Enzo Maresca Tak Menyesal Diusir Usai Selebrasi Liar Lawan Liverpool: Itu Layak!

Enzo Maresca tak menyesali kartu merahnya usai selebrasi emosional melawan Liverpool. Ia menyebut momen kemenangan dramatis Chelsea itu sebagai luapan insting dan gairah sepak bola.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 13 Oktober 2025, 05:53 WIB
Enzo Maresca, pelatih Chelsea (AFP/Getty Images/Grant Halverson)

Liputan6.com, Jakarta Pelatih Chelsea, Enzo Maresca, menjadi sorotan setelah diusir dari lapangan karena selebrasi liarnya saat timnya menang dramatis 2-1 atas Liverpool pada 4 Oktober 2025 lalu. Namun sang pelatih menegaskan tidak ada penyesalan, menyebut bahwa luapan emosinya adalah sesuatu yang layak terjadi.

Dalam laga yang berlangsung pada Sabtu, 4 Oktober, Chelsea nyaris gagal menang di kandang sendiri sebelum Estevao Willian mencetak gol penentu di menit ke-95. Gol pertama sang pemain muda Brasil di Premier League itu memicu euforia luar biasa di Stamford Bridge, termasuk dari sang pelatih yang berlari ke tepi lapangan untuk ikut merayakan bersama para pemainnya.

Namun, tindakan spontan tersebut berujung konsekuensi. Wasit Anthony Taylor memberikan kartu merah kepada Maresca karena dianggap melakukan pelanggaran disiplin, pelatih asal Italia itu pun dipastikan absen saat Chelsea bertandang ke Nottingham Forest pada 18 Oktober mendatang.


Maresca: Itu Reaksi Instingtif, tapi Layak

Moises Caicedo (tengah) mencoba memepertahankan bola dari rebutan Curtis Jones saat Liverpool bertanding melawan Chelsea di pekan ke delapan Premier League 2024/2025 di Anfield, Minggu (20/10/2024) malam WIB. (Jon Super/AP)

Meski harus menerima hukuman, Maresca sama sekali tidak menyesal. Dalam penjelasannya di Trento Sports Festival, ia menegaskan bahwa selebrasi itu muncul murni dari rasa gembira dan kebanggaan terhadap timnya. “Itu emosi besar melawan Liverpool,” katanya, dikutip dari Gianluca Di Marzio.

“Ini musim kedua saya di Chelsea dan itu pertama kalinya kami menang di kandang lewat gol di menit terakhir. Tentang kartu merah itu, saya sudah sering bilang: sepak bola adalah soal gairah dan insting. Saya bahkan tidak sempat berpikir. Itu reaksi spontan, tapi menurut saya, itu sepadan,” ujar Maresca dengan senyum.

Komentar tersebut menunjukkan karakter emosional sang pelatih yang dikenal perfeksionis namun ekspresif. Ia menilai kemenangan itu penting secara psikologis, terutama setelah tim sempat terancam gagal menang dalam empat laga beruntun di Premier League.


Tekanan di Chelsea dan Warisan Pelatih Italia

Alexis Mac Allister ditantang oleh Malo Gusto dalam laga Liga Inggris antara Chelsea dan Liverpool di Stamford Bridge, London, 4 Oktober 2025. (AP Photo/Ian Walton)

Maresca juga menyinggung tekanan besar yang datang dengan jabatan sebagai pelatih Chelsea. Klub asal London barat itu dikenal memiliki sejarah panjang kesuksesan sejak era Roman Abramovich, sebelum berganti kepemilikan ke Todd Boehly pada 2022.

Pelatih berusia 44 tahun itu kini menjadi bagian dari daftar panjang pelatih Italia yang pernah menukangi The Blues, mulai dari Carlo Ancelotti, Antonio Conte, Roberto Di Matteo, Gianluca Vialli, Claudio Ranieri, hingga Maurizio Sarri. Ia mengaku lega bisa meneruskan tradisi itu dengan membawa pulang dua trofi pada musim lalu: UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub.

Dengan keyakinan yang sama, Maresca bertekad menjaga semangat positif di ruang ganti, meski sementara waktu harus memantau timnya dari tribun. Baginya, selebrasi yang berujung kartu merah itu bukan bentuk penyesalan, melainkan bukti betapa besar cintanya pada permainan dan klub yang ia pimpin.

 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya