LPS Bawa Puluhan UMKM Batik Sukabumi dan Cianjur untuk Tampil di Paris

Rumah Batik Fractal dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama 30 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik dan ecoprint Sukabumi-Cianjur memamerkan karya di Peragaan Busana Front Row Paris, Perancis.

oleh Tim NewsDiperbarui 19 September 2025, 14:26 WIB
Batik dan ecoprint Sukabumi-Cianjur. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Rumah Batik Fractal dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama 30 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik dan ecoprint Sukabumi-Cianjur, Jawa Barat memamerkan karya di Peragaan Busana Front Row Paris, Perancis pada 6 September 2025 lalu. Mereka menampilkan sepuluh tampilan (looks) hasil kolaborasi dari 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik.

Gelaran ini menjadi puncak dari Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi berbasis digital yang diinisiasi LPS bersama perusahaan sosial Batik Fractal sejak 2023.

Rangkaian pelatihan di Sukabumi didanai oleh Program Sosial Kemasyarakatan LPS yakni 'LPS Peduli, Bakti Bagi Negeri', sementara peragaan busana di Paris diprakarsai dan didanai oleh Batik Fractal sebagai perusahaan sosial. Adapun Front Row yang telah memasuki tahun keenam merupakan inisiatif Indonesian Fashion Chamber (IFC).

"Kami melihat potensi besar dari batik di Sukabumi dan Cianjur yang mulanya hanya lahir dari tangan-tangan yang menekuninya sebagai hobi atau usaha kecil," ujar Direktur Batik Fractal Nancy Margried dalam acara 'After-Show Chat with Batik Fractal' yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Kamis (17/9/2025).

Namun, menurut dia, untuk mengembangkan potensi itu diperlukan kemauan, tekad, dan dukungan sistem yang mumpuni.

"Di titik inilah Batik Fractal hadir, bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai perancang program yang berfokus pada keberlanjutan," ucap Nancy.

Dia menjelaskan, melalui Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi–Cianjur berbasis transformasi digital, Batik Fractal dan LPS membina 30 UMKM batik sejak 2022.

"Program ini dibangun dengan kurikulum yang memiliki milestone jelas, menghadirkan pelatih berkompeten, dan yang terpenting, menuntun setiap pembatik untuk menemukan jati dirinya," terang Nancy.

Berikan Pelatihan Intensif

Rumah Batik Fractal dan LPS bersama 30 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik dan ecoprint Sukabumi-Cianjur memamerkan karya di Peragaan Busana Front Row Paris, Perancis. (Ist)

Menurut Nancy, para pembatik yang awalnya belum mampu berproduksi secara penuh ditempa melalui pelatihan intensif hingga akhirnya mampu menghasilkan karya dengan standar kelas internasional.

"Paris dipilih bukan sekadar karena gemerlapnya, melainkan karena kota ini adalah pusat mode dunia. Setiap tahun, para buyer dari seluruh penjuru datang ke Paris mencari tren yang akan menjadi arah industri fesyen global," beber dia.

Nancy menjelaskan, sejak awal program yang diinisiasi bersama Ketua LPS periode 2020–2025, Purbaya Yudhi Sadewa, itu dirancang untuk membentuk sentra baru batik di Indonesia yang mampu merambah pasar internasional.

"Itu bersama LPS, saat itu di hadapan ketuanya, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang sekarang sudah menjadi Menteri Keuangan. Kami melakukan presentasi, dan beliau sudah lama mengikuti perjalanan Batik Fractal. Atas arahan beliau, program pelatihan ini dijalankan selama tiga tahun, dari 2022 sampai 2025, dengan tujuan membentuk sentra baru batik di Indonesia," papar dia.

"Kisah ini dikawal langsung oleh Pak Purbaya, bahkan kami harus membuat laporan bulanan dan mengadakan pertemuan rutin supaya beliau bisa melihat sejauh mana progresnya. Harapan beliau sejak awal adalah agar batik dari daerah yang belum dikenal bisa langsung go internasional, dan akhirnya tercapai sesuai milestone yang sudah dirancang sejak awal," sambung Nancy.

 

Hasil Kolaborasi UMKM

Nancy mengatakan, dalam pagelaran di Paris, sepuluh koleksi busana yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik.

Menurut dia, motif-motif batik yang dihadirkan mengusung tema Whispering Forest, terinspirasi dari bentang alam Parahyangan—gunung, hutan, laut, dan budaya lokal—dengan pendekatan desain digital menggunakan perangkat lunak JBatik.

"Batik adalah software desain yang berjalan di komputer untuk mengevolusi proses desain batik menjadi digital sehingga desain bisa lebih banyak, modern, dan mempercepat waktu produksi," terang Nancy.

"Batik bukan hanya budaya, tetapi juga memiliki sisi ekonomi dan harus masuk ke pasar, mengikuti tren fesyen. Dengan teknologi ini, kita bisa mengajak lebih banyak anak muda untuk mencintai batik," sambung dia.

Nancy menilai, keikutsertaan Rumah Batik Fractal dan LPS bersama 30 UMKM di Front Row Paris menjadi tonggak penting dalam perjalanan batik Sukabumi–Cianjur.

Menurut dia, dampak paling besar setelah tampil di Paris adalah meningkatnya rasa percaya diri para peserta. Karya yang mereka tekuni di desa bisa tampil di panggung dunia—menjadi kebanggaan sekaligus portofolio berharga.

"Kedepan, tantangannya adalah menjaga momentum, melakukan follow-up dengan para buyer, dan memastikan Batik Indonesia tampil berbeda di pasar global. Hasil riset kami di Paris menunjukkan bahwa batik harus ditampilkan dalam fesyen yang modern dan avant-garde supaya bisa masuk ke pasar luar negeri," papar Nancy.

"Tahun 2025 kami fokus internasional, setelah tampil di Paris dan Osaka Expo dengan diprakarsai dan didanai oleh Batik Fractal, harapannya akan ada publikasi dan pameran internasional lainnya untuk membawa Batik Indonesia semakin dikenal," sambung dia.

 

Menampilkan DNA Fesyen Indonesia

Pada tahun ini, Nancy melanjutkan, tiap UMKM berkolaborasi dengan UMKM lain untuk menghasilkan satu koleksi kolektif yang padu. Jika UMKM fesyen menghadirkan busana, maka UMKM kriya batik menciptakan aksesori seperti scarf dan bando.

"Dengan demikian, warna, tema, dan jenis produk telah dirancang sejak awal agar saling melengkapi. Pengelompokan dan perancangan desain juga berangkat dari tren global Strive 2025/2026 yang dipadukan dengan potensi dan karakter peserta," beber dia.

"Empat tren dan subtren yang menjadi rujukan adalah: Indie Rebellion, Quiet Artistry, Neo Nostalgic, dan Artisanal Elegance. Dengan memahami tren ini, UMKM diarahkan untuk menciptakan karya yang relevan dengan pasar sehingga lebih kompetitif di industri fesyen," sambung Nancy.

"Di panggung Front Row, koleksi Rumah Batik Fractal–LPS tampil bersama enam desainer lain: Deden Siswanto, AM by Anggiasari Mawardi, FFF by Ferry Febby Fabry, Putri Anjani by Indina, Roemah Kebaya Vielga, dan NY by Novita Yunus," jelas dia.

Sementara itu, meski banyak desainer Indonesia kerap tampil di mancanegara, Advisory Board dan Project Director IFC Ali Charisma menegaskan pentingnya mengadakan peragaan busana sendiri di luar negeri.

"Busana yang dikurasi kurator luar sering kali harus di-westernisasi. Wastra Indonesia sering dianggap terlalu berat. Ada modest fashion yang akhirnya harus tampil tanpa hijab. Itu bukan lagi true fashion of Indonesia," kata Ali.

Menurut Ali yang sudah lima kali menggelar Front Row, memperlihatkan ciri khas asli fesyen Indonesia penting untuk melindungi pasar dalam negeri.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Prancis, Monako, Andorra, serta UNESCO, H.E. Mohammad Oemar, dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan atas kiprah desainer muda Indonesia.

"Paris adalah pusat mode dunia, dan kehadiran desainer Indonesia hari ini membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di panggung internasional. Fesyen bukan sekadar gaya, tetapi juga identitas dan dialog antarbangsa," ujar Dubes Oemar dalam rilis resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, Prancis.

Infografis motif-motif batik (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya