Liputan6.com, Jakarta - Tian baru saja pulang, tubuhnya penuh luka dan wajahnya lebam akibat pertarungan yang dilakukannya demi mendapatkan uang. Ia nyaris tak sanggup berdiri tegak. Di rumah, Hana panik melihat kondisinya. Tanpa banyak tanya, ia segera merawat luka-luka Tian dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca.
Namun, saat ditanya kenapa bisa sampai seperti itu, Tian memilih bungkam. Ia tak ingin Hana tahu betapa keras hidup yang dijalaninya. Di tengah keheningan, Tian tiba-tiba menyuapi Hana cilor yang masih hangat. Senyum kecil merekah di wajah Hana. Momen itu terasa manis—di tengah luka dan diam, ada cinta yang tumbuh dalam keheningan. Mereka saling menatap… dan diam-diam, rasa itu tumbuh semakin dalam.
Advertisement
Beberapa hari kemudian, Tian dan Misa duduk berhadapan di ruang sidang. Proses perceraian mereka berlangsung tegang, terutama saat keputusan soal hak asuh anak diumumkan. Hakim memutuskan bahwa Raihana akan diasuh oleh Tian. Misa murka. Ia mengamuk di ruang sidang, berteriak tak terima. Tapi keputusan hakim tetap final.
Hasil Tes DNA Keluar
Sementara itu, Hana mendapat sebuah petunjuk penting dari Alfin—sebuah foto seorang pria bernama Edo, yang diyakini mengetahui keberadaan putri Hana yang hilang. Bersama Tasya, Hana memutuskan untuk mencari Edo. Tapi pencarian itu tidak mudah. Mereka justru diserang oleh sekelompok preman. Setelah berhasil kabur, Hana akhirnya berhasil menemukan Edo.
Sayangnya, Edo langsung melarikan diri. Hana mengejarnya tanpa ragu sampai ke sebuah gang sempit yang buntu. Di sanalah Edo dan anak buahnya menghadangnya dengan pisau di tangan. “Anakmu sudah mati,” kata Edo dingin. Hana menatapnya dengan mata penuh air mata. “Bohong! Aku tahu dia masih hidup!” teriaknya putus asa.
Teriakan Hana terdengar oleh Tasya, yang datang membawa balok kayu dan langsung menyerang. Edo dan anak buahnya kocar-kacir, apalagi saat warga sekitar mulai berdatangan.