Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley menilai, fasilitas penambangan Bitcoin siap menjadi pemain penting dalam infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Bank tersebut telah melihat transaksi pusat data dan komputasi besar-besaran, yang diperkirakan pada 2026 akan menandai lonjakan permintaan komputasi, hingga potensi perubahan besar dalam kecerdasan Large Language Models (LLM).
Advertisement
Dalam riset terbarunya, Morgan Stanley menganggap bahwa penambang Bitcoin berada di posisi yang tepat untuk menggunakan kembali aset mereka.
"Kami memberikan penilaian yang lebih mendalam tentang peluang bagi penambang Bitcoin, untuk menggunakan kembali situs mereka untuk menjadi tuan rumah pusat data HPC," tulis para analis Morgan Stanley, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (29/9/2025).
Laporan tersebut mencatat bahwa para pemain Bitcoin AS secara kolektif mengendalikan sekitar 6,3 gigawatt (GW) situs operasional besar. Dengan 2,5 GW tambahan sedang dibangun, dan 8,6 GW dalam tahap pengembangan.
"Kami terus percaya bahwa situs Bitcoin menawarkan pemain AI waktu tercepat untuk beroperasi dengan risiko eksekusi terendah, dan percaya hal ini akan semakin dihargai/diakui," kata analis Morgan Stanley.
Hambatan Daya
Para analis menyoroti, banyak saham pertambangan masih diperdagangkan dengan nilai perusahaan per watt yang rendah, meskipun permintaan daya pusat data meningkat.
Transaksi konversi yang telah selesai menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan, dengan valuasi dalam beberapa kasus jauh di bawah pesaingnya.
Model bank menunjukkan adanya hambatan daya sebesar 45 GW untuk pusat data hingga 2028, bahkan dengan asumsi optimistis tentang gas alam, nuklir, dan solusi time-to-power lainnya. Situs Bitcoin yang dialihfungsikan dapat membantu menutup kesenjangan tersebut.
Morgan Stanley menyimpulkan bahwa hitung-hitungan konversi Bitcoin ke pusat data belum dipahami dengan baik. Namun, dari segi aspek ekonominya pada akhirnya dapat mendukung struktur investasi infrastruktur jangka panjang seperti REIT.