Tradisi Unik di China, Teriak ke Bulan Saat Festival Pertengahan Musim Gugur

Bagaimana tradisi berteriak ke bulan bisa lahir?

oleh Indra Cahya VanleonDiterbitkan 21 September 2025, 15:09 WIB
Ilustrasi bulan purnama. (Photo by Ganapathy Kumar on Unsplash)

Liputan6.com, Beijing - Tradisi unik "screaming at the moon" atau berteriak ke bulan di China baru-baru ini viral dan jadi sorotan publik, terutama saat Festival Pertengahan Musim Gugur.

Festival ini merupakan perayaan tradisional penuh simbol budaya. Biasanya, masyarakat merayakan dengan menatap bulan, menyantap kue bulan, hingga merenungkan makna bulan yang melambangkan pertemuan kembali, kerinduan, keabadian, keindahan perempuan, serta penghormatan terhadap alam, dilansir dari SCMP, Minggu (21/9/2025).

Dalam sebuah puisi klasik China disebutkan: "Meski terpisah jarak, kita tetap bisa berbagi indahnya sinar bulan yang sama." Puisi ini menggambarkan dalamnya makna kerinduan yang ditumpahkan manusia kepada bulan.

Sejumlah tradisi rakyat seperti pemujaan bulan, mengejar bulan, hingga doa khusus untuk bulan terus diwariskan turun-temurun. Namun, di daerah pedesaan Xinye, Provinsi Henan, ada tradisi lain yang lebih unik, yakni berteriak ke bulan.

Tradisi ini berakar dari kisah seorang wanita tua yang kehilangan putranya yang berusia 17 tahun karena wajib militer. Sang anak dikirim ke Taiwan dan tak pernah kembali.

Sejak itu, setiap malam Festival Pertengahan Musim Gugur, wanita itu berdiri di bawah sinar bulan dan memanggil putranya dengan teriakan penuh kerinduan. Dari situlah, kebiasaan ini berkembang menjadi tradisi masyarakat setempat.

 

Ritual Penuh Rindu

Ilustrasi seorang nenek. (dok. pexels/kenneth tecson)

Hingga kini, pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur, para orang tua dan kakek-nenek di Xinye menaruh sajian berupa kue bulan, kesemek, dan kacang tanah di halaman rumah yang diterangi sinar bulan.

Mereka lalu menatap langit dan menyebut nama anggota keluarga yang jauh, menyampaikan doa serta rindu lewat teriakan. Pesan yang dilontarkan biasanya berisi harapan agar anak-anak yang merantau tetap sehat dan tenang.

"Jangan khawatirkan rumah saat kau di perantauan. Ayah dan ibu sehat, dan kau pun akan baik-baik saja," demikian bunyi salah satu seruan yang kerap terdengar.

Ada juga yang melantunkan bait puitis penuh doa untuk ketekunan, panen melimpah, dan kemakmuran.

"Nenek Bulan, Kakek Kuning, Ayah menenun kain, Ibu memintal benang, membuat roti putih untuk anak-anak," bunyi puisi tersebut.

Seiring banyaknya anak desa yang merantau bekerja di kota besar, tradisi ini makin bermakna dan menjadi cara orang tua menyalurkan kerinduan sekaligus dukungan emosional kepada anak-anak mereka.

Tradisi Serupa di YunnanTak hanya di Henan, tradisi memanggil bulan juga ditemukan di daerah lain. Di Kabupaten Otonom Xinping Yi dan Dai, Kota Yuxi, Provinsi Yunnan, masyarakat etnis Huayao Dai punya ritual tahunan bernama "Calling the Moon".

Tradisi ini dilakukan dua hari sebelum bulan purnama di bulan kedua kalender lunar. Mereka berdoa kepada Dewa Bulan demi turunnya hujan dan keberuntungan.

Ritual tersebut bahkan telah diakui sebagai warisan budaya takbenda tingkat provinsi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya