11 Oktober 1984: Kathryn D. Sullivan, Astronot Wanita Pertama AS yang ke Ruang Angkasa

Seperti apa perjalanan wanita astronot pertama Amerika Serikat menorehkan sejarah setelah menghadapi kritik?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 11 Oktober 2025, 06:00 WIB
Astronot Kathryn D. Sullivan, spesialis misi 41-G, bergabung dengan tujuh anggota kru lainnya sebelum sesi pelatihan di laboratorium simulasi dan integrasi pesawat ulang-alik di Pusat Antariksa Johnson (Dok. NASA)

Liputan6.com, Washington, DC Pada 11 Oktober 1984, Kathryn D. Sullivan mencetak sejarah sebagai wanita Amerika Serikat pertama yang sampai ruang angkasa. Namun, banyak tantangan dan kritik selama persiapannya.

Pada peneliti Biomedis di Johnson Space Center (JSC) NASA, meyakini jika perempuan sulit beradaptasi dalam lingkungan bertekanan rendah dengan pakaian antariksa.

Selain itu, menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan kebutuhan sebelum pergi ke pesawat ulang-alik Challenger.

Ia diminta lebih lama menghirup oksigen murni sebelum melakukan aktivitas ekstravehicular (EVA), dilansir dari NASA, Sabtu (11/10/2025).

Walaupun banyak keraguan hingga wartawan tidak mempercayai kemampuannya, dan membandingkan fisiknya dengan laki-laki.

Sullivan dapat menepis semua pandangan tersebut dan stereotip gender yang ditujukan kepadanya.

Bahkan ia membuktikan kemampuannya dengan berlatih di pesawat ulang-alik unit mobilitas ekstravehicular (EMU), yang tidak pas dengan tubuhnya.

Faktanya, Sullivan berhasil setelah melakukan EVA bersama David C. Leestma, dan mencatat prestasi baru dalam sejarah astronomi.

Kemudian, ia ditugaskan ke STS-45 pada tanggal 5 Oktober 1984 dari Kennedy Space Center, Florida, setelah ulang tahunnya yang ke-33.

Durasi perjalanan ke ruang angkasanya selama tiga jam 29 menit, menjadi bukti bahwa astronot wanita mampu menyelesaikan tugas teknis dan fisik di orbit.

Pengakuan Atas Keberhasilan Sullivan

Ilustrasi astronot (NASA)

Setelah membuktikan kemampuannya, ia mendapatkan perhatian Presiden Ronald Reagan, yang menghubunginya untuk menceritakan pengalaman di ruang angkasa.

Sullivan menegaskan bahwa berjalan di ruang angkasa merupakan pengalaman paling fantastis dalam hidupnya apalagi sebagai wanita.

Ia juga mengungkapkan rasa bangganya ketika dapat melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya, di mana menjadi inspirasi bagi generasi astronot wanita berikutnya.

"Akhirnya dapat melakukan sesuatu yang bukan hanya menonton," ucapnya setelah tugas utama selesai dalam misi STS-45.

Salah satu kenangan yang paling diingatnya adalah saat ia bersama David C. Leestma, dengan menyimpan antena yang tidak berfungsi saat mempersiapkan segala hal dalam misi ke ruang angkasa.

Walaupun menghadapi berbagai tantangan, Sullivan membuktikan bahwa wanita astronot mampu beskontribusi setara dan dapat melakukan pekerjaan apa pun.

Sehingga momen ini membuatnya menjadi pengalaman paling berkesan, dan diabadikan dalam memoar atau dokumentasi film yang berjudul "The Dream is Alive."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya