Liputan6.com, Jakarta - Ratusan siswa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, dilaporkan menjadi korban keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG), pada Selasa 16 September 2025.
Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto mealui Kasi Humas Ipda Adi Susilo mengatakan, ratusan siswa itu mengonsumsi MBG berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan stroberi, yang merupakan menu MBG yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al Bayyinah 2 Garut di Desa Karangmulya.
Advertisement
Korban awalnya mengeluhkan permasalahan yang berbeda-beda, mulai dari mual, pusing, dan muntah-muntah. Gejala ini dirasakan sejumlah siswa sejak Selasa sore dan berlanjut hingga Rabu 17 September 2025, sehingga puluhan siswa harus mendapatkan perawatan medis.
"Jumlah keseluruhan 19 siswa harus menjalani perawatan di Puskesmas Kadungora," kata Adi, Kamis 18 September 2025.
Kemudian, kepolisian melakukan langkah cepat dengan mendatangi lokasi kejadian hingga minta keterangan saksi. Polisi juga mengirimkan sampel bekas makanan dan muntah ke laboratorium serta berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Kadungora.
Buntut peristiwa ini, dapur penyedia MBG yang membuat siswa keracunan ditutup sementara. "Ya, dipending itu kan berarti ditutup sementara," kata Bupati Garut, Jawa Barat Abdusy Syakur Amin, kepada wartawan di Garut, Senin 22 September 2025.
Saat ini, tim laboratorium sedang melakukan uji sampel dari menu yang disajikan saat itu. "Saya juga tidak bisa ngeduga-duga," katanya.
Berikut sederet fakta terkait kasus ratusan siswa yang keracunan usai mengonsumsi MBG, dihimpun Tim News Liputan6.com:
1. 150 Pelajar di Garut Alami Gejala Keracunan Usai Santap MBG
Sebanyak 150 pelajar di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, mengalami gejala keracunan. 14 di antaranya dirawat di Puskesmas. Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut menurunkan tim medis untuk menangani kasus ini.
"Jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan mencapai 150 orang," kata Kepala Dinkes Kabupaten Garut Leli Yuliani kepada wartawan di Garut, Rabu 17 September 2025.
Seluruh pelajar yang mengeluhkan sakit sama pada bagian perut yang diduga sebagai gejala keracunan makanan, namun lebih jelasnya akan ditelusuri jenis makanan apa yang dikonsumsi.
Tim medis saat ini masih fokus untuk penanganan kesehatan, terutama yang parah dan harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora sebanyak 14 orang, dan sisanya rawat jalan dengan tetap mendapatkan pemantauan petugas kesehatan.
"14 orang siswa yang dirawat seluruhnya dilakukan perawatan di Puskesmas Kadungora," lanjutnya.
2. Pihak Sekolah Laporkan ke Puskesmas
Sementara itu, Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja membenarkan ada sebagian siswanya menderita sakit perut secara bersamaan, selanjutnya melaporkan keluhan siswa itu ke Puskesmas Kadungora yang langsung datang melakukan penanganan.
"Kami langsung koordinasi dengan puskesmas, alhamdulillah cepat tanggap, mereka datang ke sekolah untuk melakukan pemeriksaan, dan ada beberapa siswa yang dibawa ke puskesmas," kata Hari.
Terkait siswa tersebut sakit karena mengkonsumsi makanan program Makan Gizi Gratis (MBG), kata dia, pihaknya belum mengasumsikan pada makanan tersebut, karena saat ini masih dilakukan penelitian oleh Dinkes Garut.
Berdasarkan pengakuan siswa, kata dia, bahwa mengeluhkan sakit perut sejak Rabu dini hari, kemudian memaksakan diri pergi sekolah sampai akhirnya menjalani pemeriksaan medis oleh petugas puskesmas.
"Kita belum bisa berasumsi apakah ini memang faktornya dari MBG atau bukan karena kan sedang dalam penelitian juga," pungkasnya. Dikutip dari Antara.
3. Polisi Turun Tangan
Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto melalui Kasi Humas Ipda Adi Susilo turun tangan melakukan penyelidikan kasus keracunan siswa usai diduga menyantap makanan bergizi gratis.
Ia melaporkan, ratusan siswa itu mengonsumsi MBG yang disalurkan dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut di Desa Karangmulya. Mereka diberi makanan berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi.
Polres Garut mencatat 194 orang siswa terdampak terdiri dari 177 siswa mengalami gejala ringan dan 19 siswa menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora. Total korban yang dirawat terdiri siswa MA Maarif Cilageni sebanyak 12 orang, SMP Siti Aisyah 3 orang, SMA Siti Aisyah 1 orang, dan SDN 2 Mandalasari 3 orang.
Adi mengatakan sejumlah siswa mulai merasakan gejala mual, muntah, hingga pusing sejak Selasa (16/09/2025) sore. Kondisi tersebut berlanjut hingga Rabu (17/9/2025) sehingga puluhan siswa harus mendapatkan perawatan medis.
"Jumlah keseluruhan 19 siswa harus menjalani perawatan di Puskesmas Kadungora," kata dia, Kamis 18 September 2025.
4. Barang Bukti Dikumpulkan
Menanggap hal ini, Kepolisian kemudian melakukan langkah cepat mulai dari mendatangi lokasi kejadian, mendata korban, meminta keterangan saksi. Polisi juga mengirimkan sampel bekas makanan dan muntah ke laboratorium serta berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Kadungora.
"Kami juga melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) untuk memastikan ada atau tidaknya penambahan korban dan kami melanjutkan penyelidikan lebih mendalam untuk mengetahui faktor penyebab," katanya.
Adi mengatakan para korban masih dalam penanganan tenaga medis sementara polisi bersama dinas terkait tengah menyelidiki penyebab pasti keracunan massal tersebut. Sementara para siswa saat ini masih dalam penanganan medis.
"Masih ada yang rawat jalan dan rawat inap," katanya menutup.
5. Kondisi Terkini 600 Siswa Sudah Berangsur Sehat
kondisi enam ratusan siswa korban keracunan yang diduga setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, sudah berangsur sehat. Para siswa yang dirawat juga sudah dipulangkan.
"Kalau keseluruhan yang bergejala sekitar 600-an ya, tapi kan gejalanya ringan ya, dan alhamdulillah sekarang semuanya sudah sehat," kata Kepala Dinkes Kabupaten Garut Leli Yuliani di Garut, Senin 22 September 2025.
Siswa yang mengalami gejala keracunan itu mengeluhkan sakit, mual, pusing dan muntah-muntah, kemudian dilakukan penanganan medis secara cepat dan tepat yang akhirnya mereka dapat kembali pulih.
Setelah penanganan medis terhadap korban keracunan, selanjutnya Dinkes Garut menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan yang dikonsumsi siswa yang hasilnya diketahui sekitar lima atau tujuh hari.
"Sekarang belum, belum ada hasilnya, waktu itu kan dikirimnya hari Rabu, ya katanya sekitar 5-7 hari, besok atau lusa mudah-mudahan ya," terangnya.
6. Dapur Penyedia MBG di Garut Ditutup
Pelajar yang mengalami keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG) di Garut tembus 600 orang. Buntut peristiwa itu, dapur penyedia MBG yang membuat siswa keracunan ditutup sementara.
"Ya, dipending itu kan berarti ditutup sementara," kata Bupati Garut, Jawa Barat Abdusy Syakur Amin, kepada wartawan di Garut, Senin 22 September 2025.
Saat ini, tim laboratorium sedang melakukan uji sampel dari menu yang disajikan saat itu. Bupati belum mau bicara penyebab keracunan sampai proses uji lab selesai.
"Saya juga tidak bisa ngeduga-duga," katanya.
Pascakejadian ini, Pemkab Garut akan menjalin komunikasi lebih intensif dengan berbagai pihak agar program MBG agar berjalan aman, lancar, dan sehat.
"Yang pasti kami ingin menjamin, inilah kebutuhan pemerintah, Pak Presiden, harus berjalan dengan aman, lancar, penting, dan juga selamat dan sehat," katanya.