Liputan6.com, Jakarta - Peraih Nobel Ekonomi 2025, Peter Howitt, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi luar biasa bagi kemajuan ekonomi, tetapi juga bisa menjadi ancaman besar bagi lapangan kerja jika tidak diregulasi dengan bijak.
"AI adalah teknologi fantastis yang memiliki kemungkinan luar biasa. Tapi jelas, ia juga bisa menghancurkan banyak pekerjaan dan menggantikan tenaga kerja terampil. Ini harus diatur," ujar Howitt dalam konferensi pers di Amerika Serikat (AS), dikutip dari Channel News Asia, Selasa (14/10/2025).
Advertisement
Peringatan ini datang di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang dampak AI terhadap masyarakat dan pasar tenaga kerja. Di saat bersamaan, Gubernur California Gavin Newsom menandatangani undang-undang pertama yang mengatur interaksi publik dengan chatbot AI — langkah yang dianggap menentang desakan Gedung Putih untuk membiarkan teknologi ini berkembang tanpa batasan.
Howitt, profesor emeritus di Brown University asal Kanada, dianugerahi Nobel bersama Philippe Aghion dan Joel Mokyr atas riset mereka tentang bagaimana inovasi dan “destruksi kreatif” memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.
Teori Destruksi Kreatif
Dalam penjelasannya, Howitt menyoroti teori “destruksi kreatif”, di mana produk baru menggantikan yang lama dan menciptakan perubahan struktural dalam ekonomi. Menurutnya, AI menjadi contoh nyata bagaimana inovasi bisa sekaligus menciptakan dan menghancurkan pekerjaan.
“Insentif swasta di pasar yang tidak diatur tidak akan menyelesaikan konflik ini dengan baik bagi masyarakat,” ujarnya.
Howitt menyebut perkembangan AI sebagai “momen besar dalam sejarah manusia”, sejajar dengan revolusi teknologi sebelumnya seperti listrik, tenaga uap, dan ledakan telekomunikasi tahun 1990-an.
Namun, ia juga mengakui belum ada jawaban pasti bagaimana dunia akan menyesuaikan diri dengan dampak besar AI terhadap tenaga kerja. “Bagaimana kita akan melakukannya kali ini? Saya berharap punya jawaban spesifik, tapi saya tidak punya,” tambahnya.
Peraih Novel Ekonomi Lain
Sementara itu, Joel Mokyr, ekonom Amerika-Israel yang juga menerima Nobel tahun ini, justru lebih optimistis terhadap dampak AI. Ia berpendapat bahwa mesin tidak menggantikan manusia, melainkan mendorong pekerja menuju peran yang lebih menantang.
“Perubahan teknologi tidak hanya menggantikan manusia, tetapi juga menciptakan tugas-tugas baru,” ujar Mokyr dalam konferensi pers dari Universitas Northwestern.
Mokyr menilai tantangan terbesar ke depan bukanlah pengangguran akibat AI, melainkan kelangkaan tenaga kerja karena populasi menua dan jumlah pekerja muda yang menurun.
Sementara itu, Howitt mengenang perjalanan panjang risetnya bersama Aghion.
“Philippe selalu yakin kami akan mendapatkan Hadiah Nobel suatu hari nanti,” katanya sambil tersenyum. “Dan sekarang, waktu itu akhirnya tiba. Luar biasa.”