Tokoh Papua Sebut OPM Sebar Fitnah untuk Ciptakan Perpecahan

Kelompok pemberontak yang membakar sekolah, mengancam guru. Namun mereka malah menuduh TNI mengebom desa.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 11 Oktober 2025, 16:46 WIB
Organisasi Papua Merdeka (OPM) (Dok. TNI)

Liputan6.com, Jakarta - Para tokoh masyarakat dan agama di Distrik Kiwirok memastikan dan menyaksikan sendiri, keberadaan TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III terus melaksanakan misi kemanusiaan.

Penegasan itu disampaikan guna menepis isu operasi militer hingga membumihanguskan wilayah Papua dengan pesawat bom oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM)

“Kami mengecam penyebaran fitnah keji terhadap TNI, mengingat OPM-lah yang selama ini menjadi pelaku utama serangan dan teror terhadap masyarakat Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan,” ujar Markus Nop seperti dikutip dari keterangan diterima, Senin (13/10/2025).

Markus menyebut kelompok pemberontak yang membakar sekolah, mengancam guru. Namun mereka malah menuduh TNI mengebom desa.

“Itu bohong besar. Kami tahu siapa yang sebenarnya membuat kerusakan di sini," tegas Markus.

Aksi penyebaran hoaks dan fitnah kepada TNI, lanjut Markus, adalah strategi lama untuk menutupi tindakan brutal OPM, sekaligus menggiring opini publik khususnya masyarakat Papua agar membenci negara.

“Melalui unggahan video editan, dan narasi menyesatkan, OPM mencoba menggiring simpati publik internasional sambil menutupi aksi kejahatan kemanusiaan terhadap warga sipil termasuk orang asli Papua,” ungkap Markus.

“Saya jadi teringat peristiwa pilu September 2021 silam di desa kami. Usai bakar puskesmas, OPM melecahkan seluruh nakes (tenaga kesehatan) di mana salah seorang nakes, Ibu Gabriela Meilan, kita temukan tewas mengenaskan di jurang sedalam 500 meter,” ungkap Markus.

 

Pemutarbalikan Fakta

Senada dengan Pendeta Markus, Kepala Distrik Kiwirok, Yulianus Kalakmabin, menegaskan tuduhan terhadap TNI adalah pemutarbalikan fakta.

“Saya melihat sendiri bagaimana Kogabwilhan III membantu warga, terutama para guru yang ketakutan akibat pembakaran sekolah. Tidak ada bom, tidak ada pesawat tempur. Yang ada adalah bantuan dan perlindungan,” ujar Yulianus.

Yulianus menuturkan kejadian di Kiwirok ini kembali menunjukkan pola lama OPM yang sering menggunakan informasi palsu dan propaganda digital untuk menggiring opini publik.

“Prajurit TNI di bawah kendali Kogabwilhan III, hadir di Kiwirok bukan untuk berperang, melainkan untuk menolong, melindungi dan memulihkan kehidupan masyarakat,” yakin Yulianus.

Yulianus mengimbau, masyarakat internasional khususnya Papua, untuk lebih waspada terhadap berita tidak jelas sumbernya. Hoaks seperti tuduhan TNI menggunakan bom hanyalah bagian dari strategi kelompok separatis untuk menutupi aksi kekerasan mereka sendiri.

“Hoaks adalah senjata baru kelompok separatis. Mereka ingin menciptakan ketakutan dan perpecahan. Tapi masyarakat Papua sudah cerdas, kami tahu siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat,” Yulianus menutup.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya