Manado. Di situ kami bercerita dan active listening," papar gadis muda yang juga dikenal sebagai Noni Sulut 2023

Langkah ini diambil untuk menggali kebutuhan dan masalah nyata yang dialami oleh komunitas rentan di panti asuhan, baik kebutuhan materil maupun yang lebih penting, seerti kebutuhan emosional.

"Banyak bantuan yang mubazir karena tidak sesuai dengan prioritas penerima. Hal ini bisa ditanggulangi dengan data yang jelas, benar-benar berasal dari suara mereka yang membutuhkan," ucap Krisan.

Data yang dikumpulkan kemudian dipublikasikan di website sederhana Baku Bantu Sulut dan disebarluaskan melalui media sosial.

 

Memegang Erat Filososi 'Sitou Timou Tumou Tou'

Lead Coordinator Baku Bantu Sulut, Krisan Valerie Sangari. Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Platform ini menjadi panduan donasi yang jelas, menunjukkan secara spesifik kebutuhan setiap panti. Bukan sekadar sembako, Baku Bantu Sulut juga menyoroti kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan emosional, seperti konsultasi dari mahasiswa psikolog atau kegiatan pendampingan.

Semua upaya ini, terang Krisan, dilakukan secara pro bono (sukarela tanpa bayaran) dan berlandaskan filosofi luhur budaya Sulut: 'Mapalus' yang berarti gotong royong atau 'Baku bantu', dan 'Sitou Timou Tumou Tou' yang bermakna manusia hidup untuk memanusiakan manusia yang lain.

"Semangat itu menjiwai cara kami menggunakan teknologi. Di sini kami ingin memanusiakan manusia. Tindakan 'datang mendengarkan keluh kesah mereka' yang tampak sederhana ini, nyatanya mampu menjadi bagian besar untuk saling memanusiakan secara bertahap," ucap Krisan.  

Teknologi Digunakan dengan Hati 

Lead Coordinator Baku Bantu Sulut, Krisan Valerie Sangari. Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Di era di mana teknologi menghubungkan segalanya (interconnectivity), Krisan menyinggung sebuah refleksi mendalam.

"Yang jadi tantangan adalah 'Are we also interconnected secara humanity? Are we also interconnected dalam cara kita saling berempati, kita saling bergerak...untuk kebaikan kolektif?'," imbuhnya memungkaskan.

Melalui Baku Bantu Sulut, Krisan dan anak-anak muda Sulut membuktikan bahwa teknologi paling inklusif adalah teknologi yang digunakan dengan hati dan data yang akurat.

Mereka tidak hanya menjembatani donatur dan penerima, tetapi juga merajut kembali tali persaudaraan dan empati, mengundang setiap orang untuk berkontribusi dalam gerakan "memanusiakan manusia" yang sesungguhnya.

INFOGRAFIS: Lansia dan Panti Jompo di Indonesia (Ilustrasi: Tri Yasni/Liputan6.com)

INFOGRAFIS: Lansia dan Panti Jompo di Indonesia (Ilustrasi: Tri Yasni/Liputan6.com)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya