Kemenag dan Basarnas Perkuat Mitigasi Risiko di Pesantren Usai Insiden Al Khoziny

Insiden Pesantren Al Khoziny menjadi pengingat untuk mempriotitaskan keselamatan santri dan kelayakan bangunan dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 12 Oktober 2025, 11:10 WIB
Tim pencari dan penyelamat gabungan mendeteksi adanya sejumlah korban yang masih bertahan di salah satu segmen reruntuhan. (AP Photo/Trisnadi)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) membahas langkah-langkah penguatan mitigasi risiko di lingkungan pesantren.

Hal ini usai  tragedi ambruknya bangunan Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan banyak korban jiwa.

Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said, mengatakan insiden pondok pesantren (ponpes) Al Khoziny menjadi pengingat untuk mempriotitaskan keselamatan santri dan kelayakan bangunan dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Basnang mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk mencegah insiden kembali terulang.

"Kami sangat berduka atas musibah yang menimpa para santri di Sidoarjo. Namun, duka ini juga menjadi panggilan moral bagi kita untuk berbenah. Direktorat Pesantren akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar sistem keamanan dan mitigasi risiko di pesantren semakin kokoh," kata Basnang dikutip dari siaran pers Kemenag, Minggu (12/10/2025).

Menurut dia, langkah awal yang ditempuh adalah membangun sistem mitigasi risiko di lingkungan pesantren. Mulai dari pendataan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan.

"Kami ingin memastikan setiap satuan pendidikan keagamaan memiliki standar keamanan yang memadai, agar santri dapat belajar dan tinggal dengan aman," jelasnya.

 

Kegagalan Konstruksi

Keputusan ini diambil setelah tidak ditemukannya lagi korban di antara puing-puing yang telah diratakan dengan tanah. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengerahan dan Pengendalian Operasi Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia Basarnas RI, Emi Freezer, mengungkapkan bahwa penyebab utama ambruknya bangunan di Pesantren Al Khoziny adalah kegagalan konstruksi.

"Tidak adanya struktur penyangga bertahap membuat bangunan runtuh total. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kita semua bahwa gedung pendidikan, termasuk pesantren, harus memenuhi standar teknis dan keselamatan," tutur Emi.

Basarnas mencatat tragedi di Sidoarjo sebagai salah satu bencana non-alam terbesar tahun 2025. Adapun korban meninggal mencapai 67 santri.

"Kami siap memperkuat sinergi dengan Kemenag dan lembaga terkait untuk memastikan kesiapsiagaan serta penanggulangan risiko di pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya," ujar dia.

Infografis Ironi Musala Ambruk Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya