Liputan6.com, Kyiv - Dua pesawat nirawak (drone) Rusia dilaporkan menyerang sebuah stasiun kereta di kota Shostka, wilayah Sumy, Ukraina utara, pada Sabtu (4/10/2025).
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Pemerintah Ukraina menuduh Moskow dengan sengaja menargetkan kereta penumpang, dikutip dari Japan Today, Minggu (5/10).
Advertisement
“Serangan pesawat nirawak Rusia yang brutal di stasiun kereta api Shostka, wilayah Sumy,” tulis Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melalui Telegram.
Ia juga membagikan video yang memperlihatkan gerbong penumpang hancur dan terbakar, sementara jendela beberapa gerbong lainnya pecah akibat ledakan.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menuduh Rusia melakukan serangan ganda yang disengaja, atau yang disebut “double tap” — taktik di mana serangan kedua diarahkan pada tim penyelamat dan warga yang tengah dievakuasi.
“Ini adalah salah satu taktik paling kejam yang digunakan Rusia. Mereka melancarkan serangan kedua ketika petugas penyelamat dan warga sipil mencoba membantu korban pertama,” ujar Sybiha dalam pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Gubernur wilayah Sumy, Oleh Hryhorov, mengatakan delapan dari korban luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif. “Rusia tidak bisa berdalih bahwa mereka tidak mengetahui targetnya adalah warga sipil. Ini adalah bentuk terorisme yang tidak boleh diabaikan dunia,” tulis Zelenskyy menambahkan.
Sasaran Infrastruktur Sipil
Selama dua bulan terakhir, Rusia dilaporkan meningkatkan serangan udara terhadap jaringan transportasi dan infrastruktur kereta api Ukraina, yang menjadi jalur vital bagi mobilitas warga dan logistik di wilayah perbatasan.
Meski Moskow berulang kali membantah menargetkan warga sipil, ribuan orang telah menjadi korban dalam perang yang berlangsung sejak 2022.
Kerusakan Berat
Oleksandr Pertsovskyi, CEO perusahaan kereta api negara Ukraina, mengatakan bahwa dua drone tersebut secara spesifik menargetkan lokomotif kereta, menyebabkan kerusakan berat pada bagian mesin dan beberapa gerbong penumpang yang terpasang di belakangnya.
“Pada dasarnya, mereka memburu lokomotif,” ujarnya. Ia menambahkan, salah satu kereta yang diserang adalah kereta komuter lokal, sementara satu lainnya sedang menuju ibu kota, Kyiv.
Pertsovskyi juga menegaskan bahwa hanya terdapat lalu lintas sipil di stasiun Shostka saat serangan terjadi. Ia meyakini serangan ini merupakan upaya sistematis untuk membuat daerah-daerah di garis depan dan perbatasan menjadi tidak aman bagi warga sipil.
“Mereka berusaha menciptakan ketakutan — agar orang enggan bepergian, takut menaiki kereta, takut beraktivitas di pasar, dan agar para pelajar enggan kembali ke rumah,” katanya.
Serangan ini menambah panjang daftar serangan udara Rusia terhadap wilayah utara Ukraina yang berbatasan langsung dengan Rusia, sekaligus menegaskan meningkatnya risiko bagi warga sipil di kawasan perbatasan yang selama ini menjadi jalur utama mobilitas penduduk dan barang.