Mengungkap Kematian Terapis di Jaksel, Polisi Dalami Dugaan Eksploitasi Anak dan TPPO

Selain menyelidiki penyebab kematian, polisi juga menelusuri dugaan eksploitasi anak dan perdagangan orang yang melibatkan pemilik spa tempat korban bekerja.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 08 Oktober 2025, 15:59 WIB
Seorang wanita tanpa idenitas ditemukan tewas di lahan kosong belakang sebuah gedung di Jalan H. Tutty Alawiyah, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (2/10/2025). (Foto: Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta Penyebab tewasnya Siti Auliya Zanura Rifaatul Islam (24), terapis yang ditemukan tak bernyawa di belakang Gedung TIKI, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, masih belum terpecahkan.

Tak hanya dalami penyebab kematian korban, polisi kini juga menelusuri dugaan eksploitasi terhadap anak yang dilakukan oleh pemilik Spa, tempat korban bekerja. Dugaan itu diusut setelah Polres Metro Jaksel menerima laporan dari keluarga korban.

Kanit PPA Polres Metro Jakarta Selatan AKP Citra Ayu membenarkan keluarga korban telah membuat laporan atas dugaan eksploitasi anak. Namun, penyidik belum memeriksa keluarga secara langsung karena masih dalam masa berkabung.

“Sementara untuk laporan yang dilayangkan oleh kakak korban ini terkait eksploitasi ya. Nanti lebih lanjutnya seperti apa, nanti pendalaman, apakah nanti ada penambahan atau apa, nanti tergantung keterangan-keterangan yang kita himpun, nanti tentunya kita akan lakukan gelar lebih lanjut," kata Citra kepada wartawan, Rabu (8/10/2025).

Dia menegaskan, penyidik juga menggali kemungkinan adanya unsur tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Namun, hal itu masih harus didalami lebih jauh.

"Kalau benar atau tidaknya perlu kita dalami dulu, masih ya, kita cari fakta-faktanya terlebih dahulu, karena memang masih minim fakta yang dapat kami kumpulkan, nanti kalaupun memang semua fakta-fakta, petunjuk, alat bukti sudah mencukupi, nanti kita akan update lebih lanjut," ucap dia.

 

Ada Kejanggalan

Citra membenarkan korban bekerja sebagai terapis di salah satu spa kawasan Pejaten. Namun, ada kejanggalan pada identitas korban yang kini tengah diverifikasi lewat Dukcapil, karena data di TKP berbeda dengan identitas asli yang dilaporkan keluarga.

"Karena memang yang ditemukan di TKP dengan aslinya ada sedikit perbedaan, jadi kami perlu mendalami lebih lanjut, nanti kami akan berkoordinasi dengan Dukcapil, ujar dia.

Selain memastikan identitas, polisi juga masih menunggu hasil autopsi dari RS Polri Kramat Jati. Sejumlah organ tubuh korban telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kematian.

"Untuk hasil, kami masih belum bisa sampaikan apa, karena memang kami juga belum bisa disampaikan dari dokter yang melaksanakan otopsi. Yang jelas terakhir kami berikan informasi bahwa selain di otopsi, bahwa jenazah ini juga diambil sampelnya untuk diketahui penyebab kematiannya, jadi organ-organ sampelnya ini diambil sampelnya, dibawa ke lab," ucap dia.

 

15 Saksi Diperiksa

Sementara itu, sekitar 15 saksi telah diperiksa, termasuk rekan kerja, petugas keamanan, warga sekitar, dan manajer tempat spa. Dari keterangan sementara, korban baru dua bulan bekerja di Pejaten setelah sebelumnya bertugas di cabang Bali.

Ia dikenal pendiam dan jarang bergaul dengan rekan-rekannya.

"Nah, untuk, untuk owner-nya, jadi kita baru sampai manajernya saja, kita sudah sampaikan undangan klarifikasi ataupun pemeriksaan juga. Kalau dari korban sendiri, dari keterangan rekan-rekan yang lainnya ya, kalau pindah ke Pejaten ini baru, kalau enggak salah satu ataupun dua bulan, tapi sebelumnya korban ini sudah bekerja di Bali. Jadi dia baru pindah," tandas dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya