Liputan6.com, Jakarta - Ira merasa langkah-langkah yang selama ini diambil terlalu lamban. Ia ingin hasil yang lebih cepat dan lebih terasa. Maka, diam-diam ia menyewa preman untuk melakukan serangan berpura-pura sebagai aksi perampokan.
Malam itu, Tian, Hana, dan Alfin terpaksa berhadapan dengan tiga pria bersenjata golok. Pertarungan berlangsung sengit—Tian terluka, namun mereka berhasil menggagalkan serangan tersebut. Meski rencananya belum sepenuhnya berhasil, Ira merasa puas. Setidaknya, semuanya mulai bergerak sesuai keinginannya.
Advertisement
Di sisi lain, konflik baru muncul. Miranti memaksa Tasya untuk tinggal di rumah Yuda, keputusan yang langsung memantik kecemburuan Kinan. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat melihat kedekatan Tasya dengan Alfin. Ketegangan pun tak terhindarkan—pertengkaran meledak di antara mereka.
Tian Berjuang Membangun Startup
Sementara itu, Tian tengah berjuang membangun perusahaan startup yang telah lama ia impikan. Namun, kondisi fisiknya makin hari makin menurun. Efek racun yang perlahan-lahan menyebar mulai terlihat: Tian menjadi mudah pusing, emosinya tak stabil, dan rasa cemburunya makin menjadi-jadi.
Situasi memanas ketika Nathan, sosok dari masa lalu, kembali muncul dan secara tak sengaja menyelamatkan Tian dari kecelakaan. Bukannya bersyukur, Tian justru semakin meledak. Cemburunya memuncak, hingga pada satu titik, ia mencengkram Hana dengan kasar. Hana hancur—ia merasa orang yang ia cintai telah berubah menjadi sosok yang asing dan menakutkan.
Dari kejauhan, Ira menyaksikan semuanya dengan senyum puas. Racunnya mulai bekerja. Dan perlahan, semuanya berjalan sesuai rencana.