Sektor Saham Industri Sempat jadi Penopang, Begini Prediksi IHSG Sepekan

Berikut prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rekomendasi saham pada perdagangan Senin, (22/9/2205).

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiperbarui 22 September 2025, 10:52 WIB
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Indonesia pada perdagangan Jumat, 19 September 2025 kembali ditutup menguat, di tengah tekanan mayoritas bursa Asia yang masih melemah. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,53 persen, atau 42,68 poin ke level 8.051. Dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turut menguat 0,86 persen ke level 278,5. 

Arus dana asing menjadi pendorong utama dengan catatan aksi beli saham oleh investor asing sebesar Rp 1,41 triliun di pasar reguler dan Rp 1,46 triliun di pasar negosiasi. 

"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar domestik, khususnya pada saham sektor industri dan komoditas," ujar analis sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, Senin (22/9/2025).

Dari sisi saham, Hendra menyoroti, PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS) menjadi bintang dengan lonjakan +17,1 persen ke level 650. Disertai nilai transaksi jumbo Rp 1,1 triliun, didorong sentimen ekspansi tambang emas. 

DSSA (+4,5 persen), BBCA (+1,3 persen), ASII (+2,7 persen), dan BRPT (+3,4 persen) juga menopang penguatan indeks. Sebaliknya, saham AMMN (-5,0 persen), BMRI (-0,9 persen), BBNI (-1,6 persen), TLKM (-0,6 persen), dan GOTO (-1,8 persen) menahan laju kenaikan IHSG. 

"Secara sektoral, industri menjadi motor penggerak utama, sementara sektor properti tercatat sebagai yang paling tertekan," imbuh dia. 

Prediksi IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menguat hampir lima persen lebih tinggi pada pembukaan 10 April 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Secara teknikal, lanjut Hendra, IHSG kini berada dalam fase menguji area resistance di kisaran 8.100-8.200. 

Menurut dia, peluang penguatan lanjutan terbuka apabila level tersebut berhasil ditembus. 

"Namun, jika tekanan jual kembali muncul, support terdekat berada di 7.911–7.862 (MA20), dengan support berikutnya di MA50 sekitar 7.660. Selama indeks bertahan di atas level tersebut, tren kenaikan masih terjaga," ungkapnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Prospek Saham Potensial

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hendra turut mencermati sejumlah saham yang potensial untuk perdagangan di awal pekan ini. 

Saratoga Investama Sedaya (SRTG) direkomendasikan buy dengan target 2.090 seiring akumulasi investor. Sementara PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) berpotensi melanjutkan tren naik dengan target 6.750.

"Dari sektor media, SCMA berpeluang rebound menuju target 370. Adapun BUKA layak diperhatikan sebagai opsi speculative buy dengan target 185, setelah menunjukkan pola teknikal rebound," tutur dia.

 

 

  

Kinerja IHSG pada 15-19 September 2025

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya,  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan saham 15-19 September 2025. Kenaikan IHSG itu didorong sejumlah faktor eksternal dan internal.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (20/9/2025), IHSG sepekan naik 2,51% ke posisi 8.051,11. Pada pekan lalu, IHSG turun 0,17% ke posisi 7.854,06. Kapitalisasi pasar bertambah 3,5% ke posisi Rp 14.632 triliun dari Rp 14.130 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG menguat 2,51% dan disertai dengan munculnya volume pembelian. “Pergerakannya pun masih cenderung uptren dan membentuk all time high,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

Faktor Pendorong Kenaikan IHSG

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

IHSG naik didorong sejumlah faktor. Pertama, ada aliran dana investor asing yang masuk pada Jumat, 19 September 2025.Tercatat aksi beli saham oleh investor asing sebesar Rp 2,86 triliun.

Kedua, pemangkasan BI Rate menjadi 4,75% dari sebelumnya 5% dan Fed Rate menjadi 4,25% dari sebelumnya 4,5%. Ketiga, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 47,01% menjadi Rp 28,55 triliun dari Rp 19,42 triliun pada pekan lalu.

Peningkatan diikuti rata-rata volume transaksi harian bursa pekan ini sebesar 25,14% menjadi 42 miliar saham dari 33,56 miliar saham pada pekan lalu.

Rata-rata frekuensi transaksi harian selama pekan ini naik 4,42% menjadi 2,13 juta kali transaksi dari 2,04 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Investor asing membukukan aksi beli saham Rp 3,03 triliun pada pekan ini. Pada pekan lalu, aksi jual saham mencapai Rp 6,59 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya