Pramono: Di Jakarta Ada Rumah 3x4 Meter Ditinggali 13 Orang, Tidur 3 Sif

Pramono menyebut kondisi tersebut menggambarkan ketimpangan yang ekstrem antara pusat kota dan permukiman padat di pinggiran. Bahkan, kata Pramono, kondisi di Jakarta masih sangat kontras.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 10 Oktober 2025, 18:07 WIB
Pramono Anung di acara Top Team Workshop Bank BTN di Grand Hyatt, Jumat (10/10/2025). Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta

Liputan6.com, Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti ketimpangan sosial yang masih tajam di Jakarta. Dia mengatakan, di sejumlah wilayah padat seperti Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, masih ditemukan keluarga besar tinggal di rumah berukuran sangat sempit.

“Saya ke Tanah Tinggi, ada rumah ukuran tiga kali empat meter, tapi yang tinggal 13 orang. Mereka tidur tiga sif. Ini realitas Jakarta yang tidak boleh kita abaikan,” kata Pramono di acara Top Team Workshop Bank BTN di Grand Hyatt, Jumat (10/10/2025).

Dia menyebut kondisi tersebut menggambarkan ketimpangan yang ekstrem antara pusat kota dan permukiman padat di pinggiran. Bahkan, kata Pramono, kondisi di Jakarta masih sangat kontras.

“Jakarta ini kontras sekali. Di satu sisi kita punya gedung megah, di sisi lain banyak warga tidak punya ruang layak untuk tidur,” ujarnya.

Percepat Pembangunan Rumah Susun

Pramono menyebut, untuk mengatasi persoalan itu, Pemprov DKI Jakarta tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam program housing affordable dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

“Kami akan kerja sama dengan Kemenpera. Tujuannya sederhana, rakyat kecil harus bisa punya rumah sendiri,” kata Pramono.

Tidak hanya itu, Pramono juga memiliki rencana mempercepat pembangunan rumah susun dan memperluas akses pembiayaan bagi pekerja informal. Dia berharap, jangan sampai ada pekerja keras di Jakarta yang tidak punya tempat tinggal di kota ini.

Lebih lanjut, Pramono menegaskan kebijakan pembangunan Jakarta ke depan tidak boleh hanya berorientasi pada investor, tetapi juga pada warga kecil yang tinggal di gang sempit. Pasalnya, kata dia, pembangunan kota bukan hanya soal gedung dan jalan, tapi juga soal keadilan sosial.

“Kalau tidak ada keadilan dalam pembangunan, maka Jakarta akan terus jadi kota yang nyaman untuk segelintir orang saja. Jakarta harus jadi kota yang hidup untuk semua, bukan hanya untuk yang beruntung,” ujar Pramono.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya