Liputan6.com, Semarang Pemerintah melatih dokter umum agar mampu melakukan prosedur kontrasepsi pada pria yakni vasektomi. Pelatihan diberikan lantaran kebanyakan dokter umum tidak mendapatkan teknik tersebut saat di bangku kuliah.
“Vasektomi ini sebenarnya hal yang dibilang baru juga enggak, tetapi kebanyakan dokter umum itu tidak mendalami pada saat pendidikannya. Jadi, tidak semua dokter umum itu mengetahui tentang vasektomi,” kata Ketua Tim Kerja Provider KB Pria Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dokter Raymon Nadeak.
Advertisement
Tak cuma skill dalam vasektomi, para dokter umum yang dilatih berpeluang untuk mengedukasi masyarakat bahwa tugas ber-KB tidak hanya diemban oleh perempuan.
Raymon mengatakan rendahnya minat dokter dalam memberikan layanan vasektomi berkaitan dengan jumlah akseptor yang masih sangat terbatas di Indonesia.
“Ketika dia sudah berpraktik di lapangan dan memiliki profesi sebagai dokter, dia belum tentu mendapatkan pasien atau akseptor, jadi itu akan memengaruhi, dan kalau tidak ada akseptor berarti kan dia tidak ada pendapatan jasa medisnya,” kata Raymon saat melatih 15 dokter di Semarang, Jawa Tengah mengutip Antara.
Sosialisasi Vasektomi Masih Minim, Kenapa?
Raymon juga mengemukakan, kurikulum vasektomi yang terakreditasi baru diluncurkan pada Juni 2024, sehingga sosialisasi dan edukasi terhadap metode operasi pria (MOP) tersebut masih minim.
“Pelatihan pertama di angkatan itu dilakukan pada bulan Oktober tahun 2024, kemudian dilakukan kembali di tahun 2025 bulan Agustus oleh BKKBN Jawa Barat. Kita berharap, mereka setelah dilatih bisa melakukan pelayanan di tempat kerjanya,” paparnya.
Peserta Pelatihan Vasektomi Tahap 1 Sudah Bisa Layani Mandiri
Kemendukbangga/BKKBN juga telah melakukan monitoring dan evaluasi di angkatan pertama yang telah membuahkan hasil. Rata-rata peserta yang melakukan pelatihan di tahun 2024 sudah mampu melayani akseptor secara mandiri.
Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2024, kesertaan pria dalam ber-KB masih rendah, hanya 2,1 persen, dengan persentase kesertaan vasektomi sebesar 0,1 persen saja.
Sementara data Sistem Informasi Keluarga (SIGA) 2024 mencatat kesertaan KB pria 3,73 persen, dengan persentase vasektomi 0,13 persen.