Alergi Makanan Berbeda dengan Keracunan, Kenali Gejala Masing-Masing

Masyarakat masih keliru menganggap alergi makanan sama dengan keracunan. Padahal, keduanya memiliki penyebab, gejala, hingga mekanisme yang berbeda.

oleh Adinda Retno AryaniDiterbitkan 27 September 2025, 12:00 WIB
ilustrasi perbedaan keracunan makanan dan alergi (sumber: Freepik)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Yogi Prawira, SpA, Subs ETIA(K), menjelaskan perbedaan mendasar antara alergi dan keracunan makanan.

“Penyebabnya tentu berbeda. Kalau keracunan sesudah mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Sementara alergi, reaksi imun tubuh terhadap protein tertentu dalam makanan yang oleh tubuh individu tertentu dianggap berbahaya,” kata Yogi dalam Seminar Media yang diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan topik Mengenali dan Mengatasi Keracunan Makanan pada Anak, pada Kamis, 25 September 2025.

Ia menambahkan, keracunan dapat menyerang siapa saja yang mengonsumsi makanan tercemar. Sedangkan alergi hanya mengenai individu tertentu dengan sensitivitas khusus.

Lebih lanjut, Yogi menjelaskan bahwa keracunan makanan bisa berdampak massal, terutama bila sumber makanan tercemar dikonsumsi oleh banyak orang.

“Kalau penyediaan makanan atau minuman ini secara massal, maka yang kena juga pasti massal. Kalau alergi karena bersifat individual, itu hanya mengenai individu tertentu,” ujarnya.

Perbedaan Gejala

Reaksi alergi juga bisa timbul jika kamu menggunakan pewarna rambut yang mengandung senyawa berbahaya PPD (Para-Fenilendiamin). (Foto dok: Freepik/chajamp).

Gejala yang timbul antara alergi dan keracunan makanan berbeda secara jelas. Pada keracunan, keluhan biasanya muncul dalam hitungan jam hingga dua hari setelah makanan tercemar masuk ke tubuh.

“Kalau keracunan muncul pada beberapa jam hingga satu sampai dua hari setelah konsumsi makanan yang tercemar. Sementara pada alergi kadang-kadang bisa lebih cepat, hitungannya menit dan jam,” jelas Yogi.

Keracunan umumnya menyerang saluran cerna dengan gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut, bahkan pusing atau demam. Sementara itu, alergi biasanya muncul sebagai reaksi kulit atau pernapasan, misalnya gatal, biduran, bengkak di wajah, hingga sesak napas.

“Gejala utama keracunan terjadi pada saluran cerna, sementara alergi gejalanya lokal seperti gatal, bengkak di wajah, biduran,” tambahnya.

Mekanisme Terjadinya Reaksi

cara tes alergi susu sapi pada bayi ©Ilustrasi dibuat AI

Keracunan makanan terjadi karena adanya infeksi atau racun yang menyerang saluran pencernaan. Kontaminasi bisa berasal dari bakteri, virus, parasit, maupun bahan kimia berbahaya yang masuk lewat makanan.

“Kalau keracunan itu terjadi akibat infeksi atau toksin yang menyerang saluran pencernaan,” ungkap Yogi.

Berbeda dengan itu, alergi bukan disebabkan oleh kuman atau racun, melainkan reaksi berlebihan sistem imun tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan.

“Sedangkan, kalau alergi reaksi imun (IgE mediated) terhadap protein makanan tertentu,” katanya. Inilah yang membuat alergi bersifat individual dan tidak menular.

Risiko Penularan dan Dampaknya

Perbedaan lain yang signifikan adalah soal penularan. Keracunan makanan berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (KLB), terutama bila satu sumber makanan dikonsumsi bersama-sama.

“Kalau keracunan bisa menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) karena satu sumber makanan bisa mencemari banyak orang,” kata Yogi.

Sebaliknya, alergi tidak menular dan hanya akan muncul pada orang yang memang memiliki sensitivitas terhadap protein tertentu dalam makanan.

“Sementara kalau alergi itu tidak menular, hanya individu tertentu yang alergi yang akan bereaksi,” tambahnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya