Liputan6.com, Jakarta Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan periode Januari-September 2025 menjadi rekor tertinggi, sepanjang catatan gempa bumi merusak di seluruh Indonesia dengan 33 kejadian.
"Dari 33 kejadian gempa bumi merusak tersebut 6 kejadian terjadi di wilayah Jawa Barat. Sebelumnya pada tahun 2023 dan 2024 wilayah Jawa Barat juga tertinggi kejadian gempa bumi merusak dibanding daerah lainnya," ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid dalam keterangan tertulis di Bandung, Senin (6/10/2025).
Advertisement
Wafid mengatakan gempa bumi merusak adalah kejadian gempa bumi yang telah mengakibatkan terjadinya korban jiwa, kerusakkan bangunan, kerusakan geologi permukaan seperti retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi serta kerugian harta benda.
Wafid menyebutkan jumlah kejadian gempa bumi merusak 2025 ini melampaui jumlah gempa serupa 24 tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan otoritasnya sejak tahun 2000 hingga 2024, telah terjadi sebanyak 5 hingga 31 kejadian gempa bumi merusak di Indonesia.
"Data kejadian gempa bumi merusak di Indonesia sejak tahun 2021 hingga 2025 memperlihatkan tren peningkatan jumlah kejadian," ungkap Wafid.
Wafid memperkirakan ada beberapa kemungkinan penyebab bertambahnya gempa bumi merusak, antara lain penambahan stasiun pemantauan gempa bumi oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) peningkatan informasi.
Sebut Wafid, adanya beberapa sesar aktif pada tahap pelepasan energi seperti pada gempa bumi Mamuju 2021, Tojo Una-Una 2021, Kepulauan Selayar 2021, Pasaman 2022, Ketapang Kalimantan Barat 2022, Tapanuli Utara 2022, Cianjur 2022, Dompu 2023, Bawean 2024, Seram Bagian Barat 2025, Poso 2025 dan Situbondo 2025.
"Selain dari sesar aktif beberapa kejadian gempa bumi merusak juga bersumber dari zona penunjaman dan diperkirakan juga pada tahap pelepasan energi yaitu selatan Jawa, barat Sumatera, laut Banda, penunjaman ganda Talaud-Mayu yang berada di timur Sulawesi Utara dan barat Halmahera," sebut Wafid.
Statistik Gempa di Indonesia
Berdasarkan data kejadian gempa bumi di Indonesia tahun 1980 hingga 2024 yang dianalisis oleh Badan Geologi, sebanyak 12-15 persen kejadian gempa bumi dunia terjadi di wilayah Indonesia.
Kejadian gempa bumi terbesar di Indonesia adalah terjadi pada 26 Desember 2004 dengan magnitudo (M 9,1) yang memicu terjadinya tsunami dahsyat dan korban jiwa lebih dari 220 ribu jiwa.
"Data memperlihatkan bahwa kejadian gempa bumi Aceh memicu peningkatan aktivitas gempa bumi, khususnya di Pulau Sumatera," kata Wafid.
Hal ini kemungkinan besar diakibatkan adanya perubahan tegangan dinamis (dynamic stress change) dan perubahan tegangan statis (static stress change) di sekitar zona sumber gempa bumi Aceh 26 Desember 2004.
Data kejadian gempa bumi merusak memperlihatkan bahwa sebarannya lebih banyak di Indonesia bagian barat sebanyak 56,1 persen dibandingkan di Indonesia bagian timur sebanyak 43,9 persen.
"Adapun sumber kejadian gempa bumi merusak dominan bersumber dari sesar aktif sebanyak 57,85 persen, zona penunjaman sebanyak 41,28 persen, dan gempa outer-rise 0,87 persen," tutur Wafid.
Sumber Gempa Bumi Indonesia
Wafid menerangkan seluruh sumber gempa bumi di Indonesia terbentuk akibat interaksi empat lempeng tektonik, baik yang terletak di laut maupun di darat.
Sumber gempa bumi utama akibat proses interaksi antara lempeng benua dan samudera yaitu zona penunjaman.
"Zona penunjaman ini membentang mulai dari barat sumatera, selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara, lalu membelok ke Kepulauan Maluku. Selain itu terdapat di utara Sulawesi dan utara Papua. Pada bagian timur Sulawesi Utara hingga bagian barat Pulau Halmahera terdapat penunjaman ganda atau dikenal dengan sebutan subduksi ganda," jelas Wafid.
Zona penunjaman terbagi dua, kedalaman penunjaman kurang dari 40 km disebut zona megathrust dan kedalaman penunjaman lebih dari 40 km disebut zona intraslab.
Selain zona penunjaman terdapat sumber gempa bumi lainnya di Indonesia yaitu outer rise dan sesar aktif. Zona outer rise terletak di belakang zona penunjaman yang terjadi akibat tarikan dari zona penunjaman.
"Pada umumnya mekanisme sumber gempa bumi outer rise adalah sesar normal yang berarah relatif sejajar dengan zona penunjaman. Sumber gempa bumi outer rise tersebar di barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Bali-Nusa Tenggara dan timur laut Halmahera," kata Wafid.
Sedangkan sumber gempa bumi sesar aktif terdapat pada kerak dangkal dengan kedalaman pada umumnya kurang 40 km. Sesar aktif tersebar di darat dan di laut.
Sumber gempa bumi sesar aktif di darat sering mengakibatkan terjadinya bencana meskipun magnitudonya kecil atau kurang dari M 5,0, karena dangkal dan terletak dekat dengan kawasan aktivitas manusia.